Showing posts with label Misteri / Ghaib. Show all posts
Showing posts with label Misteri / Ghaib. Show all posts

Thursday, November 3, 2016

Hukum Jin Merasuki Manusia, Jin Menguasai Manusia Dan Memerintahkan Sesuatu Yang Bertentangan Dengan Syari’at


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgoEbMSPQ4QAt6Ke2TqL-2mhrJRcg-7V3sqG9NHW2JwVDgrjm83lCU24SverV-HjcdA9at7B4v1UTtVTXgVNFhexKk9hHWoTOHHrIVdDedeEpX_lOEcDcF1IB6NkuWt8_4hMTsKTNe9UxmC/s1600/battle_with_evil.jpg

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah ada dalil bahwa jin merasuki manusia?

Jawaban
Ya, ada dalilnya dari Al-Qur’an dan Sunnah bahwa jin merasuki manusia. Dari Al-Qur’an ialah firman Allah.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat bediri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila” [Al-Baqarah : 275]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Mereka tidak bangkit dari kubur mereka pada hari Kiamat kecuali sebagaimana bangkitnya orang ketika kemasukan setan”.

Sedangkan dari Sunnah ialah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Setan mengalir pada manusia lewat aliran darah” [HR Bukhari, no. 7171, kitab Al-Ahkam, Muslim, no. 2175, kitab As-Salam]

Al-Asy’ari berkata dalam Maqalat Ahlus Sunnah wal Jama’ah, “Mereka –yakni Ahlus Sunnah- berpendapat bahwa jin masuk dalam tubuh orang yang kesurupan”. Dan, ia berargumen dengan ayat di atas.

Abdullah bin Imam Ahmad berkata, “Aku bertanya kepada ayahku, ‘Orang-orang menyangka jin tidak memasuki tubuh manusia.’ Beliau menjawab, ‘Wahai anakku, mereka berdusta. Jin itu berbicara lewat lisan manusia”.

Ada sejumlah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Al-Baihaqi, bahwa seorang anak yang telah gila didatangkan. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan (kepada jin yang merasuki anak kecil itu), “Keluarlah ! Aku adalah Rasulullah” [1]. Lalu anak itu terbebas darinya.

Anda melihat bahwa dalam masalah ini terdapat dalil dari Al-Qur’an dan dua dalil dari As-Sunnah. Ini juga merupakan pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan pendapat Salaf, serta fenomena membuktikan hal itu. Meskipun demikian, kita tidak mengingkari bahwa kegilaan itu ada sebab lainnya, seperti saraf terputus, otak rusak dan selainnya.

[Al-Fatawa Al-Ijtima’iyah, Ibnu Utsaimin, jilid 4, hal.67-68]

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4Pr03EdSJ4EtcntBAiU-LWd7Ton4ucBkWJlPDP_qhF3Cq9GnIYkDWLG6KYJt32AO_wwpCAHCjUjyholpa12kBkVVwdaa6V0J0KXsOHAOMpvPmhyphenhyphenDjLaRyaGOwNZiLUrtXKU7CVI8YPOSO/s1600/demon-jauzaa.jpg

JIN MENGUASAI MANUSIA DAN MEMERINTAHKAN YANG BERTENTANGAN DENGAN SYARIAT

Oleh
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta’

Pertanyaan
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta’ ditanya : Jin menguasai manusia dan memerintahkan mereka dengan perkara-perkara yang bertentangan dengan syari’at

Jawaban
Jin mengganggu manusia adalah perkara yang nyata. Jika jin memerintahkan kepada orang yang diganggunya untuk melakukan suatu yang haram, maka ia yang terkena ganggguan itu harus berpegang teguh dengan syari’at Allah dan tidak mematuhi perintah jin untuk bermaksiat kepada Allah dan tidak mematuhi perintah jin untuk bermaksiat kepada Allah. Jika jin itu menyakitinya, ia harus berlindung kepada Allah dari keburukannya dan membentengi dirinya dengan bacaan Al-Qur’an, Ta’awwudzat yang disyari’atkan, dan dzikir-dzikir yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam [2]

Diantaranya ruqyah dengan bacaan surah Al-Fatihah, membaca surak Al-Ikhlas dan Mu’awwidzatain, kemudian meniupkan pada kedua tangannya lalu mengusapkannya pada wajahnya dan anggota badannya yang dapat dijangkaunya. Dan, ruqyah lainnya dengan surah Al-Qur’an berikut ayat-ayatnya dan dzikir-dzikir yang shahih serta berlindung kepada Allah guna memohon kesembuhan dan terjaga dari setan dan jin dan manusia.

Merujuklah kepada kitab Al-Kalim Ath-Thayyib karya Ibnu Taimiyah, kitab Al-Wabil Ash-Shayyib karya Ibnul Qayyim, dan Al-Adzkar karya An-Nawawi. Di dalamnya terdapat penjelasan panjang lebar tentang macam-macam ruqyah. Semoga shalawat dan salam terlimpah atas Nabi kita, Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

[Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, edisi 27, hal. 75, Al-Lajnah Ad-Da’imah]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. HR. Ahmad dalam Al-Musnad, no. 1713-17098, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2/617-618 dan menilainya sebagai shahih sanadnya serta disetujui oleh Adz-Dzahabi
[2]. HR Abu Daud, no. 3886, kitab Ath-Thibb, Ahmad dalam Al-Musnad, serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 1632 As-Silsilah Ash-Shahihah.




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy , Apakah Allah memerlukan 'Arsy?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhECy_BgrJtob9I36gdo8VBLhnfDJmLlYh7ly1RvvU8Pg7bC_O_ac_r1xhShqlS2j4cTEBcIoVKy_AyAYu1pTlsarjPq6M_USoLXHtHarPilDzcLi_CiWtrJHCGmH6Xxs-_9vMJNpeggD85/s1600/Quasar+Drenched+in+Water+Vapor.bmp

Assalamu’alaikum
Kepada Administrator yth, ana tertarik dengan dialog semacam ini. Sebagai mualaf ana terus mencari karena ana ingin menemukan sesuatu, seperti disabdakan Isa As dalam Markus: “Bagi siapa saja yang mencari niscaya ia akan menemukan…”Mohon jawaban selekasnya baik melalui laman siteweb ini maupun melalui email ana iaitu mengenai ayat yang menyebutkan bahwa “…Allah bersemayam di Arsy…”, apakah maksud dari ayat ini karena ana jua berkehendak dapatlah kiranya menjawab soal dari ana punya sahabat yang masih belum berislam. Terimakasih.

Alhamdulillah pertanyaan tersebut telah dijawab oleh ustadz Anas Burhanuddin (dan sekaligus ada tambahan dari Al-Akh Abu Mushlih pada bagian akhir artikel ini). Mudah-mudahan penjelasan yang ringkas ini dapat memberi manfaat yang besar, khususnya kepada saudara Maharinjaya dengan semakin mempekokoh keislaman beliau di atas islam, sehingga merasa cukup dengan semua yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dan tidak butuh kepada yang selain itu.

***

A. Dalil Sifat Istiwa’

Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya:

“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya:

“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam juga telah menetapkan sifat ini untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya:

1. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ -فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ- إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya (Al-Lauh Al-Mahfuzh) – dan kitab itu bersama-Nya di atas ‘Arsy (singgasana) – : “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw)

3. Hadits Qatadah bin An-Nu’man rodiallahu’anhu bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

لَمَّا فَرَغَ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ.

“Ketika Allah selesai mencipta, Dia berada di atas ‘Arsy singgasana-Nya.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dan Adz-Dzahabi berkata: Para perawinya tsiqah)

B. Arti Istiwa’

Lafazh istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) dalam bahasa Arab – yang dengannya Allah menurunkan wahyu – berarti (عَلاَ وَارْتَفَعَ), yaitu berada di atas (tinggi/di ketinggian). Hal ini adalah kesepakatan salaf dan ahli bahasa. Tidak ada yang memahaminya dengan arti lain di kalangan salaf dan ahli bahasa.

Adapun ‘Arsy, secara bahasa artinya Singgasana kekuasaan. ‘Arsy adalah makhluk tertinggi. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Maka jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Al-Firdaus, karena sungguh ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya singgasana Sang Maha Pengasih, dan darinya sungai-sungai surga mengalir.” (HR. Al-Bukhari)

‘Arsy juga termasuk makhluk paling besar. Allah menyifatinya dengan ‘adhim (besar) dalam Surat An-Nahl: 26. Ibnu Abbas rodiallahu’anhu berkata:

الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ ، وَالْعَرْشُ لاَ يَقْدِرُ قَدْرَهُ إِلاَّ اللهُ تعالى.

“Kursi adalah tempat kedua kaki (Allah), dan ‘Arsy (singgasana) tidak ada yang mengetahui ukurannya selain Allah Ta’ala.” (Hadits mauquf riwayat Al-Hakim dan dishahihkan Adz-Dzahabi dan Al-Albani)

Allah juga menyifatinya dengan Karim (mulia) dalam Surat Al-Mukminun: 116 dan Majid (agung) dalam Surat Al-Buruj: 15.

Dalam suatu hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa ‘Arsy memiliki kaki, dan dalam surat Ghafir: 7 dan Al-Haaqqah: 17 disebutkan bahwa ‘Arsy dibawa oleh malaikat-malaikat Allah.

Ayat dan hadits yang menjelaskan tentang istiwa’ di atas ‘Arsy menunjukkan hal-hal berikut:

    Penetapan sifat istiwa di atas ‘Arsy bagi Allah, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.
    Bahwa Dzat Allah berada di atas.

C. Beberapa Peringatan Penting

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNjV_UeKnEaMUQR43drL6blPfM-IsK9hmIuQDlThspBARnRjB_YFhQedFlxUjpnXlEIsefgN3-lU1rYDkEeAeAO6EQewwgztiT00eOc1YD3lNBxro8rR3PzJdp6WqyyoTaFsTg006hQwA/s1600/allah.jpg

Pertama:

Istiwa’ adalah hakikat dan bukan majas. Kita bisa memahaminya dengan bahasa Arab yang dengannya wahyu diturunkan. Yang tidak kita ketahui adalah kaifiyyah (cara/bentuk) istiwa’ Allah, karena Dia tidak menjelaskannya. Ketika ditanya tentang ayat 5 Surat Thaha (الرحمن على العرش استوى), Rabi’ah bin Abdurrahman dan Malik bin Anas mengatakan:

الاِسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ، وَاْلكَيْفُ مَجْهُوْلٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ.

“Istiwa’ itu diketahui, kaifiyyahnya tidak diketahui, dan mengimaninya wajib.” (Al-Iqtishad fil I’tiqad, Al-Ghazali)

Kedua:

Wajib mengimani dan menetapkan sifat istiwa’ tanpa merubah (ta’wil/tahrif) pengertiannya, juga tanpa menyerupakan (tasybih/tamtsil) sifat ini dengan sifat istiwa’ makhluk.

Ketiga:

Menafsirkan istawa (اِسْتَوَى) dengan istawla (اِسْتَوْلَى) yang artinya menguasai adalah salah satu bentuk ta’wil yang bathil. Penafsiran ini tidak dikenal di kalangan generasi awal umat Islam, tidak juga di kalangan ahli bahasa Arab. Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan bahwa penafsiran ini pertama kali dimunculkan oleh orang-orang Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Mereka ingin menafikan sifat keberadaan Allah di atas langit dengan penafsiran ini. Kita tidak menafikan sifat kekuasaan bagi Allah, tapi bukan itu arti istiwa’.

Keempat:

Penerjemahan kata istawa (اِسْتَوَى) dengan “bersemayam” perlu di tinjau ulang, karena dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa bersemayam berarti duduk, tinggal, berkediaman. Padahal arti istawa bukanlah ini, sebagaimana telah dijelaskan.

Kelima:

Istiwa’ Allah di atas ‘Arsy tidak berarti bahwa Allah membutuhkannya, tapi justru ‘arsy yang membutuhkan Allah seperti makhluk-makhluk yang lain. Dengan hikmah-Nya Allah menciptakan ‘Arsy untuk istiwa’ diatasnya, dan Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun. Wallahu a’lam.

D. Faedah Mempelajari Asma dan Sifat Allah

Semoga Allah merahmati Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi yang berkata: “……Ilmu ushuluddin (pokok-pokok agama) adalah ilmu paling mulia, karena kemulian suatu ilmu tergantung pada apa yang dipelajarinya. Ia adalah Fiqih Akbar dibandingkan dengan Ilmu Fiqih furu’ (cabang-cabang agama). Karenanya Imam Abu Hanifah menamakan apa yang telah beliau ucapkan dan beliau kumpulkan dalam lembaran-lembaran berisi pokok-pokok agama sebagai “Al-Fiqhul Akbar“. Kebutuhan para hamba kepadanya melebihi semua kebutuhan, dan keterdesakan mereka kepadanya di atas semua keterdesakan, karena tiada kehidupan untuk hati, juga tidak ada kesenangan dan ketenangan, kecuali dengan mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, dengan Asma’, Sifat dan Af’al (perbuatan)-Nya, dan seiring dengan itu mencintaiNya lebih dari yang lain, dan berusaha mendekatkan diri kepadaNya tanpa yang lain……”

***

Referensi:

    Al-Mausu’ah Asy-Syamilah, dikeluarkan oleh Divisi Rekaman Masjid Nabawi.
    Syarah ‘Aqidah Thahawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi.
    Mudzakkirah Tauhid, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili.

Tambahan dari Al-Akh Abu Mushlih:

Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy. Di dalam ayat disebutkan Ar-Rahmaanu ‘alal ‘arsyistawaa. Secara bahasa istiwa’ itu memiliki empat makna yaitu:

    ‘ala (tinggi)
    Irtafa’a (terangkat)
    Sho’uda (naik)
    Istaqarra (menetap)

Sehingga makna Allah istiwa’ di atas ‘Arsy ialah menetap tinggi di atas ‘Arsy.

Sedangkan makna ‘Arsy secara bahasa ialah: Singgasana Raja. Adapun ‘Arsy yang dimaksud oleh ayat ialah sebuah singgasana khusus milik Allah yang memiliki pilar-pilar yang dipikul oleh para malaikat. Sebagaimana disebutkan di dalam ayat yang artinya, “Dan pada hari itu delapan malaikat memikul arsy.” Dan Allah sama sekali tidak membutuhkan ‘Arsy, tidak sebagaimana halnya seorang raja yang membutuhkan singgasananya sebagai tempat duduk.

Demikianlah yang diterangkan oleh para ulama. Satu hal yang perlu diingat pula bahwa bersemayamnya Allah tidak sama dengan bersemayamnya makhluk. Sebab Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa persis dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). Oleh sebab itu, tidak sama bersemayamnya seorang raja di atas singgasananya dengan bersemayamnya Allah di atas arsy-Nya. Inilah keyakinan yang senantiasa dipegang oleh para ulama terdahulu yang shalih serta para pengikut mereka yang setia hingga hari kiamat. Wallahu a’lam bish showaab (silakan baca kitab-kitab Syarah Aqidah Wasithiyah dan kitab-kitab aqidah lainnya).

***

Penulis: Ustadz Abu Bakr Anas Burhanuddin, Lc.



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Cara-Cara Jin Dalam Mengganggu Manusia Dan Bagaimana Kita Melindungi Diri Darinya

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4HSzUMeByqMvQPuS0surA2mUhGHQw_NP9veRPsukXOaTyebygdyh1B9pslH3WlS8LcKNE7_h_Lw_ZnlKDtx6FCWQzWJYBMYAtKgqkcT6ZxQrlS9t1GF0lMCD0XPUIIKHRJv2pluUXJw8/s1600/setan.jpg

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah jin dapat memberikan pengaruh kepada manusia, dan bagaimana cara melindungi diri dari mereka?

Jawaban
Tidak diragukan bahwa jin dapat memberikan pengaruh kepada manusia dengan gangguan yang adakalanya bisa mematikan, adakalanya mengganggu dengan lemparan batu, dengan menakut-nakuti manusia, dan hal-hal lainnya yang disahkan oleh sunnah dan ditunjukkan oleh kenyataan. Diriwayatkan secara sah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan seorang sahabatnya untuk pergi kepada keluarganya dalam suatu peperangan –yang saya kira perang Khandaq-, Ia seorang pemuda yang baru saja menikah. Ketika sampai di rumahnya, ternyata istrinya ada di depan pintu. Ia mengingkari perbuatan istrinya itu, lalu berkata kepadanya, “Masuklah!”. Ketika pemuda ini masuk, ternyata seekor ular melingkar di atas tempat tidur. Dengan tombak yang berada di tangannya, ia menikam ular tersebut dengan tombak tersebut hingga mati. Dalam waktu bersamaan –yakni pada saat ular itu mati- maka pria ini juga mati. Perawi tidak tahu, mana yang lebih dulu mati ; ular atau orang itu. Ketika berita itu sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau melarang membunuh ular yang berada di rumah kecuali ular yang ganas dan berbisa. Beliau bersabda.

إِنَّ باْلمَدِ يْنَةِ جِنَّاً قَدْ َسْلَمُوْا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئاً فَاْ ذَنُوْهُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Sesungguhnya di Madinah terdapat para jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat sesuatu dari mereka, maka izinkanlah ia selama tiga hari. Jika ia menampakkan diri kepadamu sesudah itu, maka bunuhlah. Sebab, sesungguhnya ia adalah setan” [HR Muslim, no. 2226, kitab As-Salam]

Ini dalil yang menunjukkan bahwa jin itu adakalanya menzhalimi manusia dan menggangggu mereka, sebagaimana fenomena membuktikan hal itu. Berita-berita telah mutawatir dan sangat banyak menyebutkan bahwa manusia adakalanya memasuki rumah-rumah kosong lalu dilempar dengan batu padahal manusia tidak melihat seseorangpun di dalam rumah kosong itu. Adakalanya ia mendengar suara-suara dan adakalanya mendengar desingan lembut seperti suara pohon serta sejenisnya yang membuat ketakutan dan terganggu karenanya.

Demikian pula adakalanya jin memasuki tubuh manusia, baik dengan kecintaan, untuk bermaksud mengganggunya maupun sebab-sebab lainnya. Ini diisyaratkan oleh firman-Nya.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti beridinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila” [Al-Baqarah/2 : 275]

Pada jenis ini adakalanya jin berbicara dari batin manusia itu sendiri, berbicara kepada siapa yang membacakan ayat-ayat Al-Qur’an di hadapannya, adakalanya pembaca Al-Qur’an mengabil janjinya supaya tidak kembali lagi, dan perkara-perkara lainnya yang banyak diberitakan oleh riwayat-riwayat dan tersebar di tengah-tengah manusia. Atas dasar ini maka benteng yang dapat menghalangi dari kejahatan jin ialah seseorang membaca apa yang direkomendasikan oleh Sunnah yang dapat membentengi diri dari mereka, semisal ayat Kursi. Sebab, jika seseorang membaca ayat Kursi, pada suatu malam, maka ia senantiasa mendapat penjagaan dari Allah dan setan tidak mendekatinya hingga Shubuh. Dan, Allah adalah Maha Pemelihara.

[Fatawa Al-Ilaj Bi Al-Qur’an wa As-Sunnah ar-Ruqa Wama Yata’allaqu Biha, hal. 65-66]

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSlXqX5pBfZ82Eojwk7VWrHCX5T5KbAbJvbktzZNQFsfKMVfa14HCB90bLMrp8w8GmaqpRa9DBYez2VuR_b1g2NqLxFRBbf7gInRa5D6gAkJSMf5tSW3WD-1FasrsbQuEBwTkrZMD7rPM/s400/pemandangan+malam.jpg

TIDAK MUNGKIN MANUSIA BIASA BISA MELIHAT JIN

Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Apakah mungkin jin menampakkan diri kepada manusia dalam aslinya?

Jawaban
Itu tidak mungkin untuk manusia biasa. Sebab jin adalah ruh tanpa jasad. Ruh mereka sangat lembut yang dapat terbakar oleh pandangan mata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka” [Al-A’raf : 27]

Sebagaimana halnya kita tidak melihat para malaikat yang menyertai kita yang mencatat amal, dan kita tidak melihat setan yang mengalir dalam tubuh manusia pada aliran darah. Tetapi jika Allah memberi keistimewaan kepada seseorang dengan keistimewaan kenabian, maka ia dapat melihat malaikat. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Jibril, ketika turun kepadanya, sedangkan manusia di sekitarnya tidak melihatnya.

Adapun dukun dan sejenisnya maka jin adakalanya menyamar menjadi salah seorang dari mereka, kemudian sebagian jin memperlihatkannya, dengan mengatakan, “Jin telah datang kepada fulan”. Jadi bukan manusia yang melihatnya, melainkan jin yang menyamar kepadanya itulah yang melihatnya dan mengabarkan siapa yang berada di sekitarnya.

[Fatwa Syaikh Abdullah bin Jibrin yang beliau tanda tangani]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Di Dalam Kubur Jenazah Dicabik Malaikat, Ini Dia Penyebabnya


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj8VfbSTAM62axfb9-x8GpHAbVx0HgZMB4qnEScZpqdzBYp2BStthiTpsr7vS4VWin2D5246l7X0kKvwY4HMKVwcT6OpwE7XOlVPmc13KLNcx4I-yN6-VYjKkeTDP47zMq6QOKn_0zeaW4/s1600/siksa-kubur.JPG

ADA berbagai macam siksaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala siapkan bagi orang-orang yang melakukan kesalahan dan tidak mengakui kesalahan serta memperbaikinya. Dan siksaan itu disesuaikan dengan perilaku buruknya di dunia.

Salah satu siksaan yang akan diperoleh oleh jenazah pendosa adalah dicabik oleh malaikat. Lantas, dosa apa yang membuatnya dicabik? Hal ini dapat kita ketahui dari kisah yang diceritakan oleh Umat bin Abdul Aziz. Seperti apa kisahnya?

Suatu saat, Umar sedang mengurusi salah seorang jenazah kerabatnya yang bernama Fatih. Ia ikut memandikan, mengkafani, dan menshalatinya. Ia juga ikut dalam membawa jenazah menuju pemakaman umum.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke pemakaman itu, jenazah itu pun segera dimakamkan dan kemudian orang yang melayat pun meninggalkan kuburnya. Begitu juga dengan Umar yang meninggalkan makam itu. Beberapa langkah ia menjauh dari pemakaman, ia pun mendengar suara dari dalam makam yang baru diurusnya itu. Ia mengira bahwa suara itu adalah suara malaikat yang melaksanakan tugasnya di alam kubur. Ternyata inilah permulaan siksa kubur dalam Islam.

Suara itu mengatakan kepada Umar, maukah ia memberitahu apa yang telah diperbuat suara itu dengan orang yang dicintainya itu. Tentu saja Umar ingin mengetahui apa yang terjadi. Suara itu semakin keras dalam menjelaskan, ia telah membakar kain kafannya, dirobeklah seluruh badannya dan disedot darahnya serta dikunyah daging jenazah itu.

Lalu suara itu kembali bertanya kepada Umar, maukah ia tahu apa yang diperbuat malaikat kepada anggota badan si jenazah. Umar pun semakin penasaran apa yang terjadi dengan anggota badan si jenazah. Suara itu menjelaskan bahwa malaikat telah mencabut dagingnya satu persatu dari kedua telapak tangannya. Kemudian dari tangan ke lengan, dari lengan ke pundak. Serta dicabutlah lutut dari betisnya dan betis ke telapak kakinya. Suara itu terdengar sungguh menyeramkan.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgheMs3y9acCRYIPqSANKIpIYZBfORhe5X5TLGlP36OsivmmwxeChb15LLZeYZRIVSpj8sPTPsYRVpvWXvSzkVid9K3Z3AUzhnw3H_sea6nBfe9W7s8aaRZRyxcJu170Kw8hrEeYIJNCMs/s1600/alam+kubur.jpg

Setelah itu, Umar yang bertanya, apa yang dilakukan si jenazah hingga ia mendapatkan siksa kubur yang begitu pedih. Dijelaskanlah bahwa sebenarnya hanya sedikit. Kemuliaan yang ada di dalam jenazah itu adalah kehinaan. Pemuda ini telah larut dalam kenikmatan dunia yang semu sampai-sampai melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia telah lalai dengan kewajibannya, shalat.

Begitu mendengar semua itu, Umar pun menangis. Ia kemudian merenung dan menghimbau pada orang-orang yang masih hidup untuk meningkatkan ibadahnya pada Allah, baik secara kuantitasnya maupun kualitasnya. Beberapa ibadah yang harus kita lakukan adalah melaksanakan shalat, berpuasa, zakat, dan masih banyak lagi.

Setelah itu, Umar menjadi semakin rajin dalam mengingatkan sesama umat Islam mengenai siksa kubur setelah pemakaman dan hakikat kesenangan dunia yang seringkali menipu kita dan menjauhkan diri pada Allah. Dalam salah satu dakwahnya, Umar menjelaskan bahwa celakalah mereka yang tertipu oleh kenikmatan dunia, di alam kubur tidak akan ada siang atau malam, tertutup kesempatan untuknya beramal. Mereka juga akan terpisah dari kekasih, keluarga, istri yang dinikahi, anaknya dan orang-orang lainnya. Sedangkan kerabatnya sibuk dengan membagi-bagi rumah dan harta warisannya. Karena itulah mari kita bersama meningkatkan ibadah kita pada Allah.

Berdasarkan kisah nyata siksa kubur di atas, kita diingatkan bahwa kenikmatan atau kesenangan di dunia hanyalah semu dan tidak akan bertahan abadi. Bahkan, jika kita tidak memiki keimanan yang teguh dan ketakwaan yang kuat maka sangat mudah untuk kita terjerumus ke dalam kenikmatan dunia hingga melalaikan kewajiban kita sebagai hamba-Nya. Oleh karena itu, ingatlah bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di akhirat. Sehingga kita harus senantiasa berusaha menujunya untuk menghindari bernasib seperti jenazah dicabik malaikat tadi.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ini Ayat-ayat Ruqyah Penghancur Ilmu Sihir dan Guna-guna

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiT7wKUKDP-1rbveOSz3DlptCbcephvbl_5F2U7mqzSqDK6QY_OtabkLAhkMij0pfjMX57lzrEWXCSjpIt_3wvosHqwGui-rhEyXTgU_FfIeInPzZriU6yj_lRtxVqxFvDySZpRk4eho2U/s1600/al+quran+in+word.jpg

MESKI zaman sudah modern, tapi masih saja ada orang yang menggunakan sihir, teluh dan semacamnya. Untuk itu kita harus membentengi diri kita dan keluarga agar tidak mendapat dampak dari hal-hal negative tersebut.

Banyak ayat-ayat Allah yang dapat digunakan sebagai ayat ruqyah untuk melawan sihir, pelet dan lain-lain. Baik sihir berupa pelet, santet, teluh, dan lain sebagainya, in syaa Allah bisa hancur dengan ayat-ayatNya. Tinggal kita menguatkan hati untuk terus meruqyah diri sendiri, dan meminta pertolongan Allah melalui sabar dan shalat.

Ayat yang dapat digunakan untuk menghancurkan sihir:

1. Al Baqarah ayat 102
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”

2. Al A’raaf ayat 117-122:
“Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.

Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.

Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.

Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud.

Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,
“(yaitu) Tuhan Musa dan Harun”.”

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-J-tUtuno1RvVxJr8hbJw-JdlEZLfTt2cU1Y8OLbsihakDxfuYSNHlxrjQubdbu390VoR23TbptyhhmgFWfvtV9xS1aHl4vNhnMljb6zeISQKwEp5bB7bF8afPnrdhEl5yTbmfYiMN2KA/s1600/Download+Gratis+MP3+Audio+Al-Quran+Full_lagu_agunkzscreamo.blogspot.com_download.jpg

3. Yunus 81-82:
“Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan.

Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).Nabi”

4. Thaha ayat 69:
“Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat.

“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.”

Reaksi orang yang terkena sihir atau ada gangguan jin jika dibacakan ayat-ayat ini akan terdapat tanda-tanda khsusnya, yaitu ada yang terasa menjalar di tubuh, bergetar atau kesemutan di ujung-ujung badan/ persendian, atau sakit kepala yang amat sangat, atau sesak nafas ketika dibacakan ayat-ayat ruqyah.

Lebih baik lagi jika siapkan air minum, bacakan Al Fatihah, Ayat kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas, tiupkan dalam air dan niatkan menjadi air ruqyah, minumkan pada pasien yang terkena sihir.

Lakukan hal yang sama dengan air mandi, campurkan tujuh helai daun bidara yang ditumbuk halus bersama sedikit garam. Bacakan ayat ruqyah penghancur sihir tersebut. Pergunakan setiap kali mandi.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Tuesday, November 1, 2016

Jika 4 Hal Ini Telah Terjadi, Tandanya Kiamat Sebentar Lagi akan Datang


http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1042123/big/097889700_1446538787-global__warming_4.jpg

YAWM al-Qiyāmah (Arab: يوم القيامة‎) adalah “Hari Kebangkitan” seluruh umat manusia dari Adam hingga manusia terakhir. Ajaran ini diyakini oleh umat Islam, Kristen dan Yahudi. Al-Qiyāmah juga nama dari salah satu ayat ke 75 di dalam kitab suci Al-Qur’an.

Kalimat kiamat di dalam bahasa Indonesia adalah hari kehancuran dunia, kata ini diserap dari bahasa Arab “Yaum al Qiyamah”, yang arti sebenarnya adalah hari kebangkitan umat.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2S1APQ5K0hVadn9W20OO5LXJXl2phyphenhyphenYYRDprDvxkMCSfx4NBaXh874C2XZqPYtxsJfA9jVhuthl9ODinWk8VBuBDxpsmJ4L7qtZuohotnrCuxin1BxLkb8DKuZAGjztsuVMQBM00lvYki/w1200-h630-p-nu/kiamat.jpg

Sedangkan hari kiamat (kehancuran alam semesta beserta isinya) dalam bahasa Arab adalah “As-Saa’ah”. Dan Rasullulah memberikan gambaran mengenai tanda-tanda datangnya kiamat.

HR. Bukhari no: 80

إن من أشراط الساعة : أن يرفع العلم ويثبت الجهل ، ويشرب الخمر ، ويظهر الزنا

“Tanda-tanda datangnya kiamat di antaranya: ilmu agama mulai hilang, dan kebodohan terhadap agama merajalela, banyak orang minum khamr, dan banyak orang yang berzina terang-terangan”.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Monday, October 31, 2016

Ketika Kiamat Terjadi, 7 Ciptaan Allah Ini Tidak Akan Hancur


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvXRTQ5KIfQ06IbP-A8RsRlxeaMx7Br7z6_mPZyaefcLvcsFO7N5MYAOEKPKtW0Hlqu782dTTPM62vU2vZUI6lhLQVLKXfWL-qlYy1HCmL6wdnzoSMa0_Qx4CahLsj0MMwQWI1ZN6LIJM/s1600/kiamat.jpg

KETIKA kiamat terjadi, kita mengetahui bahwasanya semuanya akan binasa dan mengalami kehancuran. Tak aka nada satu makhluk pun yang mampu bertahan hidup. Alam semesta juga ikut hancur. Bahkan, malaikat Israfil, malaikat peniup sangkakala juga mengalami kematian.

Meski kita tahu bahwa semuanya akan hancur, ternyata ada pula hal-hal yang tidak akan hancur. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesuatu yang tidak akan binasa meski kedahsyatan suatu kebinasaan terjadi. Lantas, apa saja yang tidak akan hancur di hari kiamat?

1. Surga dan Neraka
Jika sangkakala ditiupkan, ternyata ada yang tidak hancur, yakni Surga dan Neraka. Dalam hal ini Allah telah menyatakan kekekalan surga dan neraka dalam banyak ayat. Salah satunya dalam QS. Huud, 106-108, “Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”

Maksud dari ayat tersebut ialah tersirat bahwa surga dan neraka itu adalah kekal, tidak akan binasa serta tidak akan ditetapkan kematian kepada keduanya

2. ‘Arsy atau Singgasana Allah
Selanjutnya yang tidak akan hancur adalah Arsy Allah SWT. Dimana Arsy ini adalah singgasana Allah. Hal ini diungkapkan dalam firman-Nya, “Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini (surga) kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.’ Dan engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; lalu diberikan keputusan di antara mereka (hamba-hamba Allah) secara adil dan dikatakan, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam’,” (QS. Az-Zumar, 74-75).

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnZHw2osuQU1ToUPR0Q_nSbkxCq8BvOimpOruxKgE3HtIGI1QDy8oJywA-XQV12UqdU2qAWVZ3DWJ7PjDrMy51y5P307kbTO7RDGfsmIvBCDquStNQbRgBhO7CYttjsHxIKfPm41M9yBh7/s1600/ilustrasi-kiamat_thumb%255B1%255D.jpg

3. Kursi Milik Allah
Selain singgasana Allah, ada pula kursi milik Allah. Seperti apa kursi Allah? Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang,” (HR. Ibnu Hiban, No.361, Shahih). Sesungguhnya kursi Allah tidak akan hancur sebagaimana halnya ‘Arsy berdasarkan ulama.

4. Lauh Mahfuzh
Jika singgasana Allah yaitu Arsy tidak akan hancur, maka sama halnya dengan Lauh Mahfuzh. Dimana ini adalah kitab tempat Allah untuk menuliskan segala catatan alam semesta. Adapun nama lain Lauh Mahfuzh dalam Al-Qur’an yaitu Ummu Al-Kitab, sebagaimana yang telah dikatakan Allah, “Tiada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi, melainkan terdapat dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh),” (QS. An-Naml: 75). Maka dari itu Lauh Mahfuzh pun tidak akan hancur berdasarkan Ij’ma ulama

5. Qalam atau Pena
Qalam atau pena ternyata juga termasuk ciptaan Allah yang tidak akan hancur ketika sangkakala ditiupkan. Menurut beberapa ulama, Qalam atau pena merupakan makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah. sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Kemudian Al-Qalam berkata, ‘Wahai Rabb ku, apa yang akan aku tulis?’ Kemudian Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai datang hari kiamat’,” (HR. Abu Dawud, shahih).

6. Tulang Ekor
Selain itu, meskipun tiupan sangkakala itu dapat menghancurkan manusia, tapi ternyata sangkakala tidak bisa menghancurkan tulang ekor manusia. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tiada bagian dari tubuh manusia kecuali akan hancur (dimakan tanah), kecuali satu tulang yaitu tulang ekor, darinya manusia dirakit kembali pada hari kiamat,” (HR. Bukhari, No.4953).

7. Ruh
Dan yang terakhir adalah ruh. Ruh ini tidak akan hancur atau binasa saat sangkakala ditiupkan. Karena makhluk yang binasa di saat itu akan dicabut ruhnya dan meninggal dan kemudian ruh ini dikembalikan ke jasadnya di saat hari kebangkitan. Hal ini disepakati ulama bahwa ruh tidak akan hancur. Wallahu ‘alam.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Apabila Matahari Digulung dan Apabila Bintang-bintang Berjatuhan


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjN872UjEnh8LeP5IZHWsSl8WD0Jcvd-7mdJFOYe8xL34KAeiXxmsMi4ylZr6QHciLuuABjgF7ogD5QtVn77dYJkjFVNw_TSIm1HO_p9LlFOTyKGnMqBR7AOGDZqNtLJ-CBD8KKCKVqcqxV/s1600/2314326F6AM7Kci.jpg

APABILA matahari digulung. Ya, itu adalah arti ayat 1 surat At-Takwir. Jika kita mendengar kalimat ‘apabila matahari digulung’ apa yang terpintas dalam benak kita?

Pasti, itulah hari kiamat. Hari dimana tidak ada satu makhluk pun yang bisa lolos dari hari kehancuran dunia. Hari dimana terakhir kalinya matahari bersahabat dengan kita. Bola bulat besar yang memancarkan cahaya itu akan hancur sehancur-hancurnya di akhir zaman kelak.

Ungkapan “kuwwirat” menurut Imam Al-Alusi, kata ini diambil dari asal kata “kara” yang berarti melipat kain menjadi surban di kepala. Pada masyarakat Arab, memakai surban (imamah) adalah tradisi yang telah berlangsung ribuan tahun. Untuk menunjukkan betapa mudahnya menggulung matahari bagi Allah, maka Allah memberi perumpamaan sebagaimana mudahnya orang-orang Arab menggulung kain menjadi surban.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgd63vRTFX0EQZcpZBQeir5WsZsdip1ZVF_IcasZ9P-DtM1-VD7wMSKgn4Q5QjEnJqML4xrv_zEXYINlzuGzFHZn3r6yZ08qNw8GJgozi7zUZCBfn9VoM7FS4qpq8ab8jO3EerxDDv6Yw/s1600/langit3.jpg

Dan apabila bintang-bintang berjatuhan.

Arti surat At-Takwir ayat 2. Diriwayatkan dari Abu Shaleh dari Ibn Abbas berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Pada hari (kiamat) itu, tidak tersisa di langit satu bintang pun kecuali seluruhnya berjatuhan ke atas bumi. Hingga, lapisan bumi ketujuh terbawa ke atas dan menimpa yang di atasnya.”
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Sunday, October 30, 2016

Kisah Yang Ramai Dibicarakan Tentang Dosen Gaib di UAD Yogyakarta, Hoax apa Bukan?


https://usimages.detik.com/community/media/visual/2016/10/24/803401ba-8088-4e02-8a1c-ed5865253c12.jpg?w=780&q=90

BELAKANGAN ini beredar sebuah pesan berantai yang cukup horor tentang keberadaan dosen gaib di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Meski kisah mistis ini bisa bikin merinding, namun justru cukup menghibur bagi para penyuka kisah-kisah menyeramkan. Pihak UAD sendiri telah membantah kebenaran hal tersebut.

Cerita mistis ini diawali ketika seorang dosen yang biasa mengajar salah satu mata kuliah di UAD mendadak meminta kelasnya dipindah jadwal menjadi pukul 17.30 WIB atau menjelang maghrib. Tanpa rasa curiga Mahasiswa pun datang tepat masuk kelas pada waktu yang sudah disepekati. Sang Dosen pengisi mata kuliah pun hadir tepat waktu. Ketika dalam kelas, suasana terasa hening, dan tak satu pun yang berkata apa-apa.

Saat pelajaran berlangsung, mendadak ketua kelas menerima SMS dari dosen mata kuliah tersebut yang berbunyi bahwa ia tak dapat mengisi kelas karena saat itu karena ada halangan. Ketua kelas yang membaca sms tersebut jelas saja terkejut, lalu siapa pria yang sedang berdiri di depan kelas itu?

Dengan rasa penasaran, ketua kelas yang mulai gemetar itu sengaja menjatuhkan bolpoinnya. Ia kemudian menunduk untuk berpura-pura mengambil bolpin sambil melirik bagian kaki sang dosen. Ternyata kaki sang dosen mengawang, alias tidak menjejak lantai.

“Terus ketua nibakke bolpoin, eh ternyata nggandul meen, ga ono kakik’e.” Demikian salah satu penggalan isi pesan berantai tersebut.

 http://images.harianjogja.com/2016/10/beredar-kisah-dosen-hantu-mengajar-di-uad-begini-penampakannya.jpg

Ketua kelas lantas berinisiatif mengirim pesan lewat grup Line ke semua rekan satu kelasnya. Ia menghimbau semua rekannya untuk keluar kelas satu persatu, tanpa boleh ribut atau teriak, dimulai dari baris kursi yang belakang.

Rekan-rekannya pun keluar satu per satu hingga akhirnya tinggal sang ketua kelas yang terakhir keluar.

Kata-kata penutup pesan berantai tersebut berbunyi, “Ngerti-ngerti dosen goib nyeraki karo ngomong ‘kamu udah tau saya?’ ketua langsung jerit, akhire UAD selama 3 hari diliburke,” yang artinya, tiba-tiba dosen itu mendekati si ketua kelas sembari bertanya ‘kamu sudah tahu saya? Ketua yang menjadi terakhir berada di kelas itu pun sontak berteriak.

Kepala Humas UAD Yogyakarta Hadi Suyono, mewakili pihak UAD, Senin (24/10/2016) mengklarifikasi kebenaran pesan berantai tersebut.

“Itu saya pastikan hoax. Itu hanya euforia orang-orang dan beberapa web agar laris saja dengan membagikan pesan itu,” tutupnya seperti dilansir laman detikcom.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Friday, October 28, 2016

Bangsa Jin Tampakkan Diri, Ini Dia Alasannya

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZVpb9Wwv2Z_6pw3DaIxs_ZE0h4pIMktgVMBsNUjkn-xCNIgBJoKAJvzAsIG-FXXDnla2FhXW9akA97Vqbacp8XaTO-SSoW2v1sDe9O8btpJ6NYqElQ99ePdIRjC6U3TD0v5LAJ6345B4/s1600/dunia+jin+setan+mahluk+gaib+hantu.jpg

JIN adalah makhluk tak kasat mata. Kita tak akan bisa melihat mereka, karena berada di alam yang berbeda dengan kita. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melihatnya. Meski begitu, terkadang jin menampakkan dirinya, hingga kita bisa melihatnya. Tapi, apa ya alasan jin menampakkan diri?

1. Merasa Terancam dan Terganggu
Adapun alasan pertama adalah mereka merasa terganggu. Biasanya mereka menunjukkan eksistensi mereka dengan berbagai cara. Di antaranya, menakut-nakuti orang dan menciptakan fenomena yang menyeramkan, agar manusia ketakutan. Bahkan mereka pun tak segan menyerang manusia dengan berbagai cara. Misalnya: membuat orang kesurupan. Tindakan ini merupakan bentuk protes makhluk halus kepada manusia jika mereka merasa terganggu dengan kehadiran manusia di wilayahnya.

2. Ingin Mengabdi pada Manusia
Makhluk halus bisa menampakkan diri dalam wujud manusia pada umumnya, dikarenakan dia ingin mengabdikan dirinya kepada manusia. Di mana, pengabdian itu bisa meliputi, ingin membantu atau menolong seseorang, ingin menjadi murid dari seorang ulama atau kyai. Jin yang satu ini tergolong baik hati atau lebih dikenal sebagai Jin Muslim.

3. Jatuh Cinta pada Manusia
Jin adalah makhluk yang memiliki rasa seperti manusia pada umumnya, bahkan ada yang merasa kesepian dan jatuh hati kepada manusia. Dengan kata lain, jin tersebut naksir kepada manusia. Sehingga, terkadang mereka berubah wujud menjadi wanita cantik untuk menggoda manusia.

4. Dipanggil Oleh Manusia
Biasanya jin menampakkan diri karena dia dimintai tolong oleh seseorang, bisa dukun atau paranormal atau kepada seseorang yang ingin belajar ilmu supranatural. Mereka biasanya menampakkan diri mereka karena suatu alasan dan dengan syarat-syarat tertentu.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwWw3lAgLu5cUmFiW3ppZ1jMhlE0ERaR4qHrd7Hdg6XF34vq0Hm-e04u0Kqqiz2eoPnhvDZsrTsbFxBkH3OAL4Us_nxeRVDM8lRmQSJpT06mad5z7kyjxk-b7K0obuvCHA_UOQt0WdZv4/s1600/seicom_forest.jpg

5. Jin yang Kepergok
Jin yang kepergok tergolong hantu apes, karena keberadaan mereka terlihat dan tertangkap oleh mata telanjang manusia. Dan oleh karena alasan itulah, makhluk tersebut akan mendapat hukuman dari penguasa mereka.

Adapun alasan lain adalah manusia sengaja memasang kamera tersembunyi atau jebakan di tempat biasa mereka berada atau tempat-tempat yang dianggap angker pada malam hari. Atau juga tak sengaja tertangkap oleh kamera saat manusia sedang memotret-motret tempat mereka tinggal.

6. Jin Iseng atau Usil
Tidak hanya di alam manusia saja terdapat orang-orang iseng dan usil. Di dunia ghaib pun banyak dijumpai makhluk-makhluk yang seperti ini. Faktor utama kenapa jin tersebut suka iseng dan usil adalah faktor pengangguran yang dialami jin tersebut. Karena faktor itulah seringkali kita jumpai hantu-hantu yang iseng dengan menakut-nakuti manusia sampai manusia tersebut lari ketakutan, dan mereka akan tertawa terbahak-bahak. Jin jenis inilah yang disebut jin kurang kerjaan.

Itulah beberapa alasan yang katanya membuat jin akan menampakkan diri. Tapi, benarkah jin menampakkan diri karena alasan tersebut? Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jin itu sendiri yang mengetahuinya. Sedang, kita hanya perlu meyakini bahwa keberadaan mereka benarlah ada. Dan ketika kita melihatnya menampakkan diri, jangalah merasa takut. Sebab, kita memiliki derajat yang lebih tinggi daripada mereka. Wallahu ‘alam. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ketika Akan Mencabut Nyawa, Malaikat Maut Heran dengan Orang Ini


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdAUwZJbYnbBqzjfTRgr05A9vzf-guQlqlSifIt4YixNYJYtbAHvG8DfPdwivQSJ-IkxEZf-qlcA5MLXw-qvkbAMPqjU8cSsYJwPaiwsaueb77jgWur-1oYigecozBPN50WEzxRZWQa64/s1600/fb_maut-copy.jpg

KEMATIAN pasti akan mendatangi setiap makhluk yang bernyawa, termasuk manusia. Hanya saja, waktu terjadinya tidak pernah kita ketahui. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang menentukannya. Bahkan, tempat terakhir yang kita singgahi pun menjadi suatu misteri bagi kita.

Sebagaimana, hal ini pernah terjadi di masa Nabi Sulaiman Alaihis Salam. Di mana, ada seseorang yang tak tahu bahwa ternyata ia akan wafat di negeri India, tempat yang cukup jauh dari negerinya.

Dikisahkan dalam fimadani.com bahwa Dr. Aidh Al-Qarniy dalam salah satu tulisannya pernah mengutip sebuah cerita yang terjadi pada zaman Nabi Sulaiman Alaihis Salam. Diceriatakan bahwa Nabi Sulaiman sedang berkumpul dengan para pengikutnya. Namun ada salah satu pengikutnya yang merasa tidak nyaman duduk berkumpul, karena ada seseorang yang tepat duduk di samping Nabi Sulaiman terus melototinya.

Kemudian dengan gelisah ia bertanya kepada Nabi Sulaiman, “Siapakah gerangan orang tersebut yang sangat tajam melotot kepadaku itu?” Nabi Sulaiman menjawab, “Ia adalah Malaikat Maut yang menyamar sebagai manusia.” Mendengar jawaban tersebut, pengikut tersebut kaget dan ketakutan, menyangka bahwa ajal akan tiba.

Kemudian ia berkata kepada Nabi Sulaiman, “Wahai Nabi! Mintalah kepada Allah agar memindahkan aku dengan angin-Nya ke tempat yang sangat jauh!” Kemudian nabi berdo’a maka hilanglah pengikut tersebut. Dalam suatu riwayat ia diterbangkan oleh angin ke negeri India.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqfOeQIVJmW-Mi0HwhwjqVmhc-ERjucytmXU_Pm8Xtz01dUatnPZSfdSV09LrnaFUUCEDeD3AVgLqEg0q4DO1yQGDH7EyUPlFuXPPsvqgj_hh_lmxbRFCQS0LuL2u63azTc2i7Yj-0az7k/s320/gambar+awan+mirip+malaikat.png

Tak lama setelah itu, Nabi Sulaiman bertanya kepada malaikat Maut tersebut, “Kenapa kamu melototi orang tersebut seperti itu?” Kemudian ia menjawab, “Aku heran wahai Nabi. Aku mendapat perintah dari Allah untuk mencabut nyawa orang ini siang nanti di negeri India, tapi mengapa pagi ini ia masih berada di sini?”

Kematian adalah suatu misteri yang tidak ada seorang pun tahu kapan, dimana dan bagaimana ia meninggalkan dunia ini. Hal ini terbukti dari kisah tersebut yang menceritakan bahwa seseorang yang kini berada di suatu tempat, ternyata ketika ajalnya tiba, ia berada di tempat yang berbeda. Dan bagi Allah, memindahkan manusia dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan wkatu singkat adalah suatu perkara yang mudah.

Maka, seyogyanya kita sebagai seorang muslim yang tak punya daya apa-apa untuk selalu memohon kepada Allah agar kita diwafatkan dalam keadaan yang khusnul khotimah. Tentunya, untuk bisa meraih itu, kita harus berusaha. Bagaimana caranya? Lakukanlah apa yang Allah perintahkan dan jauhi segala perkara yang Allah larang. Wallahu ‘alam.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Wednesday, October 26, 2016

Mengobati Sihir Dengan Sihir, Bagaimana Hukumnya?


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCVJSFKHvfLBhkUvR1OzhmkgQ9JPKN1keumLVBqW6YREXfbjnv2pnYaSd0tQEGQnntF5jCeIAb6iX4KPToKmvoiG2gv1SN5QFYJD59d-gEDcpN34SOJi3QQ7FjHqRrt0tcwbdEIZc9ZCw/s1600/sihirguslinpustaka.jpg

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Dalam Islam dilarang mengobati sihir dengan sihir atau dengan mendatangi dukun, karena dukun hanyalah mengusir syaithan sihir dengan syaithan sihir yang lain. Maka, ibarat mengusir maling dengan meminta bantuan perampok atau penjarah.

Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H) rahimahullah berkata: “Nusyrah adalah membuka sihir dari orang yang terkena sihir, dan hampir tidak ada orang yang mampu melakukannya kecuali oleh orang yang mengetahui sihir.” [1]

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang nusyrah, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

هُوَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ.

‘Nusyrah itu termasuk perbuatan syaithan.’” [2]

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (wafat th. 751 H) rahimahullah menjelaskan: “Nusyrah adalah penyembuhan terhadap seseorang yang terkena sihir. Caranya ada dua macam:

Pertama: Dengan menggunakan sihir pula, dan inilah yang termasuk perbuatan syaithan.

Kedua: Penyembuhan dengan menggunakan ruqyah, ayat-ayat ta’awwudz (perlindungan), obat-obatan, dan do’a-do’a yang diperkenankan. Cara ini hukumnya jaiz (boleh).” [3]

Para ulama telah sepakat untuk membolehkan ruqyah dengan tiga syarat, yaitu:
1. Ruqyah itu dengan menggunakan firman Allah Azza wa jalla atau Asma’ dan Sifat-Nya atau sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Ruqyah itu harus diucapkan dalam bahasa Arab, diucapkan dengan makna yang jelas dan dapat difahami maknanya.
3. Harus diyakini bahwa bukanlah zat ruqyah itu sendiri yang memberikan pengaruh, tetapi yang memberikan pengaruh itu adalah kekuasaan Allah Azza wa Jalla, sedangkan ruqyah hanya merupakan salah satu sebab saja. [4]

Apabila seseorang terkena sihir, santet, guna-guna, kesurupan jin dan lainnya, maka hendaklah ia berikhtiyar sesuai dengan syari’at dan mencari obatnya dengan usaha yang maksimal. Dalam usaha seorang hamba untuk mengobati penyakit yang diderita, haruslah memperhatikan dua hal:

Pertama, bahwa obat dan dokter hanya sarana kesembuhan sedangkan yang benar-benar menyembuhkan adalah Allah Azza wa Jalla.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengisahkan Nabi Ibrahim Alaihissallam:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku.” [Asy-Syu’araa’: 80]

Kedua, ikhtiyar tersebut tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang haram dan syirik. Di antara yang haram ini seperti berobat dengan menggunakan obat yang terlarang atau barang-barang yang haram, karena Allah tidak mengijinkan penyembuhan dari barang yang haram.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ، فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ.

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan janganlah berobat dengan yang haram.” [5]

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqPJCN4ujonKq3pzcjZ9_y0y1E68ltlws89B2QFlzQ-xS3oWDfpKIM4fvY3JwbxNOLuBYpRLIPwBMDb9FpfE6W4akvHnNcOMj7ZAsZjgKCyywbyCb6VIBuZIIU53kkcRni7zphlF8cg6o/s1600/cara+mengbati+santet.jpg

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِيْمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ.

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan penyakit kalian pada apa-apa yang diharamkan atas kalian.” [6]

Langkah yang ditempuh oleh orang yang terkena sihir, guna-guna, santet dan lainnya hendaklah ia berobat dengan pengobatan syar’i dengan cara memakan 7 butir kurma ‘Ajwah (kurma Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) setiap pagi, minum habbatus sauda’ (jintan hitam), dibekam, dan diruqyah (dibacakan ayat-ayat Al-Qur-an dan do’a-do’a dari Sunnah Rasulullah (yang shahih), insya Allah, akan sembuh dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. [7]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lihat Fat-hul Majiid Syarah Kitaabit Tauhiid (hal. 341) tahqiq Dr. al-Walid bin ‘Abdurrahman bin Muhammad al-Furaiyan.
[2]. HR. Ahmad (III/294), Abu Dawud (no. 3868), al-Baihaqy (IX/351), al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Sanadnya hasan.” Lihat Fat-hul Baari (X/233), disha-hihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Misykaatul Mashaabiih (no. 4553).
[3]. Lihat Fat-hul Majiid Syarah Kitaabit Tauhiid (hal. 343).
[4]. Lihat Fat-hul Baari (X/195), juga Fataawaa al-‘Allamah Ibnu Baaz (II/384).
[5]. HR. Ad-Daulabi dalam al-Kuna, dihasankan oleh Syaikh al-Albani t dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1633), dari Sahabat Abud Darda’ Radhiyallahu anhu.
[6]. HR. Al-Bukhari. Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya shahih atas syarat al-Bukhari dan Muslim.” Lihat Fat-hul Baari (X/78-79), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu dan dimaushulkan oleh at-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (IX/345 no. 9714-9717).
[7]. Tentang pengobatan sihir dan guna-guna serta lainnya, lihat Buku Do’a dan Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah oleh penulis.




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Kisah Nasib Orang Yang Terakhir Masuk Surga

Nasib Orang Yang Terakhir Masuk Surga

Oleh : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc

Bagaimana nasib orang yang terakhir masuk surga?

Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّى لأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى. فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ – قَالَ – فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا – قَالَ – فَيَقُولُ أَتَسْخَرُ بِى – أَوْ أَتَضْحَكُ بِى – وَأَنْتَ الْمَلِكُ » قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ. قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

“Sesungguhnya aku tahu siapa orang yang paling terakhir dikeluarkan dari neraka dan paling terakhir masuk ke surga. Yaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan merangkak.

Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau, masuklah engkau ke surga.”

Ia pun mendatangi surga, tetapi ia membayangkan bahwa surga itu telah penuh.

Ia kembali dan berkata, “Wahai Rabbku, aku mendatangi surga tetapi sepertinya telah penuh.”

Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau dan masuklah surga.”

Ia pun mendatangi surga, tetapi ia masih membayangkan bahwa surga itu telah penuh.

Kemudian ia kembali dan berkata, “Wahai Rabbku, aku mendatangi surga tetapi sepertinya telah penuh.”

Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau dan masuklah surga, karena untukmu surga seperti dunia dan sepuluh kali lipat darinya.”

Orang tersebut berkata, “Apakah Engkau memperolok-olokku atau menertawakanku, sedangkan Engkau adalah Raja Diraja?”

Ibnu Mas’ud berkata,

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi geraham beliau. Kemudian beliau bersabda,

“Itulah penghuni surga yang paling rendah derajatnya.”

(HR. Bukhari no. 6571, 7511 dan Muslim no. 186)

Hadits di atas menunjukkan bahwa manusia biasa melanggar janji. Oleh karena itu, lelaki tersebut tercengang karena melihat janji Rabbnya. Ia merasa bahwasanya ia akan diremehkan atau diberi sesuatu yang remeh. Padahal Allah tidak mungkin mengingkari janjinya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengingkari janjinya.”

(QS. Ali Imran: 9)





 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTdrxHeD4bbP9ByONxM12lKRBMOG11lp-FHQ6yYkfDdzuNZCthYcxyLZcyZwxIDBaRSRvT_AlU7JPhEPJkOeTNHK9kCyqa6RhRyoTGBFB8Kp0o3xIeHPJpiT0Coz1ORfpyRhauUfYqE8Q/s1600/syurga.jpg

Jika Allah berjanji pasti ditepati.

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa kedudukan penduduk surga yang paling rendah akan mendapatkan kenikmatan 10 kali lipat dari kenikmatan dunia. Sungguh nikmat yang luar biasa.

Hadits di atas juga menunjukkan pelajaran bahwa jika orang beriman yang masih memiliki iman walaupun kecil, ketika masuk neraka, tidak akan kekal di dalamnya. Berbeda dengan keyakinan sebagian kalangan yang meyakini bahwa jika ada yang masuk neraka tak bisa keluar-keluar lagi darinya.

Semoga Allah memasukkan kita dalam surga dengan mudah dan terselamatkan dari siksa neraka.

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 3: 314



Selesai disusun di Gunungkidul @DarushSholihin, menjelang Maghrib 27 Jumadats Tsaniyyah 1436 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Saturday, October 22, 2016

Apakah Neraka Tidak Kekal?

http://dikatama.com/dika/wp-content/uploads/2015/12/gambaran-siksaan-neraka1.jpg

Pertanyaan:

Aku telah membaca kitab Asy Syifa Al ‘Alil karya Ibnul Qayyim rarimahullah. Dalam kitab tersebut beliau berkata: “Setelah bertahun-tahun lamanya terjadi siksaan yang kekal di neraka, Allah pun menghancurkan neraka.” Beliau mendasari perkataannya dengan ayat-ayat Al Qur’an, salah satunya:

خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ

“Mereka kekal di dalam neraka kecuali Allah berkehendak lain” (QS. Al An’am: 128)

Beliau berkata: “Al Khulud artinya tetapnya sesuatu pada waktu yang tertentu. Seandainya neraka itu kekal selamanya tentu Allah akan berfirman Khalidiina Fiiha Abadan.”

Tetapi ada satu ayat di dalam Al Qur’an pada surat Al Jin Allah berfirman:

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Orang yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya, baginya neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya selamanya.” (Qs. Al Jin: 23)

Aku tidak mengerti, apakah orang selevel Ibnul Qayyim tidak mengetahui adanya ayat yang seperti ini? Dan apakah pendapat beliau ini benar? Semoga Allah memberkahi anda.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz menjawab:

Pendapat ini berasal dari sebagian ulama salaf yang diriwayatkan dari sebagian sahabat. Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyyah memaparkan pendapat ini, juga beberapa ulama yang lain. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah dalam manhaj Ahlus Sunnah. Pendapat yang benar adalah sebagaimana pendapat Ahlus Sunnah dan pendapat jumhur ulama Ahlus Sunnah bahwa neraka itu kekal selama-lamanya. Dan orang kafir kekal di dalamnya selamanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ

“Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (Qs. Fathir: 36)

Juga firman Allah Ta’ala tentang orang kafir di neraka:

يُرِيدُونَ أَن يَخْرُجُواْ مِنَ النَّارِ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنْهَا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ

“Mereka menginginkan untuk keluar dari neraka namun tidak mampu. Bagi mereka azab yang kekal.” (Qs. Al Ma’idah: 37)
Artinya azab tersebut terus-menerus. -Semoga Allah memberikan kita keselamatan-

Juga firman Allah Ta’ala:

>كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

“Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (Qs. Al Baqarah: 167)

Itulah beberapa dalil yang digunakan Ahlus Sunnah untuk menetapkan bahwa neraka itu kekal selamanya tanpa ada ujungnya. Orang-orang kafir terus berada di sana dan kekal selamanya.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjm21KaZs5o34OkOn1Uzf1f36lw5pSepRh37X8VTOxPE9pb75DouL3r4FXVx8BW-N5suyPgd2KIfOGjxZ2y90TC8X1mL-YvcGQcOa8xINA_HsYtilF9CrHixDHgxO1BhDPaZaCZ7vVAZ00G/s400/neraka01.jpg

Ibnul Qayyim telah mengoreksi pendapatnya dan memilih pendapat ini. Beliau menjelaskan hal tersebut di kitab Wabil Ash Shayyib. Dalam kitab tersebut beliau berkata: “Neraka itu kekal selamanya, namun orang yang bertauhid akan keluar dari neraka. Orang yang bertauhid akan keluar dari neraka jika ia mati dalam keadaan mentauhidkan Allah namun masih memiliki maksiat-maksiat yang memasukkannya ke neraka. Orang yang mati dalam keadaan beragama Islam, namun ia masuk neraka karena sebab maksiat, baik karena zina, minum khamr, riba, durhaka kepada orang tua, atau semacamnya, mereka semua tidak kekal di neraka. Allah -Subhanahu- memasukkan orang-orang tersebut sesuai keinginan-Nya, yaitu orang yang tidak dimaafkan oleh Allah. Sehingga mereka menetap di neraka sesuai keinginan Allah tergantung kadar amal keburukannya.

Ketika dosanya telah bersih, dan telah hilang keburukan mereka, maka Allah mengeluarkan mereka dari neraka dan dimasukkan ke sungai yang disebut dengan Nahrul Hayaah (Sungai Kehidupan). Merekapun tumbuh sebagaimana tumbuhnya biji di tanah berair yang gembur. Ketika bentuk fisik mereka telah sempurna kembali, Allah memasukkan mereka ke surga. Mereka mendapat syafaat dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dari para Malaikat, dari orang-orang mu’min, dari para Nabi, dan dari orang-orang shalih. Mengenai hal ini terdapat hadits yang mutawatir:

أن الله يخرج من النار من كان في قلبه مثقال حبة خردل من إيمان

“Allah Ta’ala akan mengeluarkan orang-orang yang masih memiliki iman seberat biji sawi dari neraka.”

Dan dalam lafadz lain: Mitsqoola Dzarrah “Seberat atom.”

Dengan demikian, orang yang bertauhid yang mati dalam keadaan beragama Islam, namun ia masuk ke neraka disebabkan maksiat, mereka tidak kekal di neraka. Bahkan Allah akan mengeluarkan mereka dari neraka ke surga. Ini adalah pendapat yang benar yang merupakan pendapat Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang berbeda dengan pendapat Khawarij, Mu’tazilah dan orang-orang yang sepemahaman dengan mereka. Mereka mengatakan bahwa maksiat dapat menyebabkan pelakunya kekal di neraka. Ini perkataan orang Khawarij dan demikian pula Mu’tazilah. Ini perkataan yang batil yang bertentangan dengan banyak dalil-dalil hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mutawatir dan shahih.

Adapun orang kafir, mereka kekal di neraka selama-lamanya. Inilah pendapat yang benar yang merupakan pendapat jumhur ulama Ahlus Sunnah. Pendapat inilah yang dibangun di atas dalil-dalil syar’i.” (Sampai disini perkataan Ibnul Qayyim)

Oleh karena itu, sudah sepatutnya anda yakin dengan hal ini dan tidak perlu berpaling kepada pendapat yang lain. Wallahu Waliyyut Taufiq.

Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/10380




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Apakah Suami Saya Sudah Terkena Guna-guna Wanita Lain?







suami-terkena-guna-guna-wanita-lain


Pertanyaan:

Ustaz, saya punya masalah yang sangat berat sekali. Singkat cerita, saya sudah pisah ranjang selama enam bulan. Saat ini, suami saya sudah menggugat cerai dan itu sudah berjalan tiga kali. Awalnya, sebelum bulan puasa, suami saya menunjukkan tingkah yang aneh: sering memasang password di handphone-nya padahal biasanya tidak pernah, sering meminjam handphone pada teman wanitanya. Kalau saya tanya, “Kenapa kok pinjam?” Katanya, baterai handphone-nya mudah habis. Pernah, ada foto wanita itu. Lalu, saya beri tahu ke suami saya untuk berhati-hati.

Suami saya jadi sering pulang malam-malam. Pas malam itu, saya tanyai dia dan tiba-tiba dia bilang bahwa dia sudah tidak cinta lagi, tidak sayang lagi, pokoknya dia benci. Katanya, hatinya tertutup untuk saya, yang ada cuma anaknya. Dia juga tidak bisa melihat keindahan saya lagi, yang ada hanya wanita itu.

Dia selalu–dan selalu–menyalahkan saya; tidak ada kebaikan dari saya lagi. Suami saya mengungkit-ungkit masa lalu. Padahal, kalau saya tanya hanya dengan masalah kecil, suami saya malah pergi (minggat) dari rumah saya ke rumah mertua. Waktu itu sekitar minggu kedua bulan puasa.

Pada bulan Desember, dia disuruh pergi dari rumah mertua karena dia sudah susah untuk mendengar nasihat dari orang tua. Dia pun mengurus perceraian diam-diam, tanpa memberitahu saya dan keluarganya. Padahal, waktu itu anaknya sedang diopname. Dia lebih memilih membayar pengacara, Ustaz.

Saya datang ke kiai. Katanya, suami saya kena guna-guna satu keluarga. Wanita itu memberi (sesuatu) ke suami saya supaya suami saya melupakan istri, anak, dan keluarganya.

Saya selalu shalat tahajud supaya diberikan petunjuk oleh Allah. Tapi, saat ini hati saya masih berat untuk mengambil keputusan, Ustaz. Saya belum genap setahun ini memakai jilbab. Saya ingin ada di jalan Allah. Saya ingin suami saya kembali ke keluarganya.

Kesalahan saya sangat kecil sekali, dan kesalahan seperti itu bisa dilakukan siapa saja. Saya berusaha meminta maaf ke suami saya tapi suami saya tidak mau memaafkan. Dia sangat egois; tidak bisa kembali (pada kami). Dia selalu membela wanita itu. Sungguh, saya sangat sakit hati, Ustaz.

Yang saya tanyakan:
1. Apakah suami saya kena guna-guna?
2. Apakah suami saya, ke depan nantinya, baik untuk saya dan anak saya?
3. Apakah suami saya masih mencintai saya lagi?

Tolong berikan saran dan solusi, Ustaz.


Jawaban:

Bismillah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du ….

Ibu yang kami hormati, kami turut memahami kesedihan yang Ibu alami. Namun, apa pun itu, kita harus sadar bahwa ini semua adalah ujian dari Allah. Sikap yang tepat adalah berusaha memosisikan diri pada keadaan yang paling aman, untuk kehidupan dunia dan akhirat. Kalaupun tidak memungkinkan untuk berada di posisi aman bagi kedua kehidupan maka prioritaskan untuk memilih posisi aman bagi kehidupan akhirat. Insya Allah, Allah akan mengganti kehidupan dunia yang telah hilang.

Para ulama mengatakan,

من ترك شيئا لله عوضه الله خيرا منه

“Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang dia inginkan karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberi ganti kepadanya dengan yang lebih baik.”

Langkah yang Ibu tempuh, dengan bertanya terlebih dahulu kepada orang yang Ibu nilai paham agama, merupakan langkah tepat untuk mendapatkan posisi aman ketika mendapat musibah. Oleh karena itu, sebagai mukadimah, kami menyarankan agar Ibu tidak mendatangi dukun, peramal, tukang santet, kiai ilmu putih, atau siapa pun orangnya, yang membuka praktik pengobatan dengan bantuan khadam (baca: jin) atau dengan menggunakan cara yang tidak lazim. Mendatangi mereka justru akan membahayakan posisi kehidupan akhirat kita, sementara posisi aman untuk kehidupan dunia belum tentu tercapai.

 http://www.ummi-online.com/po-content/po-upload/1Sumber%20simplelinx.blogspot.com%20.jpg

Di antara ciri mereka:
1. Mereka membuka praktik pengobatan (ditawar-tawarkan, bahkan sampai diiklankan).
2. Menggunakan syarat-syarat khusus, seperti: pasien diminta untuk membawa barang tertentu atau melakukan ibadah tertentu.
3. Solusi yang dia berikan bukan nasihat, bukan penjelasan hukum-hukum syariat.
4. Biasanya, solusi yang diberikan adalah:
– Air yang sudah diberi doa, tulisan arab yang dibungkus rapi, kertas-kertas bertuliskan ayat Alquran, makanan tertentu, atau wirid dan bacaan tertentu (tanpa ada dalilnya).
– Hanya keterangan yang justru membuat pasien semakin menggantungkan dirinya kepada kiai.

Sekali lagi, jangan sampai kita mendatangi mereka, karena keberadaan mereka tidaklah memberikan solusi, namun justru memperparah keadaan.

Selanjutnya, terkait dengan masalah yang Ibu utarakan.

Pertama: Sesungguhnya, memungkinkan bagi manusia untuk diguna-gunai, sehingga dia membenci keluarganya dan mencintai orang lain. Ini merupakan bahasa sihir yang Allah sebutkan di Alquran. Allah berfirman,

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Mereka (orang Yahudi) belajar kepada dua orang itu tentang ilmu sihir yang mereka gunakan untuk memisahkan seseorang dari pasangannya. Padahal, mereka tidak mampu memberikan bahaya (dampak negatif) kepada orang lain kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah:102)

Kedua: Ayat di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa apa pun yang dilakukan oleh seseorang, niscaya tidak akan memberi pengaruh kepada orang lain, keculi dengan takdir dari Allah.

Ketiga: Dalam menyelesaikan masalah ini, mohon jangan dihadapi sendiri. Ibu memerlukan teman “curhat” dan pemberi solusi. Sebisa mungkin, jangan berkonsultasi kepada teman yang tidak paham agama, karena bisa jadi, dia justru merasa senang dengan kondisi yang Ibu alami. Yang paling aman adalah bermusyawarah dengan keluarga Ibu atau keluarga suami Ibu, karena bisa dipastikan bahwa mereka sangat menginginkan agar keluarga Ibu kembali utuh sejahtera.

Keempat: Dekati keluarga suami (orang tuanya). Jika mereka sudah berpihak pada Ibu, ini akan memberi kekuatan posisi bagi Ibu ketika Ibu menghadapi suami. Ibu punya kesempatan yang besar untuk mencari pendukung di kalangan keluarga Ibu sendiri atau keluarga suami Ibu.

Adapun tentang kondisi suami Ibu.

Pertama: Kami tidak bisa memastikan apakah suami ibu diguna-gunai ataukah tidak, karena dalam kondisi semacam ini, ada banyak kemungkinan yang menyebabkan seorang lelaki bisa melakukan tindakan sebagaimana yang dilakukan oleh suami Ibu. Bisa jadi, karena memang dia tertarik dengan wanita lain, sehingga dia ingin berpisah dari keluarganya, atau bisa juga karena disihir. Namun, apa pun itu, insya Allah, semuanya bisa diobati, jika Allah berkehendak.

Kedua: Untuk langkah mudahnya, Ibu bisa perhatikan kondisi suami Ibu, sebelum dan sesudah kasus ini. Mencintai dan tertarik pada wanita lain, sifatnya tidak seketika, namun prosesnya lama. Apalagi, jika pertemuan suami Ibu dengan wanita tersebut sebelumnya jarang berlangsung. Kalau kejadiannya semacam ini, lalu tiba-tiba sang suami begitu tertarik dengan wanita tersebut maka bisa jadi itu adalah guna-guna. Jika kasusnya karena guna-guna, mudah-mudahan penyembuhannya lebih mudah dibanding ketika sang suami mencintai wanita tersebut secara alami.

Ketiga: Penyembuhan guna-guna; berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan ketika hendak mengobati orang yang terkena sihir:
1. Biasanya, sihir itu mempunyai simpul (pusat jin yang mengganggu). Simpul ini diletakkan oleh pelaku sihir di tempat yang aman dan dekat dengan aktivitas orang yang ingin dijadikan sasaran sihir. Bisa juga, bentuknya adalah sihir tanpa simpul.
2. Untuk sihir yang menggunakan simpul, pelaku menggunakan salah satu bagian anggota badan sasaran. Misalnya: Rambut atau yang lainnya.
3. Jika kita mengetahui tempat simpul sihir itu diletakkan, untuk pengobatannya: hancurkan simpul itu dengan cara dibakar. Ini cara yang paling mujarab untuk mengobati sihir.
4. Jika kita tidak mengetahui tempat simpul sihir tersebut, jangan membebani diri untuk mencarinya dan jangan bertanya kepada dukun atau kiai, karena hal ini akan menyibukkan kita. Dalam kondisi ini, korban bisa diobati dengan cara diruqyah. Untuk tata cara ruqyah, Ibu bisa pelajari di situs: http://muslimah.or.id/aqidah/ruqyah-1-terapi-ruqyah-syari.html

Bisa juga dengan memperbanyak doa kepada Allah secara sungguh-sungguh. Insya Allah, Allah akan mengubah hati suami Ibu dan memberikan keteguhan bagi Ibu.

Sebelumnya, kami ingatkan agar Ibu tidak meminta ruqyah kepada orang lain, karena itu hukumnya makruh. Ibu dan keluarga, masing-masing berdoa memohon kepada Allah agar sang suami disembuhkan.

Apakah suami Ibu adalah orang yang baik bagi keluarga?

Saya tidak bisa menilainya. Bisa jadi, dia bersikap semacam itu karena jiwanya tertutup oleh emosinya. Langkah mudahnya, dilihat dari pergaulan beliau sebelumnya. Jika sebelumnya beliau baik-baik saja dan mendukung keluarga untuk menjadi baik maka, insya Allah, suami Ibu ke depannya tetap baik bagi keluarganya.

Apakah suami Ibu masih mencintai Ibu?

Seratus persen, kami tidak tahu, karena ini adalah masalah hati; yang mengetahuinya hanya Allah. Sementara, sikapnya saat ini bisa jadi hanya karena luapan emosinya. Berikan sikap yang terbaik bagi suami Ibu, berpenampilanlah secara menarik di hadapannya. Semoga ini akan mengembalikan cintanya kepada keluarganya. Setidaknya, anak akan menjadi pengikat kuat bagi keutuhan keluarga Ibu.

Saran:
1. Banyak-banyak memohon ampunan dan beristigfar kepada Allah. Bisa jadi, ujian ini merupakan akibat dari kemaksiatan yang pernah kita lakukan. Bukan karena Allah tidak sayang, namun Allah hendak membersihkan dosa kita di dunia, sebelum nantinya menjadi bahan siksaan di akhirat. Imam Abu Hanifah mengatakan, “Tidaklah aku menjumpai kondisi buruk pada keluargaku kecuali karena kemaksiatan yang aku lakukan.”
2. Banyak memohon keselamatan dari dampak buruk musibah. Semoga musibah ini tidak menimpa agama kita. Semoga Allah mengampuni kita, tanpa harus menguji kita dengan musibah ini. Amin.

Allahu a’lam. Semoga bermanfaat.




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Thursday, October 20, 2016

Kamar Kosong Akan Diisi Oleh Bangsa Jin?

kamar kosong ada jin

Saya memiliki rumah tingkat , dan kami memiliki kamar tidur yang banyak. Keluarga kami tidur di kamar bawah, dan dibagian atas ada 3 kamar kosong yang dibiarkan begitu saja. Pertanyaannya ustad hal apa yang harus saya lakukan terhadap 3 kamar kosong itu agar tidak dihuni syetan atau jin ?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Yang kami pahami bahwa jin bisa tinggal di tempat manapun yang ditempati manusia. Mereka tinggal bersama kita, mereka makan bersama kita. Sehingga mereka menikmati fasilitas yang kita miliki.

Ketika Allah mengusir Iblis dari surga, dan diturunkan ke bumi, Iblis dan keturunannya dari kalangan jin dipersilahkan untuk hidup bergabung dengan manusia. Allah berfirman,

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

“Hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan bergabunglah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (QS. al-Isra’: 64)

Intinya mereka bersama kita, meskipun kita tidak pernah melihat dimana mereka berada, karena mereka berada di alam ghaib. Dan tidak melihat mereka lebih baik dibandingkan melihat mereka. Untuk itu, jangan sampai anda meminta agar bisa melihat mereka.

 http://segiempat.com/wp-content/uploads/2015/08/Legenda-Penampakan-Hantu-di-Rumah-Sakit-Indonesia-oleh-SegiEmpat.jpg

Kemudian terkait masalah tempat, sebagaimana manusia, di sana ada 2 keadaan,

Pertama, ada tempat yang paling disukai jin di rumah kita, seperti toilet dan tempat-tempat najis lainnya.

Jin jahat dan setan, lebih menyukai tempat yang kotor dan bau tak sedap. Dalam hadis dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ

“Sesunngguhnya tempat buang air ini kerumuni setan.” (HR. Ahmad 19331, Abu Daud 6, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Kedua, ada tempat yang dijauhi jin, seperti rumah yang sering dibacakan al-Quran, terutama surat al-Baqarah,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَة

“Janganalah jadikan rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim 1860)

Menganai kamar kosong yang tidak ditempati, apakah ini termasuk ruangan yang disukai jin?

Allahu a’lam, saya tidak menjumpai keterangan hadis tentang ini. sementara kita hanya berbicara jika didukung dalil atau bukti realita.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ini Dia Makhluk yang Dijatuhkan Oleh Allah dari Langit Ketujuh




Allah SWT menciptakan semua makhluk untuk beribadah dan menjalankan segala perintah-Nya. Maka berbahagialah apabila kita senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah tersebut. Sebab ada balasan berupa surga yang menanti di alam akhirat kelak.

Namun, celakalah bagi mereka yang menuruti nafsu duniawi dan terjerumus dalam lembah kemaksiatan. Sebab orang-orang ini akan dilemparkan ke dalam panasnya api neraka. Sama hal yang pernah terjadi kepada salah satu makhluk ciptaan Allah

Ternyata, Allah SWT sudah pernah menjatuhkan salah satu makhluk ciptaan-Nya dari langit ketujuh. Tidak hanya itu, makhluk itupun dilaknat dan telah dijanjikan menjadi penghuni kekal di neraka. Siapakah ciptaan Allah yang dimaksud tersebut? Berikut informasi selengkapnya.

Makhluk yang dijatuhkan dari langit ketujuh tersebut bernama iblis. Padahal pada awalnya iblis adalah salah satu mahluk yang sangat taat untuk menjalankan segala perintah Allah dan selalu beribadah kepada-Nya.

Pada masa itu, nama iblis adalah azazil, ia merupakan salah satu malaikat yang dikenal oleh penduduk surga karena doanya selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Azazil memiliki wajah yang rupawan lagi cemerlang, memiliki empat sayap, banyak ilmu, menjadi pemimpin para malaikat, memiliki beberapa tempat di langit serta dapat mendengarkan berita-berita rahasia dari Allah SWT.

Hal ini membuat para malaikat kagum terhadap dirinya. Akan tetapi, semua itu berubah tatkala Allah SWT berfirman: “Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah di bumi”. Para malaikat berkata: “Mengapa hendak Kau jadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memujiMu dan menyucikanMu?” Tuhan menjawab: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. (QS. Al-Baqarah 2:30).

Lantas Allah menciptakan manusia pertama yang diberi nama Adam. Setelah itu, Allah SWT juga memperagakan kelebihan keistimewaan yang dimiliki oleh Adam. Hal ini membuat malaikat mengakui kelebihannya atas mereka. Kemudian Allah menyuruh pata malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai wujud kepatihan dan pengakuan atas kebesaran Allah.

Ketika itu, semua malaikat bersujud kepada Adam, kecuali Azazil. Allah Ta’ala berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".(Q.S Al-A’raf: 12)

Mendengar jawaban azazil tersebut, Allah kemudian berfirman."Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina".(Q.S Al-A’raf:13

Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan".(Q.S Al-A’raf:14)

Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." (Q.S Al-A’raf:15)

Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (Q.S Al-A’raf:16)



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaTx2fNHsC1NNW2gsV6bY33bKc7cqDiS_g1GCuiMcn_Ls66KXXd2VL5c_rSTNl-rseepHA2JR_hFGrBHw59OOwVUL6OThz0t8CWPPLVNgALRhEqN3rTQ6u2G4HjW4Vb2uoJoZ5v8WuJ6IV/s1600/22468_1193649172374_2314460_n.jpg

“kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Q.S Al-A’raf:17)

Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya". (Q.S Al-A’raf:18)

Karena ketidakpatuhannya terhadap perintah Allah tersebut, maka Allah tidak lagi memanggil makhluk tersebut dengan sebutan Azazil. Akan tetapi, ia dipanggil dengan nama iblis yang artinya putus asa sebab ia sudah berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Tidak cukup sampai di situ, Allah juga mengubah wajah iblis ke dalam bentuk yang seburuk-buruknya rupa. Allah juga mengubah kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

Demikianlah informasi mengenai makhluk ciptaan Allah yang dijatuhkan dari langit ketujuh. Ia adalah iblis yang sombong dan angkuh tidak mau bersujud kepada nabi Adam. Kesombongannya tersebut membuat iblis akhirnya terjatuh dari surganya Allah dan dikutuk menjadi akan menjadi penghuni neraka di akhirat kelak.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

MASYAALAH ! 10 Tahun Wafat Tapi Jasad Syaikh Ahmad Yasin Masih Utuh dan Wangi



 

Sudah sebulan lebih perang suci antara penjajah Israel dan rakyat Palestina terjadi, rilis terakhir disebutkan bahwa Israel telah membantai 2100 lebih rakyat Palestina yang kebanyakan adalah anak-anak dan para ibu.

Namun begitu, tak membuat gentar para pemuda-pemuda Palestina untuk menjemput syahid (Gencatan Senjata Usai, Onim: Gaza Memasuki Fase Panen Syahid).

Di kesempatan lain, kembali Allah tampakkan kebesarannya atas para pejuang Islam khususnya di Palestina yang telah gugur di medan pertempuran.

makam ahmad yasinSebagaimana kesaksian putra Syaikh Ahmad Yassin yang bernama Abdul Ghani Yassin dalam proses pemakaman Ahmad Muhammad Azzam -cucu dari syaikh Ahmad Yassin- menceritakan bahwa betapa dia terkejut ketika melihat jasad utuh ayahnya dan mencium aroma wangi yang semerbak ketika hendak menggali tanah disamping makam ayahnya tersebut.
“Hari ini kami membongkar samping kuburan syaikh Ahmad Yasin utk mengubur cucunya Muhammad Azzam, maka kami temukan jasad beliau masih utuh seperti saat kami kuburkan dahulu” ungkap Abdul Ghani Yassin dalam account facebooknya.






Siapakah Syaikh Ahmad Yasin?


Syekh Yasin, nama lengkapnya Syekh Ahmad Ismail Yasin lahir tahun 1938 di desa Al-Jura, sebelah selatan kota Gaza, syahid pada saat sedang puasa sunah Senin- Kamis, hari Senin, 1 Shafar 1425 H/ 22 Maret 2004 M karena dihantam rudal penjajah Zonis Israel setelah melaksanakan sholat subuh berjama’ah di masjid Al-Mujama’ Al-Islami, Gaza.

Syekh Ahmad Yasin merupakan tokoh spiritual gerakan Hamas, Qiyadah/ pemimpin bagi pejuang dan rakyat Palestina melawan penjajah Zionis Israel.





Walaupun usianya uzur, kondisi tubuhnya lumpuh dari leher hingga ujung kaki, setiap hari harus menggunakan kursi roda, tidak menghalangi beliau untuk berdakwah, memimpin dan membina umat, rakyat Palestina khususnya di Gaza.

Beliau memiliki ‘izzah/ kemuliaan sehingga disegani dan dicintai kawan, ditakuti lawan dalam hal ini penjajah Zionis Israel.

Sebagai tokoh spiritual dan qiyadah dalam perjuangan, Syekh Ahmad Yasin banyak memberikan keteladanan bagi pengikutnya dan rakyat Palestina, juga bagi umat Islam yang rindu syahid di jalan Allah.





samping makam ahmad yasinDalam suatu khutbahnya, Syekh Ahmad Yasin pernah berkata: Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam tidak pernah ada kemenangan. Kita selamanya akan selalu berada dalam kemunduran sampai ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemmpinan yang berpegang teguh kepada Islam, baik sebagai aturan, prilaku, pergerakan, pengetahuan, maupun jihad. Inilah satu-satunya jalan. Pilih Allah atau binasa!

Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS: Al-Imran/3: 126).

Makin nyatalah kebenaran berita gembira dari Allah SWT kepada para syuhada dalam surat al-Baqoroh ayat 145:”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya” dan sabda Nabi Muhammad SAW, bahawa bumi tidak akan memakan jasad mereka.




Sumber : http://www.muslimdaily.net/berita/subhanallah-10-tahun-wafat-tapi-jasad-syaikh-ahmad-yasin-masih-utuh-dan-wangi.html