Showing posts with label Cara dan Tips. Show all posts
Showing posts with label Cara dan Tips. Show all posts

Thursday, November 3, 2016

Tak Punya Uang Tapi Ingin Sedekah, Bagaimana Caranya?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmHLH7W-MXgEHjZsgZ4Y8ymPotYPAS3UVMUOogsvGwduGYcMaEKzcGiL4SEUDuFN2ZfSm_Ya4wTkvnE0flVEBm3aRPz2695mwEqGodh7xmqKVohtSRmwIjkr5RMh3R0gdevhfpUb8iWW_D/w1200-h630-p-nu/kisah-sedekah.jpg

ALLAH Subhanahu wa Ta’ala menyukai hamba-hamba-Nya yang mau mengeluarkan harta di jalan-Nya. Terutama dalam hal membantu saudara semuslim dengan penuh keikhlasan dan keridhoan. Hanya saja, seringkali banyak orang yang mengeluh tidak bias bersedekah. Salah satu alasannya tidak punya uang. Lalu, harus bagaimana?

Diriwayatkan secara muttafaq ‘alaih dari sahabat Jabir bin ‘Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap perbuatan baik adalah sedekah.”

Berbuat baiklah dengan semua perbuatan yang disepakati kebaikannya oleh syariat. Bahkan, jika tak mampu berbuat baik karena keterbatasan fisik atau cacat, masih ada peluang sedekah dengan pahala yang agung. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Ucapan yang baik adalah sedekah,” (Muttafaq alaih).

 https://dekbowo.files.wordpress.com/2016/01/mau-sedekah-dimana-coba-secara-online-disini.jpg

Jika amalan-amalan dalam dua riwayat ini masih kurang, masih banyak riwayat lain terkait sedekah tanpa mengeluarkan uang. Hal ini sebagaimana, Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap hari ketika matahari terbit; maka mendamaikan dua orang (yang berselisih) dengan adil adalah sedekah, menolong orang lain yang berkendara hingga mengangkatnya di atas punggung kendaraan, atau mengangkatkan barang bawaannya ke atas punggungnya adalah sedekah, setiap langkah perjalananmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah,” (Muttafaq alaih).

Bukankah indah sekali ajaran Islam yang mulia ini? Semua kebaikan kepada sesama bernilai agung di sisi Allah Ta’ala. Semua kebaikan kepada umat manusia disejajarkan pahalanya dengan beribadah ritual kepada Allah Ta’ala.

Kini, masihkah Anda resah tak punya uang untuk sedekah? Tentu tidak bukan! Ingatlah, Allah selalu memberikan keringanan kepada hamba-hamba-Nya yang ingin selalu melaksanakan perintah-Nya.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ini Ayat-ayat Ruqyah Penghancur Ilmu Sihir dan Guna-guna

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiT7wKUKDP-1rbveOSz3DlptCbcephvbl_5F2U7mqzSqDK6QY_OtabkLAhkMij0pfjMX57lzrEWXCSjpIt_3wvosHqwGui-rhEyXTgU_FfIeInPzZriU6yj_lRtxVqxFvDySZpRk4eho2U/s1600/al+quran+in+word.jpg

MESKI zaman sudah modern, tapi masih saja ada orang yang menggunakan sihir, teluh dan semacamnya. Untuk itu kita harus membentengi diri kita dan keluarga agar tidak mendapat dampak dari hal-hal negative tersebut.

Banyak ayat-ayat Allah yang dapat digunakan sebagai ayat ruqyah untuk melawan sihir, pelet dan lain-lain. Baik sihir berupa pelet, santet, teluh, dan lain sebagainya, in syaa Allah bisa hancur dengan ayat-ayatNya. Tinggal kita menguatkan hati untuk terus meruqyah diri sendiri, dan meminta pertolongan Allah melalui sabar dan shalat.

Ayat yang dapat digunakan untuk menghancurkan sihir:

1. Al Baqarah ayat 102
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”

2. Al A’raaf ayat 117-122:
“Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.

Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.

Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.

Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud.

Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,
“(yaitu) Tuhan Musa dan Harun”.”

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-J-tUtuno1RvVxJr8hbJw-JdlEZLfTt2cU1Y8OLbsihakDxfuYSNHlxrjQubdbu390VoR23TbptyhhmgFWfvtV9xS1aHl4vNhnMljb6zeISQKwEp5bB7bF8afPnrdhEl5yTbmfYiMN2KA/s1600/Download+Gratis+MP3+Audio+Al-Quran+Full_lagu_agunkzscreamo.blogspot.com_download.jpg

3. Yunus 81-82:
“Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan.

Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).Nabi”

4. Thaha ayat 69:
“Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat.

“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.”

Reaksi orang yang terkena sihir atau ada gangguan jin jika dibacakan ayat-ayat ini akan terdapat tanda-tanda khsusnya, yaitu ada yang terasa menjalar di tubuh, bergetar atau kesemutan di ujung-ujung badan/ persendian, atau sakit kepala yang amat sangat, atau sesak nafas ketika dibacakan ayat-ayat ruqyah.

Lebih baik lagi jika siapkan air minum, bacakan Al Fatihah, Ayat kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas, tiupkan dalam air dan niatkan menjadi air ruqyah, minumkan pada pasien yang terkena sihir.

Lakukan hal yang sama dengan air mandi, campurkan tujuh helai daun bidara yang ditumbuk halus bersama sedikit garam. Bacakan ayat ruqyah penghancur sihir tersebut. Pergunakan setiap kali mandi.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Monday, October 31, 2016

Apabila Matahari Digulung dan Apabila Bintang-bintang Berjatuhan


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjN872UjEnh8LeP5IZHWsSl8WD0Jcvd-7mdJFOYe8xL34KAeiXxmsMi4ylZr6QHciLuuABjgF7ogD5QtVn77dYJkjFVNw_TSIm1HO_p9LlFOTyKGnMqBR7AOGDZqNtLJ-CBD8KKCKVqcqxV/s1600/2314326F6AM7Kci.jpg

APABILA matahari digulung. Ya, itu adalah arti ayat 1 surat At-Takwir. Jika kita mendengar kalimat ‘apabila matahari digulung’ apa yang terpintas dalam benak kita?

Pasti, itulah hari kiamat. Hari dimana tidak ada satu makhluk pun yang bisa lolos dari hari kehancuran dunia. Hari dimana terakhir kalinya matahari bersahabat dengan kita. Bola bulat besar yang memancarkan cahaya itu akan hancur sehancur-hancurnya di akhir zaman kelak.

Ungkapan “kuwwirat” menurut Imam Al-Alusi, kata ini diambil dari asal kata “kara” yang berarti melipat kain menjadi surban di kepala. Pada masyarakat Arab, memakai surban (imamah) adalah tradisi yang telah berlangsung ribuan tahun. Untuk menunjukkan betapa mudahnya menggulung matahari bagi Allah, maka Allah memberi perumpamaan sebagaimana mudahnya orang-orang Arab menggulung kain menjadi surban.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgd63vRTFX0EQZcpZBQeir5WsZsdip1ZVF_IcasZ9P-DtM1-VD7wMSKgn4Q5QjEnJqML4xrv_zEXYINlzuGzFHZn3r6yZ08qNw8GJgozi7zUZCBfn9VoM7FS4qpq8ab8jO3EerxDDv6Yw/s1600/langit3.jpg

Dan apabila bintang-bintang berjatuhan.

Arti surat At-Takwir ayat 2. Diriwayatkan dari Abu Shaleh dari Ibn Abbas berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Pada hari (kiamat) itu, tidak tersisa di langit satu bintang pun kecuali seluruhnya berjatuhan ke atas bumi. Hingga, lapisan bumi ketujuh terbawa ke atas dan menimpa yang di atasnya.”
Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Friday, October 28, 2016

Ingin Peroleh Naungan Allah Pada Hari Kiamat? Jadilah Pemuda seperti Ini


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwGBt68KEE8MH8Wp4U8ngq9gfYFfdmCBUZ3KtjoANSdKy9xtPKHwGFBKI4SnFa1iZWWudCt0hGuHvjsIhUAU9WbTKYrhroam8zZFq900DYz4rZ2WJwKJZa2ZXZuJmwLr3VI1oURj8SsJA/s1600/pemuda-merenung_20151027_211501.jpg

SIAPA di antara kita yang tak ingin memperoleh naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Tentu, seluruh umat Muslim di dunia ini menginginkannya. Sebab, naungan Allah begitu berarti bagi kemaslahatan hidup kita. Baik itu di dunia maupun di akhirat kelak.

Nah, salah satu janji Allah ialah akan memberikan naungan-Nya terhadap para pemuda. Eits, tapi tidak sembarang pemuda bisa memperolehnya lho! Ada kriteria khusus yang membuat seorang pemuda memperoleh naungan-Nya. Apakah itu?

Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya, … Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah…” (HR. Al-Bukhari no. 1357 dan Muslim no. 1031).

Dilansir dalam muslim.or.id dijelaskan bahwa hadis yang agung ini menunjukkan betapa besarnya perhatian islam terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi seorang pemuda muslim. Sekaligus menjelaskan keutamaan besar bagi seorang pemuda yang memiliki sifat yang disebutkan dalam hadis ini.

Syaikh Salim Al-Hilali berkata, “(Hadis ini menunjukkan) keutamaan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, sehingga dia selalu menjauhi perbuatan maksiat dan keburukan,” (Kitab “Bahjatun naazhiriin” 1/445).

Imam Abul ‘Ula Al-Mubarakfuri berkata, “(Dalam hadis ini) Rasulullah ﷺ mengkhusukan (penyebutan) “seorang pemuda” karena (usia) muda adalah (masa yang) berpotensi besar untuk didominasi oleh nafsu syahwat. Disebabkan kuatnya pendorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda, maka dalam kondisi seperti ini untuk berkomitmen dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah (tentu) lebih sulit dan ini menunjukkan kuatnya (nilai) ketakwaan (dalam diri orang tersebut),” (Kitab “Tuhfatul ahwadzi” 7/57)'.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlGfDp-T2REUJfWLLkM2OjjzaMv-9o9BMomBYeqMNCgogSUCI6zRNS3MMUL8wPkl7TfwDDY7KrgHpnkW6Vxp1MPnlKTRQ6VPGN-W9IdNCUx1JduYQnXMCiazCX0Z8EA7Oo9phPs3O-Uzmw/s1600/taubat+nasuha.png

Dalam hadis lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah,” (HR. Ahmad 2/263, Ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” 17/309 dan lain-lain, dinyatakan shahih dengan berbagai jalurnya oleh syaikh Al-Albani dalam “ash-Shahiihah” no. 2843).

Artinya, “Pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan,” (Lihat kitab “Faidhul Qadiir” 2/263).

Inilah sosok pemuda muslim yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan pandai mensyukuri nikmat besar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepadanya. Serta mampu berjuang menundukkan hawa nafsunya pada saat-saat tarikan nafsu sedang kuat-kuatnya menjerat seorang manusia. Ini tentu merupakan hal yang sangat sulit dan berat. Maka wajar jika kemudian Allah Ta’ala memberikan balasan pahala dan keutamaan besar baginya.

Nah, jika Anda, sebagai seorang pemuda muslim ingin memperoleh naungan Allah, maka jadilah pemuda yang menerapkan kriteria tersebut. Lakukanlah dengan sepenuh hati, ikhlas karena Allah dan bersabar dalam menghadapi segala godaan dan tantangan. Jangan sampai tergoyahkan oleh hawa nafsu yang terkadang menjerumuskan pada jalan kesesatan. Dengan begitu, insyaAllah, Allah akan memberikan naungan-Nya kepada kita. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Wednesday, October 26, 2016

Wah, Inilah 17 Nama Bayi Untuk Perempuan yang Indah Berbahasa Arab

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiE1MM_B_w5QOhbZIFmLPkSO1c2kXe_srQxnEkgGlLp8gaH31XXzsEVUinJ1WA7T8Cr2eNaf4BYISOZUMHAEdrqHDyT4JTjU0STQxjLJllYpHaqiRcx53Rn-uQGlZ2-RbKh0PbiTLA2hGAN/s1600/Gambar+Anak+Bayi+Cantik+Pakai+Mukena.jpg

KECANTIKAN bayi perempuan Anda, akan lebih membuat dirinya cantik jika namanya juga Indah. Berikut nama bayi yang indah dengan menggunakan bahasa Arab.

1. Adhwa’ : cahaya
2. Alifah : penyayang
3. Amarah : tanda
4. Aminah : bahagia, tenang
5. Aribah : cerdas
6. Asma’ : cantik, dikenal
7. Badi’ah : yang selalu di depan
8. Badirah : terdepan
9. Badiyah : awal dari sesuatu
10. Badrah : yang sempurna
11. Badriyyah : terdepan dan tercepat dari kaumnya
12. Bahilah : wanita terhormat
13. Bari’ah : wanita yang cantik
14. Barirah : buah dari pohon arok (pohon yang batangnya biasa dijadikan kayu siwak), nama shahabiyah wanita (bekas budak Aisyah)
15. Basiqah : yang tinggi, yang mulia
16. Batsiqah : orang yang sangat mulia, memancar
17. Ibtihaj : wanita yang gembira dan senang

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXlSLOog-JbUAOz9hkOFU0Lkx0MyHqh9FmQD3G1yCrBbJloMbPuXv3BJvL5dOv2FSzepKeIouZ3Z-5ppHyiBYx7xUPnslXiLKOQa_JxVnQhACckgpWJpeMzLmnkJ8tFrzQ2I-JR0qouaI/s1600/2.jpg

Jadi bagaimana, anak perempuan Anda akan dinamankan apa?

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Beberapa Solusi Jitu untuk Anda yang Sulit Shalat Khusyuk


http://danilsetiawan.com/wp-content/uploads/2013/05/persiapan-menyambut-ramadhan.jpg

DIKISAHKAN ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk shalatnya. Namun dia selalu kawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya, “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan shalat?”

Hatim berkata, “Apabila masuk waktu solat aku berwudhu’ zahir dan batin.”

Isam bertanya, “Bagaimana wudhu’ zahir dan batin itu?”

Hatim berkata, “Wudhu’ zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. Sementara wudhu’ batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:

1. Bertaubat

2. Menyesali dosa yang dilakukan

3. Tidak tergila-gilakan dunia

4. Tidak mencari atau mengharap pujian orang (riya’)

5. Tinggalkan sifat berbangga

6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu

7. Meninggalkan sifat dengki


http://www.satujam.com/wp-content/uploads/2015/10/shalat-khusuk.jpg

Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian ‘Sirratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahwa shalatku kali ini adalah shalat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

Setiap bacaan dan doa dalam solat kupaham maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhu’, aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun.”

Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Tuesday, October 25, 2016

2 Solusi Agar Anak Angkat Bisa Menjadi Mahram

anak angkat

Saya dan istri saya mengangkat anak perempuan usia saat ini 1 tahun 2 bulan
saya punya adik laki2 yang mempunyai anak perempuan yang berumur 1 tahun 8 bulan
pertanyaannya jika anak angkat saya di susui oleh istri adik saya, bisa kah anak angkat saya menjadi mahram saya ??

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Di zaman Jahiliyah, anak angkat bisa menjadi anak nasab. Bahkan nama orang tua nasab bisa diganti dengan nama orang tua angkat. Dulu Khadijah radhiyallahu ‘anha pernah memiliki seorang budak bernama Zaid bin Haritsah. Budak ini kemudian dihadiahkan ke suaminya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau diutus sebagai nabi. Oleh beliau, Zaid dibebaskan dan dijadikan sebagai anak angkatnya. Hingga orang mengenalnya dengan sebutan, Zaid bin Muhammad.

Setelah islam datang, aturan ini dihapus dan tidak diberlakukan. Allah berfirman,

وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَآءَكُمْ أَبْنَآءَكُمْ. ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ. وَاللهُ يَقُوْلُ الْحَقُّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيْلَ

“…Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu. Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulut saja, sedangkan Allah mengatakan yang haq, dan Dia menunjuki kepada jalan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 4)

Ibnu Umar pernah memberikan penjelasan tentang ayat ini,

أَنَّ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ مَوْلَى رَسُوْلُ اللهِ مَا كُنَّا نَدْعُوْهُ إِلاَّ زَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ حَتَّى نَزَلَ الْقُرْآنُ ادْعُوْهُمْ لِآبَائِهِمْ

Bahwa Zaid bin Haritsah adalah mantan budak Rasulullah. Dulu kami tidak memanggil Zaid kecuali dengna panggilan Zaid bin Muhammad, sehingga turunlah ayat; (panggillah anak-anak angkatmu dengan (menasabkan kepada) nama bapak-bapak mereka, karena itulah yang lebih adil di sisi Allah.” (HR. Bukhari 4782 dan Muslim  2425)

Ketika anak angkat tidak bisa menjadi seperti anak kandung, turunannya adalah masalah kemahraman. Karena ini kaitannya dengan menjaga interaksi antara anak dengan ortu angkatnya ketika di dalam rumah.
2 Solusi Agar Anak Angkat Jadi Mahram

Ada 2 cara agar anak angkat bisa menjadi mahram ini

Pertama, Mengambil anak angkat dari pihak yang masih ada hubungan keluarga dengan istri atau suami.

Misalnya, jika ingin mengambil anak angkat perempuan, maka bisa dicari anak perempuan dari saudara suami (keponakan suami). Karena keponakan, maka dia mahram.

Jika ingin menngambil anak laki-laki, maka bisa mengambil anak laki-laki dari saudara kandung istri. Sehingga status istri adalah mahram bagi anak laki-laki tersebut karena istri adalah bibinya.

Hanya saja perlu diperhatikan bahwa status anak angkat tersebut tidak seperti anak nasab, sehingga tidak ada hak warisan.

Kedua, Dijadikan hubungan mahram karena per-susuan

Kita ikuti kaidah yang pernah disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ

“Persusuan itu menyebabkan terjadinya hubungan mahram, sama seperti mahram karena nasab.” (HR. Bukhari 2645)

Sehingga hubungan perususuan tidak hanya anak susu atau saudara susu, tapi juga mencakup hubungan yang lainnya. Jika dalam hubungan kemahraman karena keturunan ada 7, dan hubungan kemahraman karena pernikahan ada 4 maka hubungan mahram karena persusuan ada 11. Gabungan dari keduanya.

Ada hubungan mahram karena berstatus paman, juga ada hubungan mahram karena paman persusuan.

Ada hubungan mahram karena mertua, juga ada hubungan mahram karena mertua persusuan.

Dst…

Dari kasus yang anda sampaikan, jika anak angkat itu disusui oleh istri adik anda maka hubungan mahram anak itu dengan anda adalah paman persusuan.

 http://www.lenterakabah.com/wp-content/uploads/2016/07/Anak-Angkat-dan-Anak-Susuan-Apakah-Menjadi-Mahram.jpg

Hanya saja, persusuan yang bisa menyebabkan mahram, syaratnya ada 2,

[1] Usia bayi sebelum 2 tahun

Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

لاَ رَضَاعَ إِلاَّ مَا كَانَ فِيْ حَوْلَيْنِ

“Tidak ada persusuan (yang menjadikan mahram) kecuali pada umur dua tahun.” (HR. Baihaqi  1544 dan Daruquthni 4/174).

[2] Minimal 5 kali persusuan

Satu kali persusuan batasannya ketika bayi menyusu sampai kenyang atau melepaskan sendiri ASInya.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ فِيْمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُوْمَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُوْمَاتٍ فَتُوُفِّيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاْلأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

“Yang pernah diturunkan dalam Al-Quran adalah bahwa sepuluh kali persusuan menyebabkan adanya hubungan mahram, kemudian hal itu dihapus menjadi lima kali persusuan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan keadaan masih seperti itu.” (HR. Muslim 3670, Nasai 3320 dan yang lainnya)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Saturday, October 22, 2016

Bagaimana Status Anak Hasil Zina? Sebagai renungan bagi yang ingin menikah tapi pacaran dulu






status anak zina

Bismillah, was shalatu was salamu ‘alaa rasulillah

Pergaulan bebas yang semakin liar, telah menjadi musibah terbesar di masyarakat kita. Lebih-lebih ketika lembaga berwenang di tempat Indonesia melegalkan pernikahan antara wanita hamil dengan lelaki yang menghamilinya di luar nikah. Keputusan ini membuka peluang besar bagi para pemuja syahwat untuk menyalurkan hasrat binatangnya atas nama ‘cinta’, ya cinta. Zina dilakukan atas prinsip mau sama mau, suka sama suka, sehingga tidak ada pihak –secara ‘hukum’ masyarakat– yang berada pada posisi dirugikan.

Bagi lelaki, adanya aturan semacam itu merupakan kesempatan besar untuk menyalurkan nafsu binatangnya. Tinggal pihak wanitanya, apakah dia rela membuka pintu ataukah tidak. Ingat, karena tidak ada unsur paksaan di sana. Sehingga, kuncinya ada pada pemilik pintu. Karena itulah, ketika Allah menjelaskan hukum bagi para pezina, Allah mendahulukan penyebutan zaniyah (pezina wanita). Allah berfirman,

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Perempuan pezina dan laki-laki pezina, cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali pukulan, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 2)

Al-Qurthubi mengatakan, “Kata “zaniyah” (wanita pezina) lebih didahulukan dalam ayat di atas karena aib perzina itu lebih melekat pada diri wanita. Mengingat mereka seharusnya lebih tertutup dan berusaha menjaga diri, maka para wanita pezina disebutkan lebih awal sebagai bentuk peringatan keras dan perhatian besar bagi mereka.” (Al-Jami’ Li Ahkam Al-Quran, 12: 160)

Karena itu, wahai para wanita mukminah, wahai para wanita yang memiliki mahkota rasa malu, wahai para pemegang kunci syahwat, peluang terjadinya zina ada di tangan kalian. Janganlah menjadi wanita murahan, yang mudah menyerahkan kunci itu. Kita semua yakin, zina tidak mungkin terjadi sepanjang Anda tidak merelakan kunci itu jatuh ke tangan lelaki buaya. Mereka tidak akan berani merebut paksa kunci itu, sebelum Anda menyerahkannya. Karena semua lelaki tidak ingin disebut sebagai pemerkosa.

Selanjutnya, coba Anda pahami beberapa hukum fikih berikut, semoga ini membuat Anda semakin merinding dan takut untuk membuka peluang kesempatan bagi lelaki untuk melampiaskan nafsu birahinya.

Pertama, anak hasil zina (anak di luar nikah) tidak dinasabkan ke bapak biologis.
Anak zina pada asalnya dinasabkan kepada ibunya sebagaimana anak mula’anah dinasabkan kepada ibunya. Sebab keduanya sama-sama terputus nasabnya dari sisi bapaknya (lihat Al Mughni: 9:123).

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menyatakan tentang anak zina,

ولد زنا لأهل أمه من كانوا حرة أو أمة

“Untuk keluarga ibunya yang masih ada, baik dia wanita merdeka maupun budak.”

(HR. Abu Dawud, kitab Ath-Thalaq, Bab Fi Iddi’a` Walad Az-Zina no.2268 dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no.1983)

Dalam riwayat yang lain, dari Ibnu Abbas, dinyatakan,

ومن ادعى ولدا من غير رشدة فلا يرث ولا يورث

“Siapa yang mengklaim anak dari hasil di luar nikah yang sah, maka dia tidak mewarisi anak biologis dan tidak mendapatkan warisan darinya.” (HR. Abu Dawud, kitab Ath-Thalaq, Bab Fi Iddi’a` Walad Az-Zina no. 2266)

Dalil lain yang menegaskan hal itu adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Amr bin Ash, beliau mengatakan,

قَضَى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ لَمْ يَمْلِكْهَا ، أَوْ مِنْ حُرَّةٍ عَاهَرَ بِهَا فَإِنَّهُ لا يَلْحَقُ بِهِ وَلا يَرِثُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka TIDAK dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya… (HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth).

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5S7y_zzbSzFMSoWcrtJ0kwpd1pWN6QjFA1H8anaL-nAqh2fflXEfIp-Uv6I6SU-0kudCtPzbsGXXJ7KNFgjGa5X2EtjTzEB89mYnRPJBS7f6fzRd7Apygv40AQJwE39li-OOKBKkGud7L/s1600/anak+zina.jpg

Dalil lainnya adalah hadis dari Aisyah radhiallahu ’anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الولد للفراش وللعاهر الحجر

“Anak itu menjadi hak pemilik firasy, dan bagi pezina dia mendapatkan kerugian.”

Imam An-Nawawi mengatakan, “Ketika seorang wanita menikah dengan lelaki atau seorang budak wanita menjadi pasangan seorang lelaki, maka wanita tersebut menjadi firasy bagi si lelaki. Selanjutnya lelaki ini disebut “pemilik firays”. Selama sang wanita menjadi firasy lelaki, maka setiap anak yang terlahir dari wanita tersebut adalah anaknya. Meskipun bisa jadi, ada anak yang tercipta dari hasil yang dilakukan istri selingkuh laki-laki lain. Sedangkan laki-laki selingkuhannya hanya mendapatkan kerugian, artinya tidak memiliki hak sedikit pun dengan anak hasil perbuatan zinanya dengan istri orang lain.” (Syarh Shahih Muslim, An-Nawawi, 10:37)

Berdasarkan keterangan di atas, para ulama menyimpulkan bahwa anak hasil zina SAMA SEKALI bukan anak bapaknya. Karena itu, tidak boleh di-bin-kan ke bapaknya.

Bagaimana Jika Di-bin-kan ke Bapaknya?
Hukumnya terlarang bahkan dosa besar. Ini berdasarkan hadis dari Sa’d, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من ادعى إلى غير أبيه وهو يعلم أنه غير أبيه فالجنة عليه حرام

“Siapa yang mengaku anak seseorang, sementara dia tahu bahwa itu bukan bapaknya maka surga haram untuknya.” (HR. Bukhari no. 6385)

Karena bapak biologis bukan bapaknya maka haram hukumnya anak itu di-bin-kan ke bapaknya. Lantas kepada siapa dia di-bin-kan?

Mengingat anak ini tidak punya bapak yang ‘legal’, maka dia di-bin-kan ke ibunya. Sebagaimana Nabi Isa ‘alaihis salam, yang dengan kuasa Allah, dia diciptakan tanpa ayah. Karena beliau tidak memiliki bapak, maka beliau di-bin-kan kepada ibunya, sebagaimana dalam banyak ayat, Allah menyebut beliau dengan Isa bin Maryam.

Kedua, tidak ada hubungan saling mewarisi.
Tidak ada hubungan saling mewarisi antara bapak biologis dengan anak hasil zina. Karena sebagaimana ditegaskan sebelumnya, bapak biologis bukan bapaknya. Memaksakan diri untuk meminta warisan, statusnya merampas harta yang bukan haknya. Bahkan hal ini telah ditegaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis, di antaranya:

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka TIDAK dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya… (HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth).

Jika bapak biologis ingin memberikan bagian hartanya kepada anak biologisnya, ini bisa dilakukan melalui wasiat. Si Bapak bisa menuliskan wasiat, bahwa si A (anak biologisnya) diberi jatah sekian dari total hartanya setelah si Bapak meninggal. Karena wasiat boleh diberikan kepada selain ahli waris.

Ketiga, siapakah wali nikahnya?
Tidak ada wali nikah, kecuali dari jalur laki-laki. Anak perempuan dari hasil hubungan zina tidak memiliki bapak. Bapak biologis bukanlah bapaknya. Dengan demikian, dia memliki hubungan kekeluargaan dari pihak bapak biologis. Bapak biologis, kakek, maupun paman dari bapak biologis, tidak berhak menjadi wali. Karena mereka bukan paman maupun kakeknya. Lalu siapakah wali nikahnya? Orang yang mungkin bisa menjadi wali nikahnya adalah
a. Anak laki-laki ke bawah, jika dia janda yang sudah memiliki anak.
b. Hakim (pejabat resmi KUA).
Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Thursday, October 20, 2016

Agar Kita Didoakan Umat Muslim di Seluruh Dunia, Begini Caranya

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9BR2w4cgAnWHdp6RsPjmnTTiQHeaJnOtrCQ5M01mreasiBjzv-6K9q_RbOvvAEQKaNuFr5kmoRqgnRooXKqdeOicvzaRsAemPQHTnsQMq-f9TzpFgjnzAzcADAhGOx3Z2Ypw_vKaH9gJy/s1600/Hikmah+Manfaat+Tujuan+Berdoa+Dzikir.png

KETIKA kita berdoa, belum tentu doa tersebut bisa langsung dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, kita tahu bahwa diri kita ini adalah seorang manusia yang tak luput dari perbuatan salah dan khilaf. Maka, tak heran jika banyak dari doa yang kita panjatkan terhalangi oleh kesalahan yang kita perbuat.

Meski begitu, kita juga bisa meraih keberhasilan hidup, jika ada orang lain yang mendoakan kita. Terutama doa dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Ya, karena boleh jadi, doa dari orang lain yang mendoakan kita itu lebih didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika hanya ingin didoakan oleh keluarga sih cukup mudah. Anda tinggal memintanya langsung. Tapi, bagaimana caranya agar bisa didoakan oleh umat muslim di dunia? Apakah bisa kita didoakan oleh mereka? Tentu saja bisa.

Dalam sebuah nasihat yang disampaikan almarhum Syekh Moulana Ghulam Habib Sahib dijelaskan, jika kita ingin menjadi manusia yang didoakan oleh jutaan manusia yang lain, maka jadilah orang yang shaleh.

Mengapa demikian? Dalam shalat manusia akan membaca tasyahud awal dan akhir. Isi doa ketika duduk di antara dua sujud ini adalah “Assalammu ‘alaina wa ‘ala ibadillahis salihin (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami dan untuk seluruh hamba Allah yang shaleh).”

“Kami” dalam doa tersebut merujuk kepada sebanyak-banyaknya manusia. Untuk itu, jika kita ingin didoakan oleh jutaan orang di dunia, maka jadilah orang shaleh agar menjadi bagian dari doa tersebut.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWj-alxoULXktJDbSeRmj-QKrnoZOyDPVhyphenhyphen8O4jyfSUsCtpAoFY13BnUVYBi8wVxZAQO_-sD3EPNSbGO99Lr_cS-S3E3Y7HxHD7QMEazpJYSg_l1PNhi2Aof4UgknDx1ikyzyUi4Et1P2I/s1600/fadah.jpg

Bayangkan saja, berapa jumlah umat Muslim di dunia ini yang menjalankan shalat dalam sehari semalam. Itulah salah satu kekuatan Islam, umatnya saling doa-mendoakan dalam kebaikan.

“At tahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaat lillah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barokaatuh. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahish sholihiin. Asyhadu alla ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh (Segala ucapan selamat, keberkahan, shalawat, dan kebaikan adalah bagi Allah. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya),” (HR. Muslim no. 403).

Tapi bagaimana caranya agar bisa menjadi orang shaleh? Orang yang shaleh adalah orang yang senantiasa memiliki akidah yang kuat, yang selalu tunduk dan patuh pada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian, ia juga senantiasa mendekatkan dirinya pada Allah. Selain itu, ia juga akan selalu membersihkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Itulah cara yang dapat Anda lakukan, agar bisa menjadi orang yang shaleh. Dengan begitu, Anda akan didoakan oleh umat muslim di dunia.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !