Showing posts with label Kisah - Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Kisah - Sejarah. Show all posts

Thursday, November 3, 2016

Rasulullah Menangis ketika Menceritakan Siksaan Yang Diterima Kaum Wanita

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQPFTcM5Ywu3x8vLInM_V2_or-juUFUVrDDBCrYxHppldK8i5LHmk2dOMxjLk5nuf-ABVzoKcCxW_Kmii0fPIllzv2ASaE2Y3Zgco-8oc5bjHRi918tG63qkg_tbtlQpN9MOGG40slKGaF/s1600/Inilah+Azab+Bagi+Kaum+Wanita+Di+Neraka+%5BWajib+Baca%5D.jpg

SUATU hari Ali bin Abi Thalib melihat Rasulullah menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu dia bertanya mengapa Rasulullah menangis. Beliau menjawab, “Pada malam aku di-isra’- kan, aku melihat perempuan-perempuan sedang disiksa dengan berbagai siksaan di dalam neraka. Itulah sebabnya mengapa aku menangis.”

Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya, “Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya. Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan gada dari api neraka,” kata Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?

Rasulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan mahromnya.”

Perempuan yang digantung payudaranya adalah istri yang menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.

Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghbmIkKHAIrRqMsb0JINuo0aKfzwdZTO-MepSyX-hQ4p47mudi_iW91Z3dihjyXaSJAqaIDJTgK5jSvM-N4OLUTJG1nZPgQDcm5T0-EjgyYVMmsrnhpL7mrbSvSDy-wk6noat6HCU-48Y/s1600/71796-0_663_382.jpg

Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain yang bukan mahrom dan dia bersolek supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Betapa wanita itu digambarkan sebagai tiang negara, rusak tiang, maka rusak pula negara, akhlak dan moral.

Meski demikian, laki-laki yang bermaksiat kepada Allah juga tidak sedikit yang masuk neraka. Ayah-ayah yang membiarkan anak perempuanya tidak memakai kerudung dan mengumbar aurat didepan orang lain.

Surga dan Neraka adalah soal pilihan. Tergantung bagaimana manusia menjalani hidupnya dialam jagad raya. kalau mau selamat, maka patuhlah kepada Al-Qur’an dan hadist, balasanya adalah surga dengan segala kenikmatan di dalamnya. Kalau mau celaka dengan mendurhakai Al Qur’an dan hadist, maka Allah sudah menyediakan penjara yang sangat mengerikan, yaitu neraka dengan api dan siksaan yang sangat pedih dan tidak terbayangkan oleh manusia sebelumnya.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Pemuda Ini Akan Di Cabut Nyawanya 7 Hari Lagi!


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKyUk81JT_HwkmSuBAH5Yj0wEAkcxxZJInMU46x2LjJzFSr9ApkdfYFvRh2F5Rb6WaS7CGBcrIo0-MxMgG93NTnlK5emI6oc2rZ5aZFlowfXg_5w8ZuyRdi2GZ7vOEdyHSdyvh3w3314Q/s640/Pemuda+Sholeh+Yang+Mampu+Mengalahkan+Ribuan+Syetan.jpg

SUATU ketika, Nabi Daud duduk di suatu tempat. Di sampingnya, ada seorang pemuda saleh yang duduk dengan tenang tanpa banyak bicara. Tiba-tiba, datang Malaikat Maut yang mengucapkan salam kepada Nabi Daud. Anehnya, Malaikat Maut terus memandang pemuda itu dengan serius.

Nabi Daud berkata kepadanya, “Mengapa engkau memandangi dia?”

Malaikat Maut menjawab, “Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya tujuh hari lagi di tempat ini!”

Nabi Daud pun merasa iba dan kasihan kepada pemuda itu. Beliau pun berkata kepadanya, “Wahai Anak Muda, apakah engkau mempunyai istri?”

“Tidak, saya belum pernah menikah,” jawabnya.

“Datanglah engkau kepada Fulan – seseorang yang sangat dihormati di kalangan Bani Israil – dan katakan kepadanya, ‘Daud menyuruhmu untuk mengawinkan anakmu denganku.’ Lalu, kau bawa perempuan itu malam ini juga. Bawalah bekal yang engkau perlukan dan tinggallah bersamanya. Setelah tujuh hari, temuilah aku di tempat ini.”

Pemuda itu pergi dan melakukan apa yang dinasihatkan Nabi Daud kepadanya. Dia pun dinikahkan oleh orang tua si Gadis. Dia tinggal bersama istrinya selama tujuh hari. Pada hari kedelapan pernikahannya, dia menepati janjinya untuk bertemu dengan Daud.

“Wahai Pemuda, bagaimana engkau melihat peristiwa itu?”

“Seumur hidupku, aku belum pernah merasakan kenikmatan dan kebahagiaan seperti yang kualami beberapa hari ini,” jawabnya.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMoD5-QFzqYG4wbFLaQZUZg6rhEA-q50Af4GksImt-ye3jJ5SmLMDyWOQQsFHoaOvzHORl1zpWy2M51clkwxREWHuVc6On8BlHSymukeFdXlB3IAmAT8E2LnzVrYrMr4RaTXuC6p0tDpjc/s1600/250493_215199531834063_185590688128281_747563_2516043_n.jpg

Kemudian, Nabi Daud memerintahkan pemuda itu untuk duduk di sampingnya guna menunggu kedatangan malaikat yang hendak menjemput kematiannya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Nabi Daud berkata, “Pulanglah kepada keluargamu dan kembalilah ke sini untuk menemuiku di tempat ini delapan hari setelah ini.”

Pemuda itu pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Pada hari kedelapan, dia menemui Nabi Daud di tempat tersebut dan duduk di sampingnya. Kemudian, kembali lagi pada minggu berikutnya, dan begitu seterusnya. Setelah sekian lama, datanglah Malaikat Maut kepada Nabi Daud.

“Bukankah engkau pernah mengatakan kepadaku bahwa engkau akan mencabut nyawa anak pemuda ini dalam waktu tujuh hari ke depan?”

Malaikat itu menjawab, “Ya.”

Nabi Daud berkata lagi, “Telah berlalu delapan hari, delapan hari lagi, delapan hari lagi, dan engkau belum juga mencabut nyawanya.”

“Wahai Daud, sesungguhnya Allah merasa iba kepadanya lalu dia menunda ajalnya sampai tiga puluh tahun yang akan datang.”

Pemuda dalam kisah ini adalah seseorang yang taat beribadah, ahli munajat, gemar berbuat kebaikan, dan sangat penyayang kepada keluarganya. Boleh jadi, karena amal saleh dan doa-doanyalah, Allah berkenan menunda kematian sang pemuda hingga tiga puluh tahun lamanya.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Wednesday, November 2, 2016

Kisah Ibnu Taimiyah Dan Seorang Pencaci Nabi


demonstrasi

Tepatnya di tahun 693H, waktu itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berusia 32 tahun. Terjadi kisah ‘Assaf seorang Nashrani.

Al Imam Ibnu Katsir bercerita:

كان هذا الرجل من أهل السويداء قد شهد عليه جماعة أنه سب النبي صلى الله عليه وسلم ، وقد استجار عساف هذا بابن أحمد بن حجي أمير آل علي ، فاجتمع الشيخ تقي الدين ابن تيمية ، والشيخ زين الدين الفارقي شيخ دار الحديث ، فدخلا على الأمير عز الدين أيبك الحموي نائب السلطنة

“‘Assaf ini seorang penduduk Suwaida. Banyak orang yang menyaksikan ia mencaci Nabi shallalllahu’alaihi wasallam. Lalu si ‘Assaf minta perlindungan kepada Ibnu Ahmad bin Haji, pimpinan kabilah Alu Ali. Maka Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah bertemu dengan Syaikh Zainuddin Al Fariqi pimpinan Darul Hadits. Keduanya masuk kepada Al Amir ‘Izzuddin Aibak Al Hamawi, wakil Sulthon”.

فكلماه في أمره ، فأجابهما إلى ذلك ، وأرسل ليحضره ، فخرجا من عنده ومعهما خلق كثير من الناس ، فرأى الناس عسافا حين قدم ومعه رجل من العرب ، فسبوه وشتموه ، فقال ذلك الرجل البدوي : هو خير منكم . يعني النصراني فرجمهما الناس بالحجارة وأصابت عسافا ، ووقعت خبطة قوية

“Keduanya berbicara kepadanya mengenai si Assaf, Nashrani yang mencaci Nabi. Izzuddin pun menyambut baik keduanya dan akan menghadirkan orang Nashrani ini. Keduanya pun keluar bersama jumlah banyak dari manusia. Lalu orang-orang melihat ‘Assaf datang bersama arab badui. Orang-orang pun mencaci makinya. Maka orang arab badui ini berkata: “Si ‘Assaf ini lebih baik dari kalian!“. Maka orang-orang pun melemparinya dengan batu dan mengenai si Assaf dan terjadi keributan yang kuat”.

فأرسل النائب ، فطلب الشيخين ابن تيمية والفارقي ، فضربهما بين يديه ، ورسم عليهما في العذراوية

“Mendengar keributan itu marahlah sang wakil Sulthon (Al Amir Izzuddin Aibak). Dan meminta Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi untuk hadir lalu keduanya dipukuli dan dipenjara di Madrosah Adzrowiyah“.

وقدم النصراني ، فأسلم وعقد مجلس بسببه ، وأثبت بينه وبين الشهود عداوة ، فحقن دمه

“Amir Izzuddin juga mendatangkan Assaf si Nasrani. Lalu Amir Izzuddin meminta Assaf masuk Islam dan membuat sidang khusus karena sebabnya. Dari majelis itu tampaklah permusuhan antara peserta sidang dengan si Assaf. Namun tertahanlah darah si Assaf (ia bebas).

ثم استدعى بالشيخين فأرضاهما وأطلقهما

“Kemudian dipanggillah ibnu Taimiyah dan Al Fariqi dan dimintai keridloannya lalu keduanya dilepaskan”

(Lihat Al Bidayah wan Nihayah 17/665-666 karya Ibnu Katsir, dan kitab Al Muqtafa ‘alar Roudhotain 2/363 karya Al Barzali).

Kisah ini memberikan beberapa pelajaran:

    Mengingkari penista agama dengan cara melaporkannya kepada penguasa. Bukan dengan main hakim sendiri.

    Para ulama hendaknya yang langsung berbicara kepada penguasa, karena merekalah yang mampu menyampaikan dengan hujjah dan akhlak. Sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi yang langsung berbicara dengan wakil sulthan, Izzudin Al Hamawi. Ini sesuai dengan perintah Nabi untuk menyampaikan nasehat secara rahasia.

    Dalam kisah tersebut, tidak disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi lah yang mengerahkan massa. Namun keduanya pergi diikuti banyak orang yang juga sama sama ingin mengadukan si pencela Nabi kepada penguasa.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqp61B00K8QfgIvwgHS947kV8t4W8dnjV9A3nww6OdJlm9aR6QG4eMgSHVlcDasXJByDZvT3xNttZkS5l-_U5n0cf6O3TAQgTuThD2PT49MJTQ4iH_IydD8L7wFkWDLJ0hQR5NuJ1caCA6/s400/picture-5554aczs-ABNS.jpg

    Sikap arogan dan kekerasan bukanlah solusi memecahkan permasalahan. Bahkan seringkali menimbulkan mudharat yang lebih besar, bahkan malah Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi yang dipukuli.

    Para ulama hendaknya tidak memanas-manasi manusia dengan provokasi. Lihatlah bagaimana sikap Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi dipukuli, mereka sama sekali tidak memprovokasi massa dan memilih bersabar.

    Coba renungkan, bagaimana bila para pendemo yang berdalil dengan kisah Ibnu Taimiyah ini ditangkapi oleh pemerintah dan dipukuli, akankah mereka bersikap seperti Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi?

    Keluarnya orang orang awam untuk berdemo seringkali menimbulkan keributan dan mudah terpancing emosi. Lihatlah ketika orang orang itu dipanas panasi oleh arab badui bahwa “si Assaf lebih baik dari kalian!“. Mereka langsung melempari dengan batu sehingga terjadi keributan. Ini menunjukkan perbuatan mereka malah menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.

    Kisah para ulama bukanlah dalil, karena dalil adalah Al Qur’an, hadits dan ijma. Ulama adalah manusia biasa yang bisa jatuh kepada kesalahan.

***

Penulis: Ust. Badrusalam Lc. (dengan suntingan redaksi pada matan kisah)




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Abdurrahman bin ‘Auf, Salah Satu Sahabat Nabi yang Dijanjikan Masuk Surga


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpV2h5PTb9Fn8y7YPywjDHgltgS-fHcmGnmhkizZXpVOmB0ry8S8cX95IQJO7D9Bk5QoN60QOjT_-6KtO-LW6SpTOFCHB2uvMpwE5NQAevgZ0nQcJGnQ4tfiX2uZDElVxmMAbEAK5x8Co/s1600/abdurahman+bin+auf.jpg

JIKA Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah mengumumkan ada sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk surga, maka nama Abdurrahman bin ‘Auf termasuk di dalamnya. Nabi menyebut namanya di sela-sela nama para sahabat agung yang lain, tak terkecuali empat pengganti Rasulullah (al-khulafaur rasyidun).

Saat kabar atau hadits itu sampai di telinga Abdurrahman bin ‘Auf, dadanya tak latas membusung. Ia justru gemetar takut. Suasana batin semacam ini berlangsung terus-menerus hingga ia memberanikan diri menemui Rasulullah.

Abdurrahman bin ‘Auf sendiri adalah kerabat Nabi. Silsilah keturunan mereka berdua bertemu di generasi keenam ke atas, yakni Kilab bin Murrah. Namun demikian, kedekatan hubungan darah tak serta-merta mengurangi sikap takzim Abdurrahman kepada Sang Utusan Allah.

Abdurrahman bin ‘Auf masih terus terngiang dengan perkataan Rasulullah ketika akan berjumpa dengan sumber ucapan itu. Kerendahan hatinya lah yang membuat hatinya diliputi kecemasan lantaran kabar yang mengistimewakan dirinya di antara para sahabat ternama itu.

“Allah telah memberimu hutang yang indah, yang membebaskan kedua kakimu,” tutur Rasulullah sebagaimana tercatat dalam kitab At-Thabaqatul Kubra karya Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani.

Melalui Nabi, Jibril lantas memberinya pesan anjuran kepada Abdurrahman bin ‘Auf untuk senantiasa memuliakan tamu, memberi makan kaum miskin, dan membantu orang-orang yang butuh pertolongan. “Jika semua perbuatan ini dilakukan maka lunas lah hutang-hutang tersebut.”

 http://tabungwakaf.com/wp-content/uploads/2016/05/auf.png

Abdurrahman bin ‘Auf sejak awal terkenal sebagai orang yang super dermawan. Ia pernah menyedekahkan 700 rahilah, yang mayoritas untuk para faqir dan miskin. Rahilah adalah jenis unta tunggangan yang harganya lebih mahal dari unta biasa. Abdurrahman memberikannya beserta barang bawaan dan pelana berikut alasnya.

Di mata Rasulullah, Abdurrahman istimewa salah satunya karena kepedulian sahabat as-sabiqunal awwalun (golongan orang pertama masuk Islam) ini terhadap masyarakat lemah. Hatinya tetap lapang meski harta bendanya banyak didermakan untuk kepentingan itu.

Suatu kali Rasulullah pernah dari arah belakang mengalungkan serban dan menutupi kedua bahu Abdurrahman bin ‘Auf. “Inilah hamba yang shalih,” lisan Nabi yang lembut melontarkan pujian.

Abdurrahman bin ‘Auf merupakan orang dengan ketawadukan yang luar biasa. Karenanya, berita bahagia yang mengistimewakan dirinya pun direspon dengan rasa khawatir. Bukan tak percaya atau tak suka. Baginya, di hadapan Tuhan dirinya tak ada apa-apanya. Karakter ini seolah menjadi tamparan keras bagi orang atau kelompok yang merasa paling benar dan mulia meski tanpa jaminan surga.

Al-Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin ‘Auf wafat pada tahun 32 hijriyah dan disemayamkan di Baqi’, Madinah, dekat dengan makam Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Tuesday, November 1, 2016

Kisah Patah Hatinya Seorang Umar bin Abdul Aziz


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifdcridUvrCJMyASpCU2XI4C-uvTQwVgw2Z5Or_C5ALdXgekphHu3BP1gIrWUvFR2oNa9cXBS8oBiaSxgPghbMV4GqylhwiMlDKb0wxbDbym9HDY_-OtXSTxRy94_d3VQI60nSYpKVPPY/s320/hatibening.jpg

DIKISAHKAN bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah jatuh cinta dengan sangat berat dan mendalam terhadap budak perempuan milik istrinya, Fathimah binti Abdul Malik.

Perempuan itu memang hanyalah seorang amah, seorang budak perempuan, namun, ia sangat cantik jelita, mengalahkan banyak wanita merdeka di zamannya, dan budak itu milik Fathimah binti Abdul Malik bin Marwan, istri Umar bin Abdul Aziz.

Sebelum Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, berkali-kali ia meminta kepada Fathimah, istrinya, agar sang istri menghibahkan budak perempuan itu kepadanya, atau menjualnya kepadanya.

Namun, karena budak itu sangat cantik jelita, dan sang istri mengetahui betapa berat dan mendalam “rasa cinta” Umar bin Abdul Aziz kepadanya, sang istri tidak mau memenuhi permintaan sang suami. Wajar lah, wanita mempunyai rasa cemburu, dan ia takut “kalah bersaing” dengan sang budak itu.

Sang amah atau budak perempuan itu pun mengetahui betapa berat dan mendalam “rasa cinta” Umar bin Abdul Aziz kepadanya.

Sampai akhirnya, tibalah masa di mana tanggung jawab kehilafahan jatuh pada Umar bin Abdul Aziz.
Perlu diketahui bahwa dulunya gaya hidup Umar bin Abdul Aziz adalah gaya hidup istana, penuh dengan kemewahan dan bergelimang dalam harta dan fasilitas.

Setelah Umar bin Abdul Aziz menjadi miskin, dan hari demi hari disibukkan oleh upayanya menjadi seorang khalifah yang adil, istrinya, Fathimah bin Abdul Malik, merasa iba dan kasihan kepadanya. Maka dihibahkanlah budaknya yang cantik jelita itu kepada Umar bin Abdul Aziz.

Di luar dugaan sang istri dan budaknya sekaligus, ternyata Umar bin Abdul Aziz menolak hibah tersebut.
Sebenarnya, kalau saja sang istri dan sang budak itu mengetahui hal yang sebenarnya, keduanya tidak perlu terkejut, sebab, momentum penghibahan itu terjadi setelah Umar bin Abdul Aziz bercita-cita ingin masuk syurga. Sementara Umar bin Abdul Aziz tahu betul bahwa syurga itu diperuntukkan bagi seseorang yang memenuhi kriteria tertentu, yang diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala:

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya),” (Q.S. An-Nazi’at: 40 – 41).

Bahkan Umar bin Abdul Aziz bertindak lebih jauh dari sekedar menolak hibah istrinya itu, meskipun hibah itu sendiri adalah budak perempuan yang sangat cantik jelita dan yang “dicinta”-nya secara berat dan mendalam.

Umar meminta kepada Fathimah untuk menjelaskan asal muasal budak perempuan itu, yang kemudian diketahui bahwa ia pada asalnya adalah tawanan perang yang kemudian menjadi budak. Dan pada saat para tawanan itu dibagi-bagikan kepada para prajurit, ia terjatuh menjadi bagian dari seorang prajurit.

Tetapi, dengan alasan menghilangkan kecemburuan prajurit lainnya, budak perempuan itu akhirnya diambil oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan, yang lalu dihibahkan kepada putrinya, Fathimah.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPTHri3fp4Sui0xz193k30FhqbMHM0bInfXTuh6p2vey3a7PLkhS9PnrH5om5l9hJK50vs5I47K_ELLksS7Tp1D4klCLPndEgK-NILlULUVRwyFb-f1Q-l4N92fnmTLc336GNi809AFpJs/s1600/umar+bin+Abdul+Aziz.jpg

Mendengar penjelasan itu, maka Umar bin Abdul Aziz meminta agar prajurit itu dipanggil untuk menerima kembali jatah dan bagiannya yang selama ini tertunda.

Prajurit itu pun datang, maka oleh Umar bin Abdul Aziz, diserahkanlah budak perempuan yang cantik jelita itu kepadanya.

Sang prajurit pun berkata,” Wahai amirul mukminin, budak perempuan itu adalah milik anda, maka terimalah.”

Namun Umar tetap menolak.

Prajurit itu pun berkata, “Kalo begitu, belilah ia dariku, dan aku dengan senang hati akan menerima akad jual beli ini.”

Tawaran ini pun ditolak oleh Umar. Dan ia pun bersikeras agar sang prajurit itu membawa pergi budak perempuan tersebut.

Budak perempuan itu pun menangis dan berkata, “Kalau begini jadinya, mana bukti cintamu selama ini wahai amirul mukminin?”

Umar menjawab, “Cinta itu tetap ada di dalam hatiku, bahkan jauh lebih kuat daripada yang dahulu-dahulu, akan tetapi, kalau aku menerimamu, aku khawatir tidak termasuk dalam golongan orang yang “menahan dirinya dari keinginan hawa nafsu”.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Monday, October 31, 2016

Hafalan Yang Sangat Luar Biasa Ulama Besar Abu Hurairah


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifyArMRiriCEJ_jG_k7mGoQTGHvSLU3AOAzXgnJGHIz0R1juSc2SeWyCqO_3g_5NX6E_7c2vKqc9QP45RieWkgyWH8wieHu7no_2WGCoEmEFd6xd98l4TwCRlVXqPR_DpxeTaOwm3Cp4s/s1600/15.jpg

حدثنا أحمد بن أبي بكر أبو مصعب قال: حدثنا محمد بن إبراهيم بن دينار، عن ابن أبي ذئب، عن سعيد المقبري، عن أبي هريرة قال : قلت: يا رسول الله، إني أسمع منك حديث كثيرا أنساه؟ قال: (أبسط رداءك). فبسطته، قال: فغرف بيديه، ثم قال: (ضمه) فضممته، فما نسيت شيئا بعده.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi Bakr Abu Mush’ab, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibraahiim bin Diinaar, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Sa’iid Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah, ia berkata : Aku berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar banyak hadits darimu, namun (saat ini) aku lupa”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Bentangkanlah selendangmu !’. Akupun kemudian membentangkan kain selendangku. Lalu beliau menggerakkan tangannya seakan-akan menciduk sesuatu, kemudian bersabda : ‘Tangkupkanlah ia’. Aku pun menangkupkannya. Semenjak itu aku tidak pernah melupakan sesuatu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 119].

Muslim meriwayatkan dengan lafadh :

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم “من يبسط ثوبه فلن ينسى شيئا سمعه مني” فبسطت ثوبي حتى قضى حديثه. ثم ضممته إلي. فما نسيت شيئا سمعته منه.

“Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa yang membentangkan pakaiannya, niscaya ia tidak akan lupa sedikitpun apa-apa yang ia dengar dariku’. Maka aku (Abu Hurairah) pun membentangkan pakaianku hingga beliau selesai bersabda. Kemudian aku lipat/tangkupkan pada diriku. (Semenjak saat itu), aku tidak lupa terhadap apa-apa yang aku dengardari beliau” [Shahih Muslim no. 2492].

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وفي هذين الحديثين فضيلة ظاهرة لأبي هريرة ومعجزة واضحة من علامات النبوة، لأن النسيان من لوازم الإنسان، وقد اعترف أبو هريرة بأنه كان يكثر منه ثم تخلف عنه ببركة النبي صلى الله عليه وسلم.

“Dalam dua hadits ini terdapat keutamaan nyata yang ada pada diri Abu Hurairah, serta mu’jizat yang jelas dari tanda-tanda kenabian. Hal itu dikarenakan, sifat lupa adalah sesuatu yang biasa terjadi pada diri manusia. Abu Hurairah sendiri mengakui bahwa dirinya dulu mempunyai banyak sifat lupa, kemudian hal ini hilang dikarenakan barakah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Fathul-Baariy, 1/215].

Kemudian beliau (Ibnu Hajar) melanjutkan :

وفي المستدرك للحاكم من حديث زيد بن ثابت قال: “كنت أنا وأبو هريرة وآخر عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال: “ادعوا.” فدعوت أنا وصاحبي وأمن النبي صلى الله عليه وسلم، ثم دعا أبو هريرة فقال: اللهم إني أسألك مثل ما سألك صاحباي، وأسألك علما لا ينسى. فأمن النبي صلى الله عليه وسلم فقلنا: ونحن كذلك يا رسول الله، فقال: “سبقكما الغلام الدوسي”.

“Dan dalam Al-Mustadrak karangan Al-Haakim dari hadits Zaid bin Tsaabit ia berkata : ‘Aku, Abu Hurairah, dan seorang yang lain pernah berada di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda : ‘Berdoalah kalian’. Aku dan temanku pun berdoa, sementara Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengaminkannya. Kemudian Abu Hurairah berdoa : ‘Ya Allah, sesunguhnya aku memohon kepada-Mu semisal apa yang dimohonkan oleh dua orang shahabatku ini. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu yang tidak pernah aku lupakan’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengaminkannya. Kami pun berkata : ‘Dan kami pun memohon seperti itu juga wahai Rasulullah’. Beliau menjawab : ‘Anak dari suku Daus itu telah mendahului kalian berdua” [idem].[1]

Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :

حماد بن زيد: حدثني عمرو بن عبيد الانصاري: حدثني أبو الزعيزعة كاتب مروان: أن مروان أرسل إلى أبي هريرة، فجعل يسأله، وأجلسني خلف السرير، وأنا أكتب، حتى إذا كان رأس الحول، دعابه، فأقعده من وراء الحجاب، فجعل يسأله عن ذلك الكتاب، فما زاد ولا نقض، ولا قدم ولا أخر.
قلت: هكذا فليكن الحفظ.

“(Berkata) Hammad bin Zaid : Telah menceritakan kepadaku ‘Amr bin ‘Ubaid Al-Anshaariy : Telah menceritakan kepadaku Abuz-Zu’aizi’ah, sekretaris Marwaan : Bahwasannya Marwaan pernah mengutusnya seseorang kepada Abu Hurairah untuk menanyakan sesuatu. Ia (Marwaan) menyuruhku duduk di belakang pembaringan, dan aku menulis (apa yang ia tanyakan kepada Abu Hurairah). Hingga datang awal tahun berikutnya, Marwaan memanggil Abu Hurairah dan menyuruhnya duduk di balik hijab. Lalu ia bertanya kepada Abu Hurairah tentang isi tulisan (yang dulu pernah ia tanyakan kepadanya). Tidaklah Abu Hurairah menambahkan, mengurangi, mendahulukan, dan mengakhirkan isi tulisan tersebut.

Aku (Adz-Dzahabiy) berkata : Begitulah yang seharusnya (yang dilakukan dalam) menghapal” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 2/598].[2]

Adz-Dzahabiy rahimahullah mensifati Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu sebagai :

الامام الفقيه المجتهد الحافظ، صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم، أبو هريرة الدوسي اليماني.
سيد الحفاظ الاثبات.

“Al-imam, al-faqih, al-mujtahid, al-haafidh, salah seorang shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah Ad-Dausiy Al-Yamaaniy. Penghulu penghapal hadits yang terpercaya” [idem, 2/578].

وقد كان أبو هريرة وثيق الحفظ، ما علمنا أنه أخطأ في حديث.

“Abu Hurairah adalah orang yang terpercaya dalam hapalannya. Kami tidak pernah mengetahuinya salah dalam (meriwayatkan) hadits” [idem, 2/621].

عن بن عمر أنه قال لأبي هريرة : يا أبا هريرة أنت كنت ألزمنا لرسول الله صلى الله عليه وسلم وأحفظنا لحديثه

Dari Ibnu ‘Umar, bahwasannya ia pernah berkata kepada Abu Hurairah : “Wahai Abu Hurairah, engkau adalah orang yang paling sering mendampingi (bersama) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan paling hapal hadits beliau di antara kami” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3836, Ahmad 2/2, ‘Abdurrazzaq no. 6270, Al-Haakim 3/510, dan Ibnul-Atsir dalam Usudul-Ghaabah 6/320. At-Tirmidziy berkata : “Hadits ini hasan”. Al-Albaniy berkata : “Shahiihul-isnaad”].

عن محمد بن عمارة بن عمرو بن حزم أنه قعد في مجلس فيه أبو هريرة وفيه مشيخة من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم بضعة عشر رجلا فجعل أبو هريرة يحدثهم عن النبي صلى الله عليه وسلم فلا يعرفه بعضهم ثم يتراجعون فيه فيعرفه بعضهم ثم يحدثهم ولا يعرفه بعضهم ثم يعرفه بعض حتى فعل ذلك مرارا فعرفت يومئذ أن أبا هريرة أحفظ الناس عن النبي صلى الله عليه وسلم

Dari Muhammad bin ‘Umaarah bin ‘Amr bin Hazm, bahwasannya ia pernah duduk di dalam suatu majelis yang dihadiri oleh belasan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang telah tua (senior). Lalu Abu Hurairah menyampaikan satu hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Sebagian di antara mereka ada yang tidak mengetahui hadits tersebut. Maka mereka mengulang-ulangnya hingga benar-benar mengetahuinya (menghapalnya). Kemudian Abu Hurairah menyampaikan hadits yang lain kepada mereka dimana sebagian di antara mereka tidak mengetahuinya. (Mereka mengulangnya) hingga mereka mengetahuinya. Begitulah yang terjadi berulang-ulang. Sejak itu saat itu aku mengetahui bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling hapal hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Kabiir 1/186-187 no. 574].

Tidaklah heran jika Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu – dengan kelebihannya tersebut – menjadi shahabat paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

عن أبي هريرة قال: ما من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أحد أكثر حديثا عنه مني، إلا ما كان من عبد الله بن عمرو، فإنه كان يكتب ولا أكتب.

Dari Abu Hurairah, ia berkata : “Tidak ada seorang pun dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lebih banyak dariku dalam meriwayatkan hadits dari beliau, kecuali ‘Abdullah bin ‘Amr. Ia menulis, sedangkan aku tidak menulis” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 113, Ahmad 2/248-249, At-Tirmidziy no. 2668, dan yang lainnya].[3]

عن أبي أنس بن أبي عامر قال كنت عند طلحة بن عبيد الله فدخل عليه رجل فقال يا أبا محمد ما ندري هذا اليماني أعلم برسول الله منكم أم هو يقول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم يقل فقال والله ما نشك أنه سمع من رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم نسمع وعلم ما لم نعلم إنا كنا أقواما أغنياء ولنا بيوتات وأهلون وكنا نأتي نبي الله صلى الله عليه وسلم طرفي النهار ثم نرجع وكان مسكينا لا مال له ولا أهل إنما كانت يده مع يد نبي الله صلى الله عليه وسلم وكان يدور معه حيث دار فما نشك أنه قد علم ما لم نعلم وسمع ما لم نسمع ولم نجد أحدا فيه خير يقول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم يقل

Dari Abu Anas bin Abi ‘Aamir, ia berkata : “Aku pernah berada di sisi Thalhah bin ‘Ubaidillah. Lalu ada seorang laki-laki yang masuk menemuinya dan berkata : ‘Wahai Abu Muhammad, demi Allah, tidaklah kami mengetahui orang Yaman ini (yaitu Abu Hurairah – Abul-Jauzaa’) paling tahu tentang (hadits) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dibanding kalian (para shahabat). Ataukah ia mengatakan tentang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang tidak beliau sabdakan ?’. Thalhah berkata : ‘Demi Allah, tidaklah kami ragu bahwasannya ia telah mendengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang tidak kami dengar, dan ia mengetahui apa-apa yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya kami ada kaum yang berkecukupan, memiliki rumah dan keluarga. Kami mendatangi Nabiyullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada pagi dan sore, lalu kami pulang. Adapun ia adalah seorang yang miskin, tidak mempunyai harta dan keluarga. Tangannya selalu bergandengan dengan tangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia selalu bersama beliau dimanapun beliau berada. Oleh karena itu, kami tidak ragu bahwa ia mengetahui apa-apa yang tidak kami ketahui dan mendengar apa-apa yang tidak kami dengar. Kami tidak mendapati seorang pun yang mempunyai kebaikan mengatakan tentang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apa-apa yang tidak beliau sabdakan” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (At-Tatabbu’) 3/627-628, Abu Ya’laa no. 636-637, Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah wan-Nihaayah 8/109, dan At-Tirmidziy no. 3837. Rijaal-nya tsiqah, namun dalam sanad ini Ibnu Ishaaq telah melakukan ‘an’anah, sedangkan ia seorang mudallis].

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCxzW2GWVPfZULqZ_cO4xhSC3ujt0LR0TpZ62MtVUMZvKOnvSlcSBd0gRiQjKkaF1Z7knE3v1Bw38R03YhrzMMaaxUtXBTjwNCzfQoF8LMJiLUAygEeHVwdfLH-NLiEWmLdwTcRQpSpYk/s640/Ummu+Abu+Hurairah.jpg

Ibnu Shalaah rahimahullah berkata :

أكثر الصحابة حديثا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو هريرة.

“Shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Hurairah” [‘Uluumul-Hadiits, hal. 265].

Beberapa peneliti kontemporer, diantaranya Dr. Dliyaaurrahmaan Al-A’dhamiy telah melakukan penelitian ulang terhadap musnad Abu Hurairah yang diambil dari Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan ditambah dengan riwayat dalam al-kutubus-sittah, dengan menyatakan bahwa jumlah hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berjumlah 1336 buah. Kemudian beliau berkata : “Benar bahwa ada sejumlah riwayat lain (yang diriwayatkan Abu Hurairah) di dalam kitab Al-Mustadrak milik Al-Haakim, Sunan Al-Baihaqiy, Sunan Ad-Daaruquthniy, Mushannaf ‘Abdirrazzaq, dan kitab-kitab hadits yang lain. Namun saya berani memastikan bahwa riwayat-riwayat tersebut tidak mencapai jumlah yang disebutkan oleh para ulama. Bahkan menurut dugaan kuat, tidak mencapai 2000 hadits” [Abu Hurairah fii Dlau’i Marwiyyatihi oleh Dr. Dliyaaurrahmaan Al-A’dhamiy, hal. 76].[4]

Semoga Allah ta’ala meridlainya dan membalas kebaikannya dengan jannah.

[Abul-Jauzaa’ – http://abul-jauzaa.blogspot.com].

[1] Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (At-Tatabbu’)3/624. Al-Haakim berkata : “Sanadnya shahih, namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim”. Pernyataan Al-Haakim ini tidak benar, sebab padanya ada perawi yang bernama Hammaad bin Syu’aib bin Ismaa’il, seorang yang dla’iif. Namun ia mempunyai mutaba’ah dari Muhammad bin Ibraahiim sebagaimana dalam As-Sunan Al-Kubraa oleh An-Nasa’iy 5/374 no. 5839. Muhammad bin Ibraahiim adalah seorang yang sangat jujur. Oleh karena itu, derajat hadits ini adalah hasan.

[2] Riwayat tersebut dibawakan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (At-Tatabbu’) 3/625-626 dan Taariikh Dimasyq 20/89. Sanad ini shahih hingga Abuz-Zu’aizi’ah sebagaimana dikatakan oleh Al-Haakim dan disepakati Adz-Dzahabiy. Adapun Abuz-Zu’aizi’ah sendiri, maka ia majhul sebagaimana dikatakan oleh Abu Haatim dalam Al-Jarh wat-Ta’diil 9/375 no. 1734.

[3] Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

هذا استدلال من أبي هريرة على ما ذكره من أكثرية ما عند عبد الله بن عمرو أي ابن العاص على ما عنده، ويستفاد من ذلك أن أبا هريرة كان جازما بأنه ليس في الصحابة أكثر حديثا عن النبي صلى الله عليه وسلم منه إلا عبد الله، مع أن الموجود المروي عن عبد الله بن عمرو أقل من الموجود المروي عن أبي هريرة بأضعاف مضاعفة، فإن قلنا الاستثناء منقطع فلا إشكال، إذ التقدير: لكن الذي كان من عبد الله وهو الكتابة لم يكن مني، سواء لزم منه كونه أكثر حديثا لما تقتضيه العادة أم لا. وإن قلنا الاستثناء متصل فالسبب فيه من جهات: أحدها أن عبد الله كان مشتغلا بالعبادة أكثر من اشتغاله بالتعليم فقلت الرواية عنه. ثانيها أنه كان أكثر مقامه بعد فتوح الأمصار بمصر أو بالطائف ولم تكن الرحلة إليهما ممن يطلب العلم كالرحلة إلى المدينة، وكان أبو هريرة متصديا فيها للفتوى والتحديث إلى أن مات، ويظهر هذا من كثرة من حمل عن أبي هريرة، فقد ذكر البخاري أنه روى عنه ثمانمائة نفس من التابعين، ولم يقع هذا لغيره. ثالثها ما اختص به أبو هريرة من دعوة النبي صلى الله عليه وسلم له بأن لا ينسى ما يحدثه به كما سنذكره قريبا. رابعها أن عبد الله كان قد ظفر في الشام بحمل جمل من كتب أهل الكتاب فكان ينظر فيها ويحدث منها فتجنب الأخذ عنه لذلك كثير من أئمة التابعين.

……….

ويحتمل أن يقال تحمل أكثرية عبد الله بن عمرو على ما فاز به عبد الله من الكتابة قبل الدعاء لأبي هريرة لأنه قال في حديثه: “فما نسيت شيئا بعد ” فجاز أن يدخل عليه النسيان فيما سمعه قبل الدعاء، بخلاف عبد الله فإن الذي سمعه مضبوط بالكتابة،

“Ini adalah pendalilan dari Abu Hurairah atas apa yang ia sebutkan bahwa hadits ‘Abdullah bin ‘Amr lebih banyak daripada yang ia ada padanya. Dari ucapan Abu Hurairah ini dapat diambil faedah bahwa ia menyatakan secara tegas tidak ada shahabat yang mempunyai hadits lebih banyak darinya kecuali ‘Abdullah bin ‘Amr. Padahal, hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr lebih sedikit dari Abu Hurairah (yaitu dalam kitab-kitab hadits). Jika kita katakan pengecualian (dalam ucapan Abu Hurairah) di atas bersifat terputus, maka tidak ada masalah (isykaal)padanya; karena penjabarannya : ‘akan tetapi apa yang dilakukan ‘Abdullah, yaitu menuliskan hadits, tidak aku melakukannya. Sama saja, apakah ia mempunyai lebih banyak hadits ataupun tidak’. Jika kita katakan bahwa pengecualian tersebut bersifat tersambung, maka sebabnya bisa dijelaskan dalam beberapa sisi : (1). ‘Abdullah lebih banyak menyibukkan diri dengan ibadah daripada mengajar, sehingga riwayat yang diterima darinya lebih sedikit. (2). Setelah penaklukan banyak kota/daerah, ‘Abdullah lebih banyak menetap di Mesir atau Tha’if yang notabene bukan sebagai tujuan menuntut ilmu seperti halnya Madinah. Sedangkan Abu Hurairah menjadi tempat rujukan fatwa dan periwayatan hadits hingga ia meninggal. Hal ini terlihat dari banyaknya orang yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah. Al-Bukhariy menyebutkan bahwa jumlah mereka mencapai 800 orang dari kalangan tabi’in. Jumlah ini tidak dicapai oleh shahabat yang lain. (3) Keistimewaan yang dimiliki Abu Hurairah dari doa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam padanya, bahwa ia tidak akan melupakan apa yang ia riwayatkan. (4) ‘Abdullah bin ‘Amr lama menetap di Syaam dengan membawa onta yang mengangkut kitab-kitab Ahli KItab. Ia membacanya dan membicarakannya. Oleh karena itu, para pemuka tabi’in menjauhkan diri dari mengambil hadits darinya.

……

Dan tidak menutup kemungkinan kelebihan ‘Abdullah bin ‘Amr (atas Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhum) dipahami sebagai kelebihannya dalam hal penulisan sebelum adanya doa (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam) kepada Abu Hurairah. Karena ia berkata dalam haditsnya : ‘Semenjak itu aku tidak pernah melupakan sesuatu’. Maka, boleh jadi ia pernah mengalami kelupaan atas apa yang didengarnya dari beliau sebelum mendapat doa tersebut. Berbeda halnya dengan ‘Abdullah, dimana apa-apa yang didengarnya terjaga oleh tulisan” [Fathul-Baariy, 1/207].

[4] Tentu saja ini berbeda dengan beberapa pernyataan ulama mutaqaddimiin – misalnya Ibnu Hazm – yang menyatakan jumlah hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu sebanyak 5374 buah. Wallaahu a’lam.




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Dulu Menghujat, Kemudian Tersungkur Takluk dan Memohon Maaf di Hadapan Kuburannya.



Penghina Nabi Muhammad yang Kini Masuk Islam: “Maafkan saya ….!”
Liputan 6, Internasional, 23 April 2013. Arnoud Van Doorn, mantan politisi Belanda yang anti-Islam, sekaligus eks anggota terkemuka partai sayap kanan yang dipimpin Geert Wilders, menjadi mualaf.




Seperti dimuat Saudi Gazette, Selasa (23/4/2013), kini ia makin memantapkan langkahnya sebagai seorang muslim dengan mengunjungi makam Nabi Muhammad di Madinah. Di sana, ia salat dan memohon maaf karena menjadi bagian dari film yang menghujat Islam dan Rasulullah, “Fitna”.

Ia juga berniat membuat film internasional untuk mengkampanyekan Islam sebagai agama kasih. “Saya akan mencoba yang terbaik, untuk memperbaiki dampak buruk dari apa yang saya lakukan terhadap Islam dan Nabi melalui film “Fitna”, “kata dia.

Di masa lalu, Arnoud di antara para petinggi Partai untuk Kebebasan PVV yang memproduksi film “Fitna”. Bulan lalu ia memutuskan untuk masuk Islam setelah mempelajari agama yang kerap ia hina, juga Rasulullah yang sebelumnya ia lecehkan.





Arnoud mengaku, kemarahan umat muslim dunia yang mengutuk film yang dibuatnya, “memaksanya” untuk mempelajari Islam. Yang kemudian menuntunnya pada hidayah.

Setelah bertemu dua imam di Madinah, Sheikh Ali Al-Hudaifi dan Sheikh Salah Al-Badar, Arnoud menuju Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah.

Awalnya Dianggap Lelucon

Sebelumnya, Arnoud mengumumkan keputusan untuk memeluk Islam di profil Twitternya. Ia juga memposting tweet Kalimat Syahadat dalam Bahasa Arab.

Pada awalnya, semua orang yang melihatnya, menganggapnya sebagai lelucon. Namun, Arnoud yang saat ini menjadi penasehat Pemerintah Kota Den Haag kemudian secara pribadi mengonfirmasi pilihannya menjadi muslim dalam surat resmi yang ditujukan pada walikota.

“Aku bisa memahami orang-orang yang skeptis dengan pilihanku, yang bagi sebagian orang tak diharapkan,” kata Arnoud pada Al Jazeera. “Ini adalah keputusan besar yang sama sekali tak bisa aku anggap enteng.”

Ia mengaku, rekan-rekan di lingkaran dalam partainya sudah lama mengetahui ia secara aktif meneliti Alquran, Hadis, Sunnah, dan tulisan tentang Islam lainnya. “Sudah hampir setahun lamanya. Aku juga sering berdiskusi dengan umat muslim tentang agama mereka.”






Arnoud mengaku, kerap mendengar begitu banyak cerita negatif tentang Islam. “Tapi saya bukan orang yang mengikuti pendapat orang lain tanpa melakukan kajian sendiri.”

Kini, pria 46 tahun itu telah berpisah dengan partai yang dipimpin Wilders dan maju ke pemilihan anggota ke Dewan Kota Den Haag dari jalur independen.

Keputusan Arnoud menjadi muslim mendapatkan reaksi beragam di Belanda. “Sejumlah orang menilai saya pengkhianat. Namun lainnya menganggapku telah membuat keputusan terbaik,” kata dia. “Pada umumnya reaksi yang saya dapatkan positif. Saya juga menerima banyak dukungan di Twitter.”

Ia juga menilai, pandangan negatif Barat terhadap agama Islam mayoritas didasarkan prasangka dan ketidaktahuan. (Ein)



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Sunday, October 30, 2016

Wafatnya Seorang Ulama itu Istimewa

http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/kota-tua-bukhara-uzbekistran-_120731190138-997.jpg


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ilmu al-Quran dan sunah adalah sumber penerang dunia. Sebab, wahyu bagi penduduk bumi merupakan cahaya yang akan membimbing manusia ke jalan yang benar. Allah mengingatkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran). (QS. an-Nisa’: 174)

Karena itu, kehadiran para ulama dan para pengajar al-Quran dan sunah merupakan rahmat bagi penduduk bumi. Melalui jasa mereka, masyarakat menjadi paham tentang hakekat syariat. Dan Allah mencabut ilmu agama bagi penduduk bumi, dengan Allah wafatkan para ulama.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinanpimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam al-Quran ada satu ayat yang oleh sebagian ahli tafsir dijadikan dalil tentang peran ulama. Allah berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا

Apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah itu, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? (QS. ar-Ra’du: 41)

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menukil keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

وقال ابن عباس في رواية: خرابها بموت فقهائها وعلمائها وأهل الخير منها. وكذا قال مجاهد أيضا: هو موت العلماء

Dalam salah satu riwayat, Ibnu Abbas mengatakan, berkurangnya bumi dengan kematian fuqaha dan ulama, serta orang-orang soleh. Demikian pula yang dinyatakan Mujahid, ‘Berkurangnya bumi adalah kematian ulama.’ (Tafsir Ibnu Katsir, 4/472).

 Subhanallah…

Seperti itu sahabat Ibnu Abbas menafsirkan. Kita bisa memahami korelasinya. Ketika ulama meninggal, kebodohan mudah tersebar. Terlebih ketika orang bodoh angkat bicara masalah agama. Sehingga pelanggaran agama akan semakin mudah tersebar dan meraja lela. Bumi kehilangan ruh kebaikannya.

Para ulama ahlus sunah…

Mereka yang mengajarkan al-Quran dan sunah sesuai pemahaman para sahabat, berjasa besar bagi masyarakat. Karena jasa besarnya, banyak diantara mereka yang Allah tampakkan amal baiknya di akhir hayatnya. Agar manusia generasi setelahnya, selalu mengenang jasa baik mereka.
Peristiwa Indah di Akhir Hayatnya

Mereka wafat sambil menorehkan sejarah. Wafat, diiringi peristiwa yang dikenang manusia dari generasi ke generasi. Kita akan simak cuplikannya,

[1] Wafatnya Imam Ahmad

Iblis mengaku kalah,

Diceritakan oleh Abdullah putra Imam Ahmad,

Aku menghadiri proses meninggalnya bapakku, Ahmad. Aku membawa selembar kain untuk mengikat jenggot beliau. Beliau kadang pingsan dan sadar lagi. Lalu beliau berisyarat dengan tangannya, sambil berkata, “Tidak, menjauh…. Tidak, menjauh…” beliau lakukan hal itu berulang kali. Maka aku tanyakan ke beliau, “Wahai ayahanda, apa yang Anda lihat? Beliau menjawab,

إن الشيطان قائم بحذائي عاض على أنامله يقول: يا أحمد فتني وأنا أقول لا بعد لا بعد

“Sesungguhnya setan berdiri di sampingku sambil menggingit jarinya, dia mengatakan, ‘Wahai Ahmad, aku kehilangan dirimu (tidak sanggup menyesatkanmu).  Aku katakan: “Tidak, menjauhlah…. Tidak, menjauhlah….” (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 186)

Pengaruh dakwah luar biasa, membuat banyak orang masuk islam

Abu Hatim meriwayatkan pernnyataan al-Warkani, tetangganya Imam Ahmad,

أسلم يوم مات أحمد عشرون ألفا من اليهود والنصارى والمجوس

Pada hari wafatnya Imam Ahmad, ada 20 ribu yahudi, nasrani, dan majusi yang masuk islam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 10/342)

[2]  Wafatnya Abu Zur’ah

Abu Zur’ah ar-Razi, ahli hadis, salah satu gurunya imam Muslim. Beliau wafat dengan mentalqin dirinya sendiri.

Membaca hadis beserta sanadnya (nama perawinya) yang isinya,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang kalimat terakhirnya, Laa ilaaha illallaah, maka dia masuk surga.” (HR. Abu Daud 3118)

Dikisahkan oleh Al-Hafidz Abu Ja’far al-Tusturi,

Kami hadir ketika proses wafatnya Abu Zur’ah, bersama para ulama murid beliau lainnya, seperti Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, al-Mundzir bin Syadzan, dan beberapa ulama lainnya. Mereka ingin mempraktekkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Talqin orang yang hendak mati diantara kalian untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah…”

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEm8W20nfb1m9zsyixvrvadCe3x3KUX1Sxl952zcaEI7EsE0OvvODqtYf4burmAAc6UuNbD5j7keNkhsQtUiFqRb-oaceaf-Q_RER-DQCa1lmFgFXXCOUvJih12NUde_qqN4AsApoicL4/s640/ilmu-adalah-pelita.jpg

Namun mereka semua malu untuk mentalqin gurunya Abu Zur’ah. Tiba-tiba Abu Zur’ah yang dalam kondisi mau meninggal menyampaikan hadis dengan sanadnya,

حدثنا بندار ، حدثنا أبو عاصم ، حدثنا عبد الحميد بن جعفر ، عن صالح بن أبي عريب ، عن كثير بن مرة الحضرمي ، عن معاذ بن جبل، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Imam Bundar menceritakan kepada kami, bahwa Imam Abu Ashim menyampaikan kepada kami, bahwa Abdul Hamid bin Ja’far menceritakan kepada kami, dari Sholeh bin Abi Arib, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

 “Siapa yang kalimat terakhirnya, Laa ilaaha illallaah, maka dia masuk surga.”

Seketika setelah itu, beliau wafat.

(Ma’rifah Ulum al-Hadits, Imam Hakim, hlm. 76)

Subhanallah, wafatnya ahli hadis, diakhiri dengan menyampaikan hadis. Hadis yang berisi talqin kematian. Karena umumnya manusia akan mati sesuai kondisi kebiasaannya.

[3] Wafatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam, beliau wafat di penjara Qal’ah. Beliau mengakhiri hidupnya setelah membaca ayat yang maknanya sangat indah,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ . فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. al-Qamar: 54)

Salah satu muridnya, Ibnu Abdil Hadi bercerita,

أقبل الشيخ بعد إخراجها على العبادة والتلاوة والتذكر والتهجد حتى أتاه اليقين، وختم القرآن مدة إقامته بالقلعة ثمانين أو إحدى وثمانين ختمة انتهى في آخر ختمة إلى آخر اقتربت الساعة

Setelah Syaikhul Islam banyak menulis buku, beliau habiskan waktunya untuk beribadah, membaca al-Quran, dzikir, tahajud, hingga wafat. Selama di penjara, beliau mengkhatamkan al-Quran sebanyak 80 atau 81 kali. Dan di akhir bacaan beliau, beliau membaca,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ. فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. al-Qamar: 54)

[4] Wafatnya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani

Beliau termasuk ahli hadis dunia. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Wafat saat mendengar firman Allah dibacakan di sampingnya,

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS. Yasin: 58)

Dikisahkan oleh muridnya, as-Sakhawi dalam kitab al-Jawahir wa ad-Durar fi Tarjamati Syaikhul Islam Ibnu Hajr,

Sebelum wafat, beliau sakit selama sebulan. Di saat detik kematiannya, ada muridnya yang membaca surat Yasin. Saat muridnya membaca firman Allah,

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

Kemudian beliau wafat. Rahimahullah…

[5] Wafatnya al-Hafidz Ibnu Rajab

Beliau termasuk ahli hadis, menulis kitab syarah Shahih Bukhari. Namun tidak sampai selesai. Beliau hanya bisa menyelesaikan sampai bab janaiz.

Dan beliau wafat setelah mensyarah kitab shahih Bukhari di bab al-Janaiz.

[6] Wafatnya Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi

Beliau menulis kitab tafsir Adhwa’ul Bayan – Tafsir al-Quran bil Qur’an. Namun tidak sampai selesai. Lalu dilanjutkan oleh muridnya, Syaikh Athiyah Muhammad Salim.

Beliau wafat setelah membahas firman Allah,

أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah hizbullah… ketahuilah bahwa hizbullah adalah orang-orang yang muflih (beruntung). (QS. al-Mujadilah: 22)

[7] Wafatnya Muhammad Rasyid Ridha

Beliau penulis kitab Tafsir al-Manar. Namun tidak sampai selesai. Hanya sampai surat Yusuf.

Dan beliau wafat setelah selesai menulis tafsir firman Allah,

رَبِّ قَدْ آَتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (QS. Yusuf: 101)

Kejujuran dalam mengajarkan kebenaran kepada masyarakat, itulah faktor terbesar mereka mendapat kebahagiaan. Allah tunjukkan dalam karya mereka.  Yang kami sebutkan hanya sekelumit dari sejarah mereka para ulama.

Al-Hafidz Ibnu Katsiir pernah menasehatkan,

حافظوا على الإسلام في حال صحتكم وسلامتكم لتموتوا عليه ، فإن الكريم قد أجرى عادته بكرمه أنه من عاش على شيء مات عليه ، ومن مات على شيء بعث عليه ، فعياذا بالله من خلاف ذلك

“Peliharalah Islam ketika kamu sehat wal afiat, agar engkau mati di atas islam. Sesungguhnya Dzat yang Maha mulia dengan kemurahan-Nya akan memberlakukan seseorang sesuai kebiasaannya. Bahwa orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya. Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. Sungguh kita berlindung kepada Allah, jangan sampai menyimpang dari kebenaran. (Tafsiir Ibnu Katsir, 2/87)

Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Mush’ab bin Umair, Pemuda yang Tinggalkan Dunia Demi Mengharap Akhirat

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1CKhaEIGBaJjw4yBltD2ukQKjS6KmTA_Vi9MpJyd77kZa-BKyHby5oEyjDV3LApUyycrj_sURRMsxeeyaBIMlDvzcj8qorz5c2yBd-huN21ERY5LEQdm3YbVEFryQxaN3Nlbka40P7DM/s1600/New+Picture+%25282%2529.png

PEMUDA masa kini lebih menyukai dunia daripada memikirkan kehidupannya di akhirat kelak. Padahal, dunia hanyalah tempat yang sementara. Sedang, akhirat adalah tempat yang paling kekal. Jika tidak berusaha untuk kehidupan yang lebih baik di akhirat, maka tentu kesengsaraanlah yang akan ia peroleh nantinya. Oleh sebab itu, alangkah lebih baik jika kita belajar pada Mus’ab bin Umair. Mengapa? Sebab, ia adalah seorang pemuda yang rela meninggalkan dunia demi akhirat.

Sebelum Umair mengenal Islam, ia adalah seorang yang kaya raya. Ibunya selalu memanjakannya dengan kesenangan dunia. Bahkan, segala apa yang ia inginkan pasti terpenuhi. Hanya saja, ia tergolong orang-orang jahiliyah yang menyembah berhala, suka meminum khamr, penggemar pesta dan nyanyian.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetuk hati pemuda rupawan yang selalu tampil rapi dan harum ini. Sehingga, ia tertarik menyembah Islam, agama yang disebarkan oleh Rasulullah ﷺ. Di mana, ia mulai menyatakan dirinya memeluk Islam dengan kesungguhan hati, ketika Rasulullah ﷺ sedang berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah milik Al-Arqam bin Abi Al-Arqam.

Pernyataan Umair memeluk Islam ini disembunyikan. Tentu, ini adalah masa-masa sulit baginya. Meski begitu, ia tetap bersemangat mempelajari ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah. Hingga, menjadikannya sebagai salah seorang sahabat Rasul yang paling dalam ilmunya.

Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Umair. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.

Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Umair kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus berdiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Umair meninggalkan agamanya.

Saudara Umair, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya.” Umair pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

http://i2.wp.com/www.hisbah.net/wp-content/uploads/2016/06/Duta-Pertama-Dalam-Islam-Mush%E2%80%99ab-bin-%E2%80%98UmairDuta-Pertama-Dalam-Islam-Mush%E2%80%99ab-bin-%E2%80%98Umair.jpg?fit=700%2C350

Hari demi hari, siksaan yang dialami Umair kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, ia juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.

Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah ﷺ di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang,” (HR. Tirmidzi No. 2476).

Demikianlah perubahan keadaan Umair ketika ia memeluk Islam. Ia mengalami penderitaan secara materi. Kenikmatan-kenikmatan materi yang biasa ia rasakan tidak lagi ia rasakan ketika memeluk Islam. Bahkan, sampai ia tidak mendapatkan pakaian yang layak untuk dirinya. Ia juga mengalami penyiksaan secara fisik sehingga kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya menderita.

Penderitaan yang Umair alami juga ditambah lagi dengan siksaan perasaan ketika ia melihat ibunya yang sangat ia cintai memotong rambutnya, tidak makan dan minum, kemudian berjemur di tengah teriknya matahari agar sang anak keluar dari agamanya. Semua yang ia alami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh dengan keimanannya.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Lawan Bangsa Romawi, Rasulullah Angkat Seorang Pemuda Jadi Pemimpin Perang

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3M2atQ9y799mM1lalwhJf5iBo5UhAWMia8NgqCtwjjtTxG8_9R1c7T13nMsfjJ17Zl70CfKrJzW_7_ih6atsmrhzYNPDx8ZgfX1wRnOzCdk1bcdMjVgUCV_Jpyjm-XDumCtOvUZOZLD4O/s1600/komandan-jihad1.jpg

PEPERANGAN di masa Rasulullah ﷺ memang sering terjadi. Hal ini akibat adanya orang-orang yang tidak menyukai keberadaan Rasulullah, khususnya dalam menyebarkan agama Islam. Selain itu, haus akan kekuasaan juga menjadi alasan terjadinya pertumpahan darah.

Ada hal yang cukup menarik, ketika Rasulullah dan pasukannya akan melawan bangsa Romawi. Ketika itu, Rasulullah tidak bisa ikut berperang. Alhasil, beliau menunjuk orang lain untuk menggantikan posisinya sebagai pemimpin perang. Tahukah Anda, siapa yang dipilih olehnya? Ternyata bukanlah dari kalangan tua, melainkan salah seorang pemuda. Ya, dialah Usamah bin Zaid yang ketika itu usianya belum genap dua puluh tahun.

Rasulullah memerintahkan Usamah untuk berhenti di Balqa’ dan Qal’atut Daarum dekat Gazzah yang termasuk wilayah kekuasan Romawi. Ketika bala tentara muslim bersiap diri, Rasulullah jatuh sakit. Semakin lama sakit Rasulullah semakin parah. Oleh karena itu, pemberangkatan pasukan ditangguhkan hingga keadaan Rasulullah membaik.

Ternyata, pengangkatan putra Zaid bin Haritsah ini sebagai komandan tidak berkenan di hati beberapa sahabat. Mereka berkata, “Bagaimana Nabi dapat menunjuk seorang anak muda yang belum tumbuh janggut sebagai komandan pasukan kami?” Hal itu sampai juga ke telinga Rasulullah. Terhadap hal ini, Rasulullah bersabda, “Demi Allah, jika kalian kini mengecam pengangkatannya, sungguh hal itu sama seperti dahulu kamu telah mengecam pengangkatanku terhadap ayahnya (Zaid) sebagai pemimpin. Demi Allah, sesungguhnya ia (Zaid ) amat layak untuk memegang jabatan kepemimpinan itu. Begitu juga putranya Usamah, ia sungguh layak menjadi panglima. Oleh karena itu, perlakukan dia dengan baik.”

Kemudian, Rasulullah mendesak mereka untuk berangkat. Rasulullah bersabda, “Siapkan pasukan Usamah, Lepaskan pasukan Usamah, berangkatlah Sariyyah (ekspedisi) Usamah”.

Setelah beberapa lama sakit, Rasulullah wafat. Abu Bakar diangkat sebagai khalifah. Kemudian, Khalifah Abu Bakar memerintahkan agar pengiriman pasukan Usamah tetap dilanjutkan. Namun sekelompok kaum muslim meminta agar pemimpin pasukan diganti oleh seorang sahabat yang lebih tua dan berpengalaman. Mereka meminta Umar untuk berbicara tentang hal itu kepada Khalifah Abu Bakar.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiduFYXdMDiGn08933UgXgwIXxEJgapkQ2vahsV1HcrPlX128A3pISaQvB8pHyCqF9tEwMRKIhmzSavpnzGE5MwAcLUegiuaWouvWDqgwM-ps1bS6H_lmsn2T09tuN_FA22gh5e8yvW_JPL/s1600/pemuda+kesayangan+Rasulullah.JPG

Selanjutnya, Umar menyampaikan keinginan hal itu kepada Abu Bakar. Mendengar hal itu, Abu Bakar marah dan menarik baju Umar. Lalu ia berkata, “Wahai putra Khattab! Rasulullah telah mengangkat Usamah, apakah engkau memintaku membatalkan keputusan Rasulullah. Demi Allah, tidak akan aku lakukan hal itu.”

Akhirnya, pasukan muslim tetap berangkat dan dipimpin oleh Usamah bin Zaid. Abu Bakar mengantarkan pasukan Usamah. Ia memerintahkan Usamah untuk melaksanakan perintah Rasulullah dengan sebaik-baiknya. Abu Bakar juga meminta izin kepada Usamah agar Umar tinggal dan membantu dirinya. Usamah pun mengizinkan Umar tetap tinggal di Madinah.

Setelah itu, Usamah dan pasukan muslim bergerak ke medan perang. Usamah melaksanakan semua perintah Rasulullah dengan sebaik-baiknya. Ketika sampai di Balqa’dan al’arut Daarum, Usamah dan pasukannya berhasil mengalahkan pasukan tentara Romawi. Dengan demikian, mereka telah memberikan jalan bagi pembebasan Syam (Syria) dan Mesir.

Usamah dan pasukannya kembali dari medan perang dengan kemenangan. Mereka membawa banyak harta rampasan perang. Ucapan Rasulullah terbukti benar. Usamah memang layak diangkat menjadi pemimpin pasukan. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Saturday, October 29, 2016

Ternyata Al-Quran Sudah Berbicara soal Gravitasi Jauh sebelum Newton


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8ZvE1Hf9DQNhpwml93u0jSmDvQCTTBe9QaVfGcOola-FlBZRxQy_fPHG8kOf95pjTfjhKgzYCDCubyIyconMrRPq3J_Bk9_bzVRQfRdHgSMe1PN_biy6wE_579ouK3g83eaDPmRz5co0/s1600/Jauh+Sebelum+Newton%252C+Al-Quran+Berbicara+Soal+Gravitasi.jpg

SIAPA yang tak kenal dengan Newton? Seorang fisikawan yang terkenal dengan hukum gravitasinya ini sudah tak asing lagi di telinga kita.

Tahukah Anda? Jauh sebelum Newton, Al-Quran  sudah berbicara soal gravitasi di mana mungkin kita sempat bertanya-tanya mengapa planet, bulan, bintang, matahari serta segala yang ada di bumi tidak berbenturan satu sama lain serta tatasurya yang tidak pernah jatuh.

Pertanyaan tentang bagaimana bisa bumi ini, gunung, serta lautan bisa berpijak secara tetap dan stabil mungkin juga sempat terpikirkan oleh kita. Seperti yang kita tahu dan pelajari di bangku sekolah, hukum gravitasilah yang berlaku dan Al-Quran telah menyatakannya sebelum Newton.

Dalam Al-Quran surat Ghafir ayat ke 64 Allah telah berfirman, “Allah lah yang telah menjadikan bagi kamu sekalian bumi sebagai tempat menetap.”

Disebutkan bahwa bumi dijadikan oleh Allah sebagai tempat menetap kita semua dan langit dijadikan untuk menjadi bangunan supaya bentuk kita lebih bagus dan dibentuk lebih baik, serta untuk memberikan kita rezeki baik. Dia-lah Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Al-Quran bicara tentang gravitasi serta bumi dalam kitab tafsir oleh Ibnu Katsir dan dikatakan di sana kata (qararan) yaitu bumi sebagai hamparan tempat tinggal dan tempat berpijak manusia dengan kondisi stabilnya sehingga layak menjadi kehidupan kita semua meski selalu beredar.

Tentu bumi yang kita tinggali saat ini tidak lepas dari karunia dan berkat rahmat Allah subhanahu wa ta'ala  yang menjadikan bumi ini sangat luas namun selalu dalam keadaan stabil. Banyak yang bertanya soal mengapa bisa demikian. Selalu ada dua jawaban, yaitu segi fakta ilmiah serta ilmiah mukjizat.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEFzKhzTSimcy8aZ_hXdOWidoDnWwQFoMYGBcXS3s3cfS93ZfsbuJeb2LRNPDNqvdT6MCpg0yuYcPHGO8xYOy9bwlD7sdT0v3YsuQWnQdWatJ81mKRYhDVYFdd-TNILHnLTWkVDCZ83txW/s1600/atmosfer+bumi.jpg

Menurut Riset Ilmiah

Para ilmuwan terdahulu telah melakukan riset ilmiah tentang gravitasi dan telah dikatakan bahwa ada gaya gravitasi yang dimiliki semua benda atau gaya tarik menarik pada segala partikel di alam semesta yang mempunyai massa. Dijelaskan bahwa hasil kali massa benda dengan percepatan gravitasi bumi merupakan berat suatu benda tersebut.

Hukum gravitasi bumi pertama kali diungkap oleh Isaac Newton di abad ke-17 dan ada penjelasan yang diberikan olehnya tentang bagaimana semua benda di angkasa itu ternyata mempunyai massa. Gaya gravitasi yang sangat besar dihasilkan oleh bumi yang juga memiliki massa yang sangat besar juga di mana benda-benda di sekitar dapat ditarik, termasuk apapun yang ada di atas bumi, seperti makhluk hidup. Gravitasi inilah yang membuat semua benda di alam raya menyatu sampai lapisan udara.

Gravitasi menurut Newton sangatlah penting karena ketidakadaan gaya gravitasi tentu akan membuat benda-benda di alam semesta jatuh, berbenturan serta tersebar tidak beraturan. Gravitasi juga disebut sebagai agen yang memberi massa pada obyek sehingga mereka akan turun ke bawah ketika jatuh.

Menurut Ilmiah Mukjizat Al-Quran

Kemukjizatan Al-Quran didalami oleh para ulama dan para ulama memberi isyarat mengenai anugerah kenikmatan dari Allah kepada kita sebenarnya jauh sebelum Isaac Newton meneliti soal gravitasi. Seperti yang terdapat pada ayat yang disebutkan di atas, bumi dijadikan Allah untuk tempat menetap umat manusia ditambah dengan kestabilan yang ada di atas bumi karena “sistem gravitasi bumi”. Jauh sebelum Newton, Al-Quran berbicara soal gravitasi secara gamblang berikut juga kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala .



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Inilah 11 Pemuda Islam Terbaik Sepanjang Sejarah


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwsyTeLMof6FgUYcoI1MvzfunYL3rdOHL81V_j15QUemrdwkf_NLgCczmbMfKBqK-Vx8U0Taka0ZyugZGs7L7oGz4uuGPYgDeJrOMaaTwHuX2NCJIPCyTjKDxIjp3v4fTgGcZqGcyOi2w/w1200-h630-p-nu/jamba-sunset-camel.jpg

SEPANJANG sejarah, Islam memiliki pemuda-pemuda hebat pada zamannya masing-masing. Di usianya yang cenderung masih sangat muda, mereka mampu menorehkan karya-karya yang luar biasa. Berikut ini 11 pemuda Islam terbaik sepanjang sejarah.

1. Usamah bin Zaid (18 tahun). Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.

2. Sa’d bin Abi Waqqash (17 tahun). Yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari enam orang ahlus syuro.

3. Al Arqam bin Abil Arqam (16 tahun). Menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut.

4. Zubair bin Awwam (15 tahun). Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya.

5. Zaid bin Tsabit (13 tahun). Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.

http://www.sasak.net/resimg.php?url=https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5-AJSUMrcknRdIn7xj7-H5kXGW_dAH52IXEPjgfHKKg7SWrGtCiLlkMOTIX-7kU7EYaq7QKdNcsfxaAXoadPKE-kWMLuZScZb3dPpsfnuVJz6BNLj1WBjU7ItMR_kO3j3P5V9HYqbpp0/s1600/10127_103438636333586_100000023491706_97289_4081891_n.jpg

6. Atab bin Usaid (18 tahun). Diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah pada umur.

7. Mu’adz bin Amr bin Jamuh (13 tahun) dan Mu’awwidz bin ‘Afra (14 tahun). Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.

8. Thalhah bin Ubaidullah (16 tahun). Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati demi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi.

9. Muhammad Al Fatih (22 tahun). Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.

10. Abdurrahman An Nashir (21 tahun). Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.

11. Muhammad Al Qasim (17 tahun). Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Friday, October 28, 2016

Ketika Rasulullah Menegur para Sahabat Gara-gara Burung dan Semut


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghG1AVb7yBN7nshtXm58QNy_fszBmOrjKepidk7K_xa8rCJW5O5iC2bduVRJqIV7GGW8VILHMKkRfBonPTizWXvSRpeHoYo18mqUvCCR6GPoahAn9G7KiGhMQjFwdl6ovknZaAgh0GHmQJ/s1600/1377000_10151566959401116_698222543_n.jpg

DALAM sebuah momen perjalanan bersama Rasulullah, para sahabat pernah menyaksikan seekor humarah (semacam burung emprit) bersama dua anaknya. Entah dengan alasan apa, mereka tiba-tiba mengambil kedua anak burung itu. Tentu saja sang induk berontak dan mengepak-ngepakkan sayapnya.

Rasulullah yang saat itu sedang membuang hajat tak tahu apa yang dilakukan para sahabatnya. Ketika kembali, beliau pun seperti terkejut lalu berseru, “Siapa yang mengusik burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anak burung itu kepada induknya!”

Belum lama Nabi berhenti menasihati, beliau melihat lagi peristiwa ganjil: sebuah sarang semut hangus terbakar.

“Siapa yang telah membakar sarang ini?”

“Kami,” aku para sahabat Nabi.

“Sungguh, tidak pantas menyiksa dengan api kecuali Tuhan pencipta api,” sabda Rasulullah. Demikian cerita yang termaktub dalam hadits riwayat Abu Dawud.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTX_HTlywY3d-0kDcy3Dgyd9ibOOjlSujG8mKjL8jMC1eygkNcIKPkQgb0MP2ukBQZ_0sgZgmX6_5cMdTzvRAcS9zJnlwASTnd0W7sUvUaJI-D97KeNMu4vHQmjYJHdnN87m-67vWyFUD4/s1600/marabunta.jpg

Para sahabat memang bukan orang-orang yang maksum atau terbebas dari dosa. Tapi, dari kekeliruan merekalah Rasulullah memberikan sejumlah pelajaran kepada umatnya. Tingkah para sahabat yang mengganggu induk burung dan anak-anaknya, serta menghanguskan kerajaan semut membuat Rasululah merasa perlu untuk menegur.

Peringatan Rasulullah kepada para sahabatnya adalah bukti betapa Islam sangat menghargai binatang dan kehidupannya. Islam mengizinkan manusia membela diri tatkala diserang binatang yang mengancam keselamatan fisik dan jiwanya. Namun, Islam melarang pemeluknya untuk berbuat semena-mena, baik untuk melampiaskan amarah ataupun keisengan belaka.

Binatang, sebagaimana manusia, adalah makhluk Allah rabbul ‘âlamîn. Bahkan, binatang-binatang dianugerahi kemampuan untuk bertasbih—dengan caranya sendiri. “Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Ash-Shaffat: 1).

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Thursday, October 27, 2016

Subhanallah.. Di Era Kekhalifan Ottoman Pengetuk Pintu Rumah pun Disesuaikan Dengan Akhlak Islam


Jaman keemasan Ottoman/Kekhalifahan Turki Utsmani, pintupun designya unik, selaras dengan akhlaq dan tuntunan Islam.

TAHUKAH ANDA?

Di era Kekhalifahan Ottoman ada dua buah pengetuk pintu rumah yang dipasang dengan jenis yang berbeda sesuai fungsi.

Satu jenis dengan pengetuk ukuran Besar dan satunya lagi dengan pengetuk ukuran kecil.

Jika ada tamu laki-laki maka dia akan menggunakan pengetuk pintu yang besar, yang membuat suara yang dihasilkan suara yang berat dan kuat, sehingga tuan rumah laki-laki yang akan membuka pintunya.

Sedang jika ada tamu wanita, maka dia akan menggunakan pengetuk pintu yang kecil, sehingga suara yang dihasilkan nada tinggi, sehingga tuan rumah perempuan yang akan membukakan pintunya.

*Sumber: fp Ottoman Sultanate

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Wednesday, October 26, 2016

Ibnu Sina Dinobatkan sebagai Bapak Kedokteran Dunia, Kenapa?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6GBFBjFmOgtPNiJZyxXXZ6_Lg_YmRBwli4TNTrybhodwJpA0RoV4wGUnuD0n-ssW5SwXg8JLaDhBlNS7Y0W9CCfr2Hl3KPfl_XlQlHrdgyKVhY2mc85vpp-6sa4e6wMTRW4zXgMMUvMo/s1600/ibnu+sina.jpg

TAHUKAH Anda siapa bapak kedokteran dunia? Ternyata, ia adalah seorang filsuf Muslim. Dialah Ibnu Sina atau di dunia Barat lebih dikenal dengan Avicenna. Tapi, mengapa ya, dia diberi gelar sebagai bapak kedokteran dunia?

Dikatakan dalam duniaislam.org bahwa sejak kecil, Ibnu Sina sudah menunjukkan kepandaian yang luar biasa. Di usia 5 tahun, ia telah belajar menghafal Al-Quran. Selain menghafal Al-Quran, ia juga belajar mengenai ilmu-ilmu agama. Ilmu kedokteran baru ia pelajari pada usia 16 tahun. Tidak hanya belajar mengenai teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit dan melalui perhitungannya sendiri, ia juga menemukan metode-metode baru dari perawatan.

Profesinya di bidang kedokteran dimulai sejak umur 17 tahun. Kepopulerannya sebagai dokter bermula ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansur (976-997), salah seorang penguasa Dinasti Samaniah. Banyak tabib dan ahli yang hidup pada masa itu tidak berhasil menyembuhkan penyakit sang raja.

Sebagai penghargaan, sang raja meminta Ibnu Sina menetap di istana, paling tidak untuk sementara selama sang raja dalam proses penyembuhan. Tapi Ibnu Sina menolaknya dengan halus, sebagai gantinya ia hanya meminta izin untuk mengunjungi sebuah perpustakaan kerajaan yang kuno dan antik. Siapa sangka, dari sanalah ilmunya yang luas makin bertambah.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgshXcA0cn2KAfX-6buLgm5JEN7qraHmXvH_KAnvQtsSvb1xQkpzVe0dP_vEA8BVLyA12N0Dh9Jh82s97ikZC7uP8Rccry2xmMNnqmgSrH5ZOgCL7woCmUoUV0NC5MHA3Or1BwkKcPPIEwP/s1600/ibnu-sina.jpg

Dilansir dalam malaikatduniakedokteran.blogspot.co.id bahwa Ibnu Sina terkenal sebagai seorang otodidak yang handal. Dalam waktu yang relatif singkat yaitu satu setengah tahun Ibnu Sina telah menguasai ilmu kedokteran tanpa bimbingan dari siapapun. Oleh karena itu dalam dunia kedokteran dinobatkan sebagai Father of Doctors (bapak kedokteran).

Pada usia 21 tahun ia berhasil menulis karya-karya besar tentang pengobatan dan filsafat. Bukunya yang terkenal adalah kitab Al-Qonun fit Thibb (dasar-dasar ilmu kedokteran) yang menjadi rujukan utama dunia kedokteran. Buku tersebut sejak zaman Dinasti Han telah menjadi standar pemikiran dan karya medis di Cina.

Subhanallah, salah satu filsuf Muslim ini memiliki kecerdasan yang luar biasa. Di masa mudanya ia sudah bisa membanggakan dunia, terutama dalam dunia islam karena keahliannya di bidang kedokteran. Maka, tak heran jika ia dikenal sebagai bapak kedokteran dunia. Kita patut bangga memilikinya. Dan ia merupakan sosok yang bisa kita tiru perjalanan hidupnya. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

1974, Ketika Rezim Menahan Aspirasi Umat Islam

 ketika tahun 1974, Putusan menggelar Sidang Raya Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) ke-5 di Jakarta sudah bulat. Pemerintah Suharto merestui kendati umat Islam mengecam keras.
Sidang DGD, tulis intelektual Muslim H.M.Rasjidi, memuat agenda pemurtadan bahkan kolonialisme.
Tokoh umat sudah angkat suara. Umat pun bergerak. Sayang, pemerintah bergeming. Sidang tinggal menghitung hari. Hari-hari yang menggelisahkan *Seorang Pemuda Surabaya, Hasyim Yahya .




Dari kotanya ia menuju Jakarta, Juli 1974. Berbekal tekad bulat dan keberanian serta kecerdikan, Hasyim datangi rumah pengurus DGD. Entah bagaimana caranya, melalui samaran ia berhasil lolos dari penjagaan aparat. Didapatinya seorang bule. Tentu saja pemuka agama. Kelak diketahui namanya Eric Constable dari gereja Anglikan Australia.
Eric yang ditemui Hasyim dalam waktu sekelebatan ditikam. Nyawanya meregang. Tewasnya sang pendeta Eric berdampak amat besar. Pihak DGD segera alihkan lokasi sidang raya dari Jakarta ke Nairobi, Kenya.
Dan di hari ini jutaan umat Islam telah turun ke jalan mengecam penistaan agama dari penguasa Jakarta. Aparat hukum sama sekali tak tergerak dan lambat. Media besar pun bungkam. Padahal, agenda lain umat amat banyak. Urusan menghadapi penguasa yang keterlaluan pongah  dilawan dengan energi besar umat. Demo besar umat apakah mampu bikin gentar penguasa dan cukong di belakangnya.
Tidak diharapkan situasi bandel mirip masa Hasyim Yahya terpancing panas jiwa mudanya. Dan semodel Hasyim Yahya lakukan peran sendiri. Tidak akan merepotkan banyak ribuan saudaranya.
Kali ini,  Satu penguasa zalim berikut jejeran cukong licik bisa jadi tak kan mempan dengan demo damai, jangan sampai umat terpancing anarkis.  semoga penguasa mendengar, agar  jangan sampai kejadian ala Jason Bourne nyata macam Hasyim Yahya terjadi lagi? Karena  umat Islam merasa dibuntukan aspirasinya…
Disadur sebagian dari Kelompok kajian #ojoNESU

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Beberapa Solusi Jitu untuk Anda yang Sulit Shalat Khusyuk


http://danilsetiawan.com/wp-content/uploads/2013/05/persiapan-menyambut-ramadhan.jpg

DIKISAHKAN ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk shalatnya. Namun dia selalu kawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya, “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan shalat?”

Hatim berkata, “Apabila masuk waktu solat aku berwudhu’ zahir dan batin.”

Isam bertanya, “Bagaimana wudhu’ zahir dan batin itu?”

Hatim berkata, “Wudhu’ zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. Sementara wudhu’ batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:

1. Bertaubat

2. Menyesali dosa yang dilakukan

3. Tidak tergila-gilakan dunia

4. Tidak mencari atau mengharap pujian orang (riya’)

5. Tinggalkan sifat berbangga

6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu

7. Meninggalkan sifat dengki


http://www.satujam.com/wp-content/uploads/2015/10/shalat-khusuk.jpg

Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Sirratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahwa shalatku kali ini adalah shalat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

Setiap bacaan dan doa dalam solat kupaham maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhu’, aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun.”

Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Tuesday, October 25, 2016

Taubat dari Merampok Malah menjadi Seorang Ulama Besar


https://mencarijalanbalik.files.wordpress.com/2013/10/namibia-desert.jpg?w=448&h=293

ANDA tentu mengenal Fudhail bin Iyadh bukan? Ya, dialah salah satu ulama besar Islam. Mendengar namanya saja, tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebab, ia adalah seorang ulama yang terkenal dengan keilmuan dan sikap zuhudnya.

Siapa sangka, bahwa ternyata dulunya ia adalah seorang perampok yang sangat ditakuti. Sungguh, sangat jauh berbeda dengan kondisi sosialnya saat ini. Meski ia telah lama pergi meninggalkan kita, tetapi kisahnya begitu menyentuh relung hati. Bagaimana bisa? Betapa tidak, sang perampok handal dan dikenal berbahaya ini, bertaubat dan menjadi ulama besar. Lantas, bagaimana bisa ia bertaubat?

Diceritakan dalam www.kisah.web.id bahwa disebutkan dalam Siyar A’lam An-Nubala dari jalan Al-Fadhl bin Musa, beliau berkata, “Adalah Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya seorang penyamun yang menghadang orang-orang di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Dan sebab taubat beliau adalah karena beliau pernah terpikat dengan seorang wanita.

Maka tatkala beliau tengah memanjat tembok guna melaksanakan hasratnya terhadap wanita tersebut, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat, ‘Belumkah datang waktunya bagi orang–orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang–orang yang sebelumnya telah turun Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq,’ (QS. Al-Hadid: 16).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKeeUQNvDHKsviQaNt-UIwnzYiGkK18k6eVdbEh-0sqLoULaMZbnjnOmrZFz3febUeMsUGeA7aZ8ON4GJv7Zw9l4fC5bSBbXycZmRm8_ZJ_0ySF0g52WIMKUjRiaqZwrgWDbypD-zVOSoG/s1600/Night.jpg

Maka tatkala mendengarnya beliau langsung berkata, ‘Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).’ Maka beliau pun kembali. Dan pada malam itu ketika beliau tengah berlindung di balik reruntuhan bangunan, tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat.

Sebagian mereka berkata, ‘Kita jalan terus.’ Dan sebagian yang lain berkata, ‘Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.’ Maka beliau pun merenung dan berkata, ‘Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin di situ ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.”

Maka, dapat kita ketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu membuka pintu hidayah pada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Sungguh beruntung orang-orang yang memperoleh hidayah itu dan segera menyadari datangnya hidayah. Termasuk yang dialami oleh Fudhail. Ia memperoleh hidayah dari hal yang tak pernah terpikirkan dalam benaknya, yakni mendengarkan ayat Allah.

Jika Fudhail saja bisa memperoleh hidayah, tentu kita pun bisa. Berbuat maksiat memang akan menimbulkan noda hitam di hati yang akan menutup hidayah dari Allah. Tapi, terkadang, masih ada celah yang bisa membuat kita menerima datangnya hidayah. Dan tugas kita ialah menjaga celah itu dan terus berusaha agar bisa membersihkan segala noda di hati dengan mengingat Allah. InsyaAllah, Allah akan bersihkan hati kita dari segala noda dosa. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !