Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Thursday, November 3, 2016

Rasulullah Menangis ketika Menceritakan Siksaan Yang Diterima Kaum Wanita

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQPFTcM5Ywu3x8vLInM_V2_or-juUFUVrDDBCrYxHppldK8i5LHmk2dOMxjLk5nuf-ABVzoKcCxW_Kmii0fPIllzv2ASaE2Y3Zgco-8oc5bjHRi918tG63qkg_tbtlQpN9MOGG40slKGaF/s1600/Inilah+Azab+Bagi+Kaum+Wanita+Di+Neraka+%5BWajib+Baca%5D.jpg

SUATU hari Ali bin Abi Thalib melihat Rasulullah menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu dia bertanya mengapa Rasulullah menangis. Beliau menjawab, “Pada malam aku di-isra’- kan, aku melihat perempuan-perempuan sedang disiksa dengan berbagai siksaan di dalam neraka. Itulah sebabnya mengapa aku menangis.”

Putri Rasulullah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya, “Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya. Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan gada dari api neraka,” kata Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?

Rasulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan mahromnya.”

Perempuan yang digantung payudaranya adalah istri yang menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.

Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghbmIkKHAIrRqMsb0JINuo0aKfzwdZTO-MepSyX-hQ4p47mudi_iW91Z3dihjyXaSJAqaIDJTgK5jSvM-N4OLUTJG1nZPgQDcm5T0-EjgyYVMmsrnhpL7mrbSvSDy-wk6noat6HCU-48Y/s1600/71796-0_663_382.jpg

Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain yang bukan mahrom dan dia bersolek supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Betapa wanita itu digambarkan sebagai tiang negara, rusak tiang, maka rusak pula negara, akhlak dan moral.

Meski demikian, laki-laki yang bermaksiat kepada Allah juga tidak sedikit yang masuk neraka. Ayah-ayah yang membiarkan anak perempuanya tidak memakai kerudung dan mengumbar aurat didepan orang lain.

Surga dan Neraka adalah soal pilihan. Tergantung bagaimana manusia menjalani hidupnya dialam jagad raya. kalau mau selamat, maka patuhlah kepada Al-Qur’an dan hadist, balasanya adalah surga dengan segala kenikmatan di dalamnya. Kalau mau celaka dengan mendurhakai Al Qur’an dan hadist, maka Allah sudah menyediakan penjara yang sangat mengerikan, yaitu neraka dengan api dan siksaan yang sangat pedih dan tidak terbayangkan oleh manusia sebelumnya.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Di Dalam Kubur Jenazah Dicabik Malaikat, Ini Dia Penyebabnya


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj8VfbSTAM62axfb9-x8GpHAbVx0HgZMB4qnEScZpqdzBYp2BStthiTpsr7vS4VWin2D5246l7X0kKvwY4HMKVwcT6OpwE7XOlVPmc13KLNcx4I-yN6-VYjKkeTDP47zMq6QOKn_0zeaW4/s1600/siksa-kubur.JPG

ADA berbagai macam siksaan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala siapkan bagi orang-orang yang melakukan kesalahan dan tidak mengakui kesalahan serta memperbaikinya. Dan siksaan itu disesuaikan dengan perilaku buruknya di dunia.

Salah satu siksaan yang akan diperoleh oleh jenazah pendosa adalah dicabik oleh malaikat. Lantas, dosa apa yang membuatnya dicabik? Hal ini dapat kita ketahui dari kisah yang diceritakan oleh Umat bin Abdul Aziz. Seperti apa kisahnya?

Suatu saat, Umar sedang mengurusi salah seorang jenazah kerabatnya yang bernama Fatih. Ia ikut memandikan, mengkafani, dan menshalatinya. Ia juga ikut dalam membawa jenazah menuju pemakaman umum.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke pemakaman itu, jenazah itu pun segera dimakamkan dan kemudian orang yang melayat pun meninggalkan kuburnya. Begitu juga dengan Umar yang meninggalkan makam itu. Beberapa langkah ia menjauh dari pemakaman, ia pun mendengar suara dari dalam makam yang baru diurusnya itu. Ia mengira bahwa suara itu adalah suara malaikat yang melaksanakan tugasnya di alam kubur. Ternyata inilah permulaan siksa kubur dalam Islam.

Suara itu mengatakan kepada Umar, maukah ia memberitahu apa yang telah diperbuat suara itu dengan orang yang dicintainya itu. Tentu saja Umar ingin mengetahui apa yang terjadi. Suara itu semakin keras dalam menjelaskan, ia telah membakar kain kafannya, dirobeklah seluruh badannya dan disedot darahnya serta dikunyah daging jenazah itu.

Lalu suara itu kembali bertanya kepada Umar, maukah ia tahu apa yang diperbuat malaikat kepada anggota badan si jenazah. Umar pun semakin penasaran apa yang terjadi dengan anggota badan si jenazah. Suara itu menjelaskan bahwa malaikat telah mencabut dagingnya satu persatu dari kedua telapak tangannya. Kemudian dari tangan ke lengan, dari lengan ke pundak. Serta dicabutlah lutut dari betisnya dan betis ke telapak kakinya. Suara itu terdengar sungguh menyeramkan.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgheMs3y9acCRYIPqSANKIpIYZBfORhe5X5TLGlP36OsivmmwxeChb15LLZeYZRIVSpj8sPTPsYRVpvWXvSzkVid9K3Z3AUzhnw3H_sea6nBfe9W7s8aaRZRyxcJu170Kw8hrEeYIJNCMs/s1600/alam+kubur.jpg

Setelah itu, Umar yang bertanya, apa yang dilakukan si jenazah hingga ia mendapatkan siksa kubur yang begitu pedih. Dijelaskanlah bahwa sebenarnya hanya sedikit. Kemuliaan yang ada di dalam jenazah itu adalah kehinaan. Pemuda ini telah larut dalam kenikmatan dunia yang semu sampai-sampai melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia telah lalai dengan kewajibannya, shalat.

Begitu mendengar semua itu, Umar pun menangis. Ia kemudian merenung dan menghimbau pada orang-orang yang masih hidup untuk meningkatkan ibadahnya pada Allah, baik secara kuantitasnya maupun kualitasnya. Beberapa ibadah yang harus kita lakukan adalah melaksanakan shalat, berpuasa, zakat, dan masih banyak lagi.

Setelah itu, Umar menjadi semakin rajin dalam mengingatkan sesama umat Islam mengenai siksa kubur setelah pemakaman dan hakikat kesenangan dunia yang seringkali menipu kita dan menjauhkan diri pada Allah. Dalam salah satu dakwahnya, Umar menjelaskan bahwa celakalah mereka yang tertipu oleh kenikmatan dunia, di alam kubur tidak akan ada siang atau malam, tertutup kesempatan untuknya beramal. Mereka juga akan terpisah dari kekasih, keluarga, istri yang dinikahi, anaknya dan orang-orang lainnya. Sedangkan kerabatnya sibuk dengan membagi-bagi rumah dan harta warisannya. Karena itulah mari kita bersama meningkatkan ibadah kita pada Allah.

Berdasarkan kisah nyata siksa kubur di atas, kita diingatkan bahwa kenikmatan atau kesenangan di dunia hanyalah semu dan tidak akan bertahan abadi. Bahkan, jika kita tidak memiki keimanan yang teguh dan ketakwaan yang kuat maka sangat mudah untuk kita terjerumus ke dalam kenikmatan dunia hingga melalaikan kewajiban kita sebagai hamba-Nya. Oleh karena itu, ingatlah bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di akhirat. Sehingga kita harus senantiasa berusaha menujunya untuk menghindari bernasib seperti jenazah dicabik malaikat tadi.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Pemuda Ini Akan Di Cabut Nyawanya 7 Hari Lagi!


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKyUk81JT_HwkmSuBAH5Yj0wEAkcxxZJInMU46x2LjJzFSr9ApkdfYFvRh2F5Rb6WaS7CGBcrIo0-MxMgG93NTnlK5emI6oc2rZ5aZFlowfXg_5w8ZuyRdi2GZ7vOEdyHSdyvh3w3314Q/s640/Pemuda+Sholeh+Yang+Mampu+Mengalahkan+Ribuan+Syetan.jpg

SUATU ketika, Nabi Daud duduk di suatu tempat. Di sampingnya, ada seorang pemuda saleh yang duduk dengan tenang tanpa banyak bicara. Tiba-tiba, datang Malaikat Maut yang mengucapkan salam kepada Nabi Daud. Anehnya, Malaikat Maut terus memandang pemuda itu dengan serius.

Nabi Daud berkata kepadanya, “Mengapa engkau memandangi dia?”

Malaikat Maut menjawab, “Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya tujuh hari lagi di tempat ini!”

Nabi Daud pun merasa iba dan kasihan kepada pemuda itu. Beliau pun berkata kepadanya, “Wahai Anak Muda, apakah engkau mempunyai istri?”

“Tidak, saya belum pernah menikah,” jawabnya.

“Datanglah engkau kepada Fulan – seseorang yang sangat dihormati di kalangan Bani Israil – dan katakan kepadanya, ‘Daud menyuruhmu untuk mengawinkan anakmu denganku.’ Lalu, kau bawa perempuan itu malam ini juga. Bawalah bekal yang engkau perlukan dan tinggallah bersamanya. Setelah tujuh hari, temuilah aku di tempat ini.”

Pemuda itu pergi dan melakukan apa yang dinasihatkan Nabi Daud kepadanya. Dia pun dinikahkan oleh orang tua si Gadis. Dia tinggal bersama istrinya selama tujuh hari. Pada hari kedelapan pernikahannya, dia menepati janjinya untuk bertemu dengan Daud.

“Wahai Pemuda, bagaimana engkau melihat peristiwa itu?”

“Seumur hidupku, aku belum pernah merasakan kenikmatan dan kebahagiaan seperti yang kualami beberapa hari ini,” jawabnya.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMoD5-QFzqYG4wbFLaQZUZg6rhEA-q50Af4GksImt-ye3jJ5SmLMDyWOQQsFHoaOvzHORl1zpWy2M51clkwxREWHuVc6On8BlHSymukeFdXlB3IAmAT8E2LnzVrYrMr4RaTXuC6p0tDpjc/s1600/250493_215199531834063_185590688128281_747563_2516043_n.jpg

Kemudian, Nabi Daud memerintahkan pemuda itu untuk duduk di sampingnya guna menunggu kedatangan malaikat yang hendak menjemput kematiannya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Nabi Daud berkata, “Pulanglah kepada keluargamu dan kembalilah ke sini untuk menemuiku di tempat ini delapan hari setelah ini.”

Pemuda itu pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Pada hari kedelapan, dia menemui Nabi Daud di tempat tersebut dan duduk di sampingnya. Kemudian, kembali lagi pada minggu berikutnya, dan begitu seterusnya. Setelah sekian lama, datanglah Malaikat Maut kepada Nabi Daud.

“Bukankah engkau pernah mengatakan kepadaku bahwa engkau akan mencabut nyawa anak pemuda ini dalam waktu tujuh hari ke depan?”

Malaikat itu menjawab, “Ya.”

Nabi Daud berkata lagi, “Telah berlalu delapan hari, delapan hari lagi, delapan hari lagi, dan engkau belum juga mencabut nyawanya.”

“Wahai Daud, sesungguhnya Allah merasa iba kepadanya lalu dia menunda ajalnya sampai tiga puluh tahun yang akan datang.”

Pemuda dalam kisah ini adalah seseorang yang taat beribadah, ahli munajat, gemar berbuat kebaikan, dan sangat penyayang kepada keluarganya. Boleh jadi, karena amal saleh dan doa-doanyalah, Allah berkenan menunda kematian sang pemuda hingga tiga puluh tahun lamanya.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Wednesday, November 2, 2016

Kisah Ibnu Taimiyah Dan Seorang Pencaci Nabi


demonstrasi

Tepatnya di tahun 693H, waktu itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berusia 32 tahun. Terjadi kisah ‘Assaf seorang Nashrani.

Al Imam Ibnu Katsir bercerita:

كان هذا الرجل من أهل السويداء قد شهد عليه جماعة أنه سب النبي صلى الله عليه وسلم ، وقد استجار عساف هذا بابن أحمد بن حجي أمير آل علي ، فاجتمع الشيخ تقي الدين ابن تيمية ، والشيخ زين الدين الفارقي شيخ دار الحديث ، فدخلا على الأمير عز الدين أيبك الحموي نائب السلطنة

“‘Assaf ini seorang penduduk Suwaida. Banyak orang yang menyaksikan ia mencaci Nabi shallalllahu’alaihi wasallam. Lalu si ‘Assaf minta perlindungan kepada Ibnu Ahmad bin Haji, pimpinan kabilah Alu Ali. Maka Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah bertemu dengan Syaikh Zainuddin Al Fariqi pimpinan Darul Hadits. Keduanya masuk kepada Al Amir ‘Izzuddin Aibak Al Hamawi, wakil Sulthon”.

فكلماه في أمره ، فأجابهما إلى ذلك ، وأرسل ليحضره ، فخرجا من عنده ومعهما خلق كثير من الناس ، فرأى الناس عسافا حين قدم ومعه رجل من العرب ، فسبوه وشتموه ، فقال ذلك الرجل البدوي : هو خير منكم . يعني النصراني فرجمهما الناس بالحجارة وأصابت عسافا ، ووقعت خبطة قوية

“Keduanya berbicara kepadanya mengenai si Assaf, Nashrani yang mencaci Nabi. Izzuddin pun menyambut baik keduanya dan akan menghadirkan orang Nashrani ini. Keduanya pun keluar bersama jumlah banyak dari manusia. Lalu orang-orang melihat ‘Assaf datang bersama arab badui. Orang-orang pun mencaci makinya. Maka orang arab badui ini berkata: “Si ‘Assaf ini lebih baik dari kalian!“. Maka orang-orang pun melemparinya dengan batu dan mengenai si Assaf dan terjadi keributan yang kuat”.

فأرسل النائب ، فطلب الشيخين ابن تيمية والفارقي ، فضربهما بين يديه ، ورسم عليهما في العذراوية

“Mendengar keributan itu marahlah sang wakil Sulthon (Al Amir Izzuddin Aibak). Dan meminta Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi untuk hadir lalu keduanya dipukuli dan dipenjara di Madrosah Adzrowiyah“.

وقدم النصراني ، فأسلم وعقد مجلس بسببه ، وأثبت بينه وبين الشهود عداوة ، فحقن دمه

“Amir Izzuddin juga mendatangkan Assaf si Nasrani. Lalu Amir Izzuddin meminta Assaf masuk Islam dan membuat sidang khusus karena sebabnya. Dari majelis itu tampaklah permusuhan antara peserta sidang dengan si Assaf. Namun tertahanlah darah si Assaf (ia bebas).

ثم استدعى بالشيخين فأرضاهما وأطلقهما

“Kemudian dipanggillah ibnu Taimiyah dan Al Fariqi dan dimintai keridloannya lalu keduanya dilepaskan”

(Lihat Al Bidayah wan Nihayah 17/665-666 karya Ibnu Katsir, dan kitab Al Muqtafa ‘alar Roudhotain 2/363 karya Al Barzali).

Kisah ini memberikan beberapa pelajaran:

    Mengingkari penista agama dengan cara melaporkannya kepada penguasa. Bukan dengan main hakim sendiri.

    Para ulama hendaknya yang langsung berbicara kepada penguasa, karena merekalah yang mampu menyampaikan dengan hujjah dan akhlak. Sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi yang langsung berbicara dengan wakil sulthan, Izzudin Al Hamawi. Ini sesuai dengan perintah Nabi untuk menyampaikan nasehat secara rahasia.

    Dalam kisah tersebut, tidak disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi lah yang mengerahkan massa. Namun keduanya pergi diikuti banyak orang yang juga sama sama ingin mengadukan si pencela Nabi kepada penguasa.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqp61B00K8QfgIvwgHS947kV8t4W8dnjV9A3nww6OdJlm9aR6QG4eMgSHVlcDasXJByDZvT3xNttZkS5l-_U5n0cf6O3TAQgTuThD2PT49MJTQ4iH_IydD8L7wFkWDLJ0hQR5NuJ1caCA6/s400/picture-5554aczs-ABNS.jpg

    Sikap arogan dan kekerasan bukanlah solusi memecahkan permasalahan. Bahkan seringkali menimbulkan mudharat yang lebih besar, bahkan malah Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi yang dipukuli.

    Para ulama hendaknya tidak memanas-manasi manusia dengan provokasi. Lihatlah bagaimana sikap Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi dipukuli, mereka sama sekali tidak memprovokasi massa dan memilih bersabar.

    Coba renungkan, bagaimana bila para pendemo yang berdalil dengan kisah Ibnu Taimiyah ini ditangkapi oleh pemerintah dan dipukuli, akankah mereka bersikap seperti Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi?

    Keluarnya orang orang awam untuk berdemo seringkali menimbulkan keributan dan mudah terpancing emosi. Lihatlah ketika orang orang itu dipanas panasi oleh arab badui bahwa “si Assaf lebih baik dari kalian!“. Mereka langsung melempari dengan batu sehingga terjadi keributan. Ini menunjukkan perbuatan mereka malah menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.

    Kisah para ulama bukanlah dalil, karena dalil adalah Al Qur’an, hadits dan ijma. Ulama adalah manusia biasa yang bisa jatuh kepada kesalahan.

***

Penulis: Ust. Badrusalam Lc. (dengan suntingan redaksi pada matan kisah)




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Tuesday, November 1, 2016

Kisah Patah Hatinya Seorang Umar bin Abdul Aziz


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifdcridUvrCJMyASpCU2XI4C-uvTQwVgw2Z5Or_C5ALdXgekphHu3BP1gIrWUvFR2oNa9cXBS8oBiaSxgPghbMV4GqylhwiMlDKb0wxbDbym9HDY_-OtXSTxRy94_d3VQI60nSYpKVPPY/s320/hatibening.jpg

DIKISAHKAN bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah jatuh cinta dengan sangat berat dan mendalam terhadap budak perempuan milik istrinya, Fathimah binti Abdul Malik.

Perempuan itu memang hanyalah seorang amah, seorang budak perempuan, namun, ia sangat cantik jelita, mengalahkan banyak wanita merdeka di zamannya, dan budak itu milik Fathimah binti Abdul Malik bin Marwan, istri Umar bin Abdul Aziz.

Sebelum Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, berkali-kali ia meminta kepada Fathimah, istrinya, agar sang istri menghibahkan budak perempuan itu kepadanya, atau menjualnya kepadanya.

Namun, karena budak itu sangat cantik jelita, dan sang istri mengetahui betapa berat dan mendalam “rasa cinta” Umar bin Abdul Aziz kepadanya, sang istri tidak mau memenuhi permintaan sang suami. Wajar lah, wanita mempunyai rasa cemburu, dan ia takut “kalah bersaing” dengan sang budak itu.

Sang amah atau budak perempuan itu pun mengetahui betapa berat dan mendalam “rasa cinta” Umar bin Abdul Aziz kepadanya.

Sampai akhirnya, tibalah masa di mana tanggung jawab kehilafahan jatuh pada Umar bin Abdul Aziz.
Perlu diketahui bahwa dulunya gaya hidup Umar bin Abdul Aziz adalah gaya hidup istana, penuh dengan kemewahan dan bergelimang dalam harta dan fasilitas.

Setelah Umar bin Abdul Aziz menjadi miskin, dan hari demi hari disibukkan oleh upayanya menjadi seorang khalifah yang adil, istrinya, Fathimah bin Abdul Malik, merasa iba dan kasihan kepadanya. Maka dihibahkanlah budaknya yang cantik jelita itu kepada Umar bin Abdul Aziz.

Di luar dugaan sang istri dan budaknya sekaligus, ternyata Umar bin Abdul Aziz menolak hibah tersebut.
Sebenarnya, kalau saja sang istri dan sang budak itu mengetahui hal yang sebenarnya, keduanya tidak perlu terkejut, sebab, momentum penghibahan itu terjadi setelah Umar bin Abdul Aziz bercita-cita ingin masuk syurga. Sementara Umar bin Abdul Aziz tahu betul bahwa syurga itu diperuntukkan bagi seseorang yang memenuhi kriteria tertentu, yang diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala:

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya),” (Q.S. An-Nazi’at: 40 – 41).

Bahkan Umar bin Abdul Aziz bertindak lebih jauh dari sekedar menolak hibah istrinya itu, meskipun hibah itu sendiri adalah budak perempuan yang sangat cantik jelita dan yang “dicinta”-nya secara berat dan mendalam.

Umar meminta kepada Fathimah untuk menjelaskan asal muasal budak perempuan itu, yang kemudian diketahui bahwa ia pada asalnya adalah tawanan perang yang kemudian menjadi budak. Dan pada saat para tawanan itu dibagi-bagikan kepada para prajurit, ia terjatuh menjadi bagian dari seorang prajurit.

Tetapi, dengan alasan menghilangkan kecemburuan prajurit lainnya, budak perempuan itu akhirnya diambil oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan, yang lalu dihibahkan kepada putrinya, Fathimah.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPTHri3fp4Sui0xz193k30FhqbMHM0bInfXTuh6p2vey3a7PLkhS9PnrH5om5l9hJK50vs5I47K_ELLksS7Tp1D4klCLPndEgK-NILlULUVRwyFb-f1Q-l4N92fnmTLc336GNi809AFpJs/s1600/umar+bin+Abdul+Aziz.jpg

Mendengar penjelasan itu, maka Umar bin Abdul Aziz meminta agar prajurit itu dipanggil untuk menerima kembali jatah dan bagiannya yang selama ini tertunda.

Prajurit itu pun datang, maka oleh Umar bin Abdul Aziz, diserahkanlah budak perempuan yang cantik jelita itu kepadanya.

Sang prajurit pun berkata,” Wahai amirul mukminin, budak perempuan itu adalah milik anda, maka terimalah.”

Namun Umar tetap menolak.

Prajurit itu pun berkata, “Kalo begitu, belilah ia dariku, dan aku dengan senang hati akan menerima akad jual beli ini.”

Tawaran ini pun ditolak oleh Umar. Dan ia pun bersikeras agar sang prajurit itu membawa pergi budak perempuan tersebut.

Budak perempuan itu pun menangis dan berkata, “Kalau begini jadinya, mana bukti cintamu selama ini wahai amirul mukminin?”

Umar menjawab, “Cinta itu tetap ada di dalam hatiku, bahkan jauh lebih kuat daripada yang dahulu-dahulu, akan tetapi, kalau aku menerimamu, aku khawatir tidak termasuk dalam golongan orang yang “menahan dirinya dari keinginan hawa nafsu”.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Saturday, October 29, 2016

Lebih Dulu Mana Dipinang Jodoh atau Izrail?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhS0YdZTyn51FyW-gr_JR4hFG9KZTHesVXHTjCvEqJKyADV05V3YGSaBiOWNiAbB6lldxt5AESAbD6DccENi2xKV2cDSK6suZ9R554qF_rBLjfinOjYfNAOfUtw_ExhpagQR5DKYr9DMLU/s640/jodoh+dan+kmatian.jpg

JODOH, misteri bagi setiap manusia. Pun begitu dengan kematian. Keduanya sengaja Allah rahasiakan agar manusia tak berleha-leha, dan terus memperbaiki diri sebelum bertemu dengan Sang Rabbul’alamin. Banyak diantara kita yang mempertanyakan kedatangan keduanya. Lantas, mana yang lebih dulu meminang? Jodoh atau Izrail?

1. Jodoh
Allah SWT berfirman,
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik”. (Qs. An Nur:26).

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri”. (QS. Ar-Rum [30] : 21).

“Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan”. (QS. An-Naba’ [78] : 8).

Dari ayat di atas dapat kita lihat bahwa, Allah telah menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Ada wanita-laki-laki, siang-malam, atas-bawah, terang-gelap, dan lain-lain. Perlu kita catat, jika Allah memberikan kita pasangan sesuai dengan jenis kita sendiri. Jadi kalau ada yang mengaku menikah dengan selain manusia, maka patut dipertanyakan kebenarannya.

Lalu kapan kedatangan jodoh itu?
Kedatangannya memang tidak dapat ditebak, tapi bisa diikhtiarkan. Jika kita memang sudah siap untuk menikah atau harus segera menikah karena tidak kuat menahan syahwat, maka segera carilah jodoh Anda. Tentu saja dengan cara yang di syariatkan, bukan dengan perzinahan atau pacaran.

Lalu bagaimana jika jodoh tak kunjung datang?
Jika kita sudah tidak dapat menahan syahwat untuk menikah namun jodoh itu tak kunjung datang, maka berpuasalah karena itu akan menjaga kita dari keburukan syahwat. Lalu, berdoalah kepada Allah agar dipertemukan dengan manusia terbaik menurut-Nya.


 http://abiummi.com/assets/uploads/2015/06/Tips-Mencari-Jodoh_02.jpg

2. Kematian

Allah menghidupkan dan mematikan (QS. Ali Imran [3]: 156).

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (QS. Ali Imran [3]: 145).

Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat memundurkannya. (QS. al-Hijr [15]: 5; al-Mu’minun [23]: 43)

Jika jodoh bisa diikhtiarkan kedatangannya, lain halnya dengan kematian. Tanpa kita ikhtiarkan, kematian akan datang dengan sendirinya. Yang bisa kita ikhtiarkan dalam kematian ini bukan waktu kedatangannya, tapi kondisi saat kita meninggal nanti. Apakah meninggal dalam keadaan khusnul khotimah atau suul khotimah.

Kematian tidak mengenal muda atau tua, sehat atau sakit, sudah menikah atau belum menikah. Ia datang menurut ketetapan yang Allah SWT berikan kepada kita.

Siapapun yang datang lebih dahulu jodoh atau kematian, seyogyanya kita mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Alllah SWT. Jangan sampai salah memantaskan diri.

Jika kita memantaskan diri karena Allah, lalu jodoh yang lebih dahulu datang, maka insyaallah kita akan dipertemukan dengan orang yang sama memantaskan diri karena-Nya.

Tapi, jika kita memantaskan diri karena Allah, lalu Izrail yang lebih dahulu datang, maka insyaallah kita akan bertemu dengan Allah SWT dan meninggal dalam kondisi khusnul khotimah. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Friday, October 28, 2016

Ketika Rasulullah Menegur para Sahabat Gara-gara Burung dan Semut


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghG1AVb7yBN7nshtXm58QNy_fszBmOrjKepidk7K_xa8rCJW5O5iC2bduVRJqIV7GGW8VILHMKkRfBonPTizWXvSRpeHoYo18mqUvCCR6GPoahAn9G7KiGhMQjFwdl6ovknZaAgh0GHmQJ/s1600/1377000_10151566959401116_698222543_n.jpg

DALAM sebuah momen perjalanan bersama Rasulullah, para sahabat pernah menyaksikan seekor humarah (semacam burung emprit) bersama dua anaknya. Entah dengan alasan apa, mereka tiba-tiba mengambil kedua anak burung itu. Tentu saja sang induk berontak dan mengepak-ngepakkan sayapnya.

Rasulullah yang saat itu sedang membuang hajat tak tahu apa yang dilakukan para sahabatnya. Ketika kembali, beliau pun seperti terkejut lalu berseru, “Siapa yang mengusik burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anak burung itu kepada induknya!”

Belum lama Nabi berhenti menasihati, beliau melihat lagi peristiwa ganjil: sebuah sarang semut hangus terbakar.

“Siapa yang telah membakar sarang ini?”

“Kami,” aku para sahabat Nabi.

“Sungguh, tidak pantas menyiksa dengan api kecuali Tuhan pencipta api,” sabda Rasulullah. Demikian cerita yang termaktub dalam hadits riwayat Abu Dawud.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTX_HTlywY3d-0kDcy3Dgyd9ibOOjlSujG8mKjL8jMC1eygkNcIKPkQgb0MP2ukBQZ_0sgZgmX6_5cMdTzvRAcS9zJnlwASTnd0W7sUvUaJI-D97KeNMu4vHQmjYJHdnN87m-67vWyFUD4/s1600/marabunta.jpg

Para sahabat memang bukan orang-orang yang maksum atau terbebas dari dosa. Tapi, dari kekeliruan merekalah Rasulullah memberikan sejumlah pelajaran kepada umatnya. Tingkah para sahabat yang mengganggu induk burung dan anak-anaknya, serta menghanguskan kerajaan semut membuat Rasululah merasa perlu untuk menegur.

Peringatan Rasulullah kepada para sahabatnya adalah bukti betapa Islam sangat menghargai binatang dan kehidupannya. Islam mengizinkan manusia membela diri tatkala diserang binatang yang mengancam keselamatan fisik dan jiwanya. Namun, Islam melarang pemeluknya untuk berbuat semena-mena, baik untuk melampiaskan amarah ataupun keisengan belaka.

Binatang, sebagaimana manusia, adalah makhluk Allah rabbul ‘âlamîn. Bahkan, binatang-binatang dianugerahi kemampuan untuk bertasbih—dengan caranya sendiri. “Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Ash-Shaffat: 1).

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ketika Akan Mencabut Nyawa, Malaikat Maut Heran dengan Orang Ini


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdAUwZJbYnbBqzjfTRgr05A9vzf-guQlqlSifIt4YixNYJYtbAHvG8DfPdwivQSJ-IkxEZf-qlcA5MLXw-qvkbAMPqjU8cSsYJwPaiwsaueb77jgWur-1oYigecozBPN50WEzxRZWQa64/s1600/fb_maut-copy.jpg

KEMATIAN pasti akan mendatangi setiap makhluk yang bernyawa, termasuk manusia. Hanya saja, waktu terjadinya tidak pernah kita ketahui. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang menentukannya. Bahkan, tempat terakhir yang kita singgahi pun menjadi suatu misteri bagi kita.

Sebagaimana, hal ini pernah terjadi di masa Nabi Sulaiman Alaihis Salam. Di mana, ada seseorang yang tak tahu bahwa ternyata ia akan wafat di negeri India, tempat yang cukup jauh dari negerinya.

Dikisahkan dalam fimadani.com bahwa Dr. Aidh Al-Qarniy dalam salah satu tulisannya pernah mengutip sebuah cerita yang terjadi pada zaman Nabi Sulaiman Alaihis Salam. Diceriatakan bahwa Nabi Sulaiman sedang berkumpul dengan para pengikutnya. Namun ada salah satu pengikutnya yang merasa tidak nyaman duduk berkumpul, karena ada seseorang yang tepat duduk di samping Nabi Sulaiman terus melototinya.

Kemudian dengan gelisah ia bertanya kepada Nabi Sulaiman, “Siapakah gerangan orang tersebut yang sangat tajam melotot kepadaku itu?” Nabi Sulaiman menjawab, “Ia adalah Malaikat Maut yang menyamar sebagai manusia.” Mendengar jawaban tersebut, pengikut tersebut kaget dan ketakutan, menyangka bahwa ajal akan tiba.

Kemudian ia berkata kepada Nabi Sulaiman, “Wahai Nabi! Mintalah kepada Allah agar memindahkan aku dengan angin-Nya ke tempat yang sangat jauh!” Kemudian nabi berdo’a maka hilanglah pengikut tersebut. Dalam suatu riwayat ia diterbangkan oleh angin ke negeri India.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqfOeQIVJmW-Mi0HwhwjqVmhc-ERjucytmXU_Pm8Xtz01dUatnPZSfdSV09LrnaFUUCEDeD3AVgLqEg0q4DO1yQGDH7EyUPlFuXPPsvqgj_hh_lmxbRFCQS0LuL2u63azTc2i7Yj-0az7k/s320/gambar+awan+mirip+malaikat.png

Tak lama setelah itu, Nabi Sulaiman bertanya kepada malaikat Maut tersebut, “Kenapa kamu melototi orang tersebut seperti itu?” Kemudian ia menjawab, “Aku heran wahai Nabi. Aku mendapat perintah dari Allah untuk mencabut nyawa orang ini siang nanti di negeri India, tapi mengapa pagi ini ia masih berada di sini?”

Kematian adalah suatu misteri yang tidak ada seorang pun tahu kapan, dimana dan bagaimana ia meninggalkan dunia ini. Hal ini terbukti dari kisah tersebut yang menceritakan bahwa seseorang yang kini berada di suatu tempat, ternyata ketika ajalnya tiba, ia berada di tempat yang berbeda. Dan bagi Allah, memindahkan manusia dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan wkatu singkat adalah suatu perkara yang mudah.

Maka, seyogyanya kita sebagai seorang muslim yang tak punya daya apa-apa untuk selalu memohon kepada Allah agar kita diwafatkan dalam keadaan yang khusnul khotimah. Tentunya, untuk bisa meraih itu, kita harus berusaha. Bagaimana caranya? Lakukanlah apa yang Allah perintahkan dan jauhi segala perkara yang Allah larang. Wallahu ‘alam.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Wednesday, October 26, 2016

Siti Aisyah Putuskan Masuk Islam karena Merasa Tenang Setiap Kali Dirinya Mendengar Adzan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEid5ria9n6wLeFHfEdngSyeMfDWpN0CPmfXA7O6_kJq7NYNg6IzQjM81S3oZmazvepQ9P546qmn6uoFbktbMg4Avw45I2ka7GtEAr4uMb7XXJjkufknRXxymAE83IY0OKB6LQpuVFnjsa3_/s640/mualaf+nikah-vert.jpg

PEREMPUAN yang bernama Siti Aisyah Abdullah, 21 tahun, awalnya bukan seorang Muslim. Ia dilahirkan di tengah keluarga non-Muslim di Malaysia.

Kisah hijrahnya menjadi seorang Muslimah dimulai sekitar tiga tahun lalu. Hidayah menghampirinya karena kesukaannya terhadap aktivitas para Muslim mendirikan sholat jemaah.

Kesukaannya itu telah tertanam dalam dirinya sedari kecil. Ia mengaku merasa tenang apabila mendengar lantunan adzan. Karena tidak ingin ketenangan yang ia rasakan itu hilang, kemudian Siti memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Siti mengucapkan kalimat syahadat dan resmi menjadi Muslimah pada 2013 lalu, dan ia merasa bersyukur tidak mendapat halangan dari keluarganya saat memeluk Islam.

“Bahkan, ketika saya memberi tahu tentang niat untuk mengakhiri masa lajang, keluarga juga tidak menghalangi meskipun usia saya masih muda karena mereka yakin saya sudah matang untuk membuat keputusan sendiri,” kata Siti seperti dilansir hmetro.com.my.

Minggu kemarin, Siti resmi menjadi seorang istri. Dia dinikahi oleh Mohammad Zulfadli Mohamer Ghazali, 23 tahun, yang merupakan atasan Siti dimana ia bekerja.

“Lebih terharu lagi, mereka turut hadir dan menyaksikan hari paling bersejarah bagi saya malam ini (kemarin). Perbedaan agama tidak memutuskan ikatan kekeluargaan kami,” jelas Siti.

Siti dan Zilfadli adalah salah satu dari 25 pasangan yang melangsungkan pernikahan massal di Masjid Sultan Ahmad Shah 1, Kuantan, Pahang, Malaysia.

Siti akui jika perkenalannya dengan Zulfadli tidak berlangsung lama. Namun, hal itu tidak membuat Siti ragu menjadikan Zulfadli sebagai pemimpin sekaligus pembimbingnya dalam mendalami Islam. 

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Kisah Nasib Orang Yang Terakhir Masuk Surga

Nasib Orang Yang Terakhir Masuk Surga

Oleh : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc

Bagaimana nasib orang yang terakhir masuk surga?

Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّى لأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى. فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ – قَالَ – فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا – قَالَ – فَيَقُولُ أَتَسْخَرُ بِى – أَوْ أَتَضْحَكُ بِى – وَأَنْتَ الْمَلِكُ » قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ. قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

“Sesungguhnya aku tahu siapa orang yang paling terakhir dikeluarkan dari neraka dan paling terakhir masuk ke surga. Yaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan merangkak.

Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau, masuklah engkau ke surga.”

Ia pun mendatangi surga, tetapi ia membayangkan bahwa surga itu telah penuh.

Ia kembali dan berkata, “Wahai Rabbku, aku mendatangi surga tetapi sepertinya telah penuh.”

Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau dan masuklah surga.”

Ia pun mendatangi surga, tetapi ia masih membayangkan bahwa surga itu telah penuh.

Kemudian ia kembali dan berkata, “Wahai Rabbku, aku mendatangi surga tetapi sepertinya telah penuh.”

Allah berfirman kepadanya, “Pergilah engkau dan masuklah surga, karena untukmu surga seperti dunia dan sepuluh kali lipat darinya.”

Orang tersebut berkata, “Apakah Engkau memperolok-olokku atau menertawakanku, sedangkan Engkau adalah Raja Diraja?”

Ibnu Mas’ud berkata,

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi geraham beliau. Kemudian beliau bersabda,

“Itulah penghuni surga yang paling rendah derajatnya.”

(HR. Bukhari no. 6571, 7511 dan Muslim no. 186)

Hadits di atas menunjukkan bahwa manusia biasa melanggar janji. Oleh karena itu, lelaki tersebut tercengang karena melihat janji Rabbnya. Ia merasa bahwasanya ia akan diremehkan atau diberi sesuatu yang remeh. Padahal Allah tidak mungkin mengingkari janjinya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengingkari janjinya.”

(QS. Ali Imran: 9)





 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTdrxHeD4bbP9ByONxM12lKRBMOG11lp-FHQ6yYkfDdzuNZCthYcxyLZcyZwxIDBaRSRvT_AlU7JPhEPJkOeTNHK9kCyqa6RhRyoTGBFB8Kp0o3xIeHPJpiT0Coz1ORfpyRhauUfYqE8Q/s1600/syurga.jpg

Jika Allah berjanji pasti ditepati.

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa kedudukan penduduk surga yang paling rendah akan mendapatkan kenikmatan 10 kali lipat dari kenikmatan dunia. Sungguh nikmat yang luar biasa.

Hadits di atas juga menunjukkan pelajaran bahwa jika orang beriman yang masih memiliki iman walaupun kecil, ketika masuk neraka, tidak akan kekal di dalamnya. Berbeda dengan keyakinan sebagian kalangan yang meyakini bahwa jika ada yang masuk neraka tak bisa keluar-keluar lagi darinya.

Semoga Allah memasukkan kita dalam surga dengan mudah dan terselamatkan dari siksa neraka.

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 3: 314



Selesai disusun di Gunungkidul @DarushSholihin, menjelang Maghrib 27 Jumadats Tsaniyyah 1436 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Tuesday, October 25, 2016

Masuk Islam, Ronaldo Langsung Ganti Nama


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6rDnf_v666lnp1JYXhplY6HEoV4jLSBecgQJdt3wVY-220rU6xoMf1ROzZ1M6RdKyEGCGok-PpMOF7AmAiABFNsRV3lilGW3jNQaOklNdg2ZxiryKPre4GevP1aktN_2Uc0dwfrIhNTyB/s640/ilustrasi.jpg

JIKA Allah sudah berkehendak memberikan hidayah pada seseorang maka hal itu tidak bisa ditolak. Ronaldo Karol warga perumahan Erfina Kencana Regency Cibinong, Bogor masuk Islam pada Jumat lalu (21/10/2016).

Proses masuk Islamnya disaksikan oleh jamaah shalat Jumat di Masjid Baitul Faidzin Komplek Pemkab Bogor. Selain itu Ketua MUI Kabupaten Bogor, KH Mukri Adjie juga turut hadir dalam pengucapan syahadat Ronaldo.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/a8/f4/01/a8f4019e8b97e296656401666ea04f3b.jpg

Dilansir Pojoksatu, sebagai saksi, turut hadir pula Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Asep Saefudin, Imam Besar Masjid Baitul Faidzin dan puluhan umat Islam.

Usai resmi menjadi mualaf, nama Ronaldo Karol pun berganti menjadi Khaerul Hafiz. Diungkapkan Mukri Adjie, perpindahan agama Ronaldo dari yang sebelumnya pemeluk Katolik tidak dilandasi paksaan. Melainkan benar-benar didasari keseriusan.

“Ini bukti bahwa Islam tidak memaksakan dalam mensyiarkan agama. Islam tidak menyebarluaskan agama dengan membagikan mie instan atau barang lain supaya orang yang sudah beragama memeluk Islam,” kata Mukri.


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

3 Kabar Gembira dari Rasulullah untuk Umatnya


http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/ilustrasi-_120916114008-634.jpg

SUATU ketika, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah bertanya pada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam mengenai firman Allah yang berbunyi Allah menghapus dan menetapkan apa yang dihendaki-Nya. Dan di sisi Allah ada Lauh Mahfuzh (Ummul-Kitab).

Rasul kemudian menjelaskan bahwa beliau akan memberikan kabar gembira bagi umatnya dan agar dia menyampaikan juga kabar gembira ini pada orang-orang setelah Nabi bahwa bersedekah di tempat yang tepat, berbuat baik, dan berbakti pada orang tua dapat mengubah kesengsaraan menjadi kebahagiaan dan juga bisa memperpanjang umur.

Dikutip dari kumpulanmisteri.com, berdasarkan kabar gembira dari Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam di atas, terdapat tiga hal yang bisa kita lakukan untuk mengubah kesengsaraan menjadi kebahagiaan dan untuk memperpanjang umur, yaitu:

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5WGgV4xbF-jPv0YJ8lOxl8MszdUOB4uvZpbplT_EXp3J7bBrtS1AmbH1_CvZZrU4iNw6UraRwsm08Jkd5sPFwbFnTC5EK8HiFxYaVpcymOgaaAP-pxFkpKHMzWto1VxDbqDMfMU0rH74/s640/unta-padang-pasir1.jpg

Bersedekah di tempat yang tepat

Sedekah merupakan amalan yang bisa dilakukan oleh semua orang, baik yang kaya maupun miskin, yang sempurna maupun yang tidak sempurna. Sedekah tidak hanya berkutat pada harta atau uang saja. Jika kita tidak memilki kemampuan harta maka kita bisa bersedekah menggunakan jasa yang kita miliki, yakni dengan menolong seseorang yang membutuhkan. Bahkan, dikatakan bahwa senyum merupakan sedekah yang sangat mudah.

Oleh karena itu, latihlah diri kita untuk senantiasa bersedekah sesuai dengan kemampuan. Meskipun dalam riwayat tersebut disebutkan untuk bersedekah di tempat yang tepat, namun tak selamanya kita tahu apakah sedekah yang kita keluarkan itu berada pada orang yang tepat atau bukan. Terlepas dari semua hal itu, jika niat kita baik, percayalah bahwa itu sudah merupakan amalan.

Berbakti pada orang tua

Orang tua merupakan orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Mereka merelakan banyak waktu, harta, tenaga dan bahkan nyawa demi anak tersayang mereka. Dalam beberapa dalil diperintahkan kepada kita untuk berbakti kepada orang tua. Berbuat baik kepada orang tua selama hidup kita tidak akan bisa membalas semua jasa-jasanya. Oleh karena itu, sayangilah orang tua, doakan mereka dan jangan pernah membantah bahkan durhaka pada orang tua karena siksan Allah sangatlah pedih.

Berbuat baik

Berbuat baik tidak hanya terbatas pada mereka yang berbuat baik pada kita. Islam mengajarkan kepada kita untuk tetap berbuat baik kepada mereka yang mendzalimi kita. Ingatlah bahwa saat di alam kubur kelak, kita akan diberikan pertanyaan untuk apa usia kita selama ini. Untuk itu, persiapkan diri dengan selalu berbuat baik kepada semua orang agar takdir kita juga bisa menjadi baik dan juga bisa mempepanjang usia.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Imam Syafi’i Selalu Membagi Waktu Malamnya Menjadi 3


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOcxZJdZZcf3YcY20ReNNiMo-0HPTR6UHbDiTjh-BmKAzRc7urJOjVszZMyu4jxZ-x8de8aJgLX4tG3kB6SD210rNHNxyVQx3xodqESLJXTUGBQrROkelksW2pMowwN6eWYRE2ZRrMxQ/s1600/Gurun+pasir.jpg

PARA ulama terdahulu tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. Bahkan waktunya untuk istirahat pun mereka gunakan untuk senantiasa mendekat pada Allah.

Inilah contoh yang baik dari seorang imam yang sudah ma’ruf di tengah-tengah kita. Beliau memberi contoh bagaimana dalam membagi waktu malam untuk ibadah, belajar dan istirahat. Beliau tidak habiskan sia-sia untuk tidur saja. Juga bukan menghabiskan waktu malamnya dengan begadang sia-sia sebagaimana dilakukan oleh sebagian kita.

Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala (10: 35) menyebutkan, Muhammad bin Basyr Al ‘Akri dan selainnya berkata, telah bercerita pada kami Ar Robi’ bin Sulaiman, ia berkata, “Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga malam pertama untuk menulis, sepertiga malam kedua untuk shalat (malam) dan sepertiga malam terakhir untuk tidur”. Imam Adz Dzahabi menyebutkan, “Tiga aktivitas beliau ini diniatkan untuk ibadah.”



 http://i0.wp.com/www.satujam.com/wp-content/uploads/2015/04/lifeline-bookfest-books-reading-cheap-charity-fest11-weekendnotes.com_.jpg?resize=800%2C533

Banyak membaca kisah ulama semakin membuat kita istiqomah dan semangat dalam amalan.

Dikutip dari Rumaysho.com, memang benar kata Imam Abu Hanifah, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlak luhur mereka.”

Ya Allah, teruslah berilah kami kemudahan untuk istiqomah dalam ilmu, amal dan dakwah serta berilah kami kekuatan untuk semakin dekat dengan-Mu.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Kisah Keteladanan Rasulullah dan Seorang Yahudi Buta


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJiZDs5B4R4YLh4_ZbgUr496_aX6WnyqcEn850JYMyIVBUhF4t_mfbq2hcyXgK2Ru1BTfDe3Eo4IM2Pi1QpN20Jiw7_yeVQegZQW2waVKY-HnIrDeHFMa5SfKEEYiBLQNmOOqfz9Mnopw/s640/kisah-sahabat-nabi.jpg

ADA banyak sekali kisah suri tauladan Rasulullah yang dapat kita ambil hikmahnya, salah satunya adalah Rasulullah yang dengan sabar dan kasih sayang merawat seorang Yahudi buta. Kisah ini memberikan inspirasi dan cerminan menjadi seorang muslim yang baik sehingga banyak dikisahkan melalui ceramah atau dakwah. Bagaimana kisah Nabi Muhammad merawat seorang Yahudi buta?

Semasa hidup Rasulullah selalu membawakan makanan kepada seorang pengemis Yahudi tua dan buta yang berada di sudut pasar Madinah. Setiap pagi beliau mendatangi pengemis tua itu untuk memberikan makanan sekaligus menyuapinya dengan lembut dan kasih sayang. Padahal pengemis tua ini selalu berkata kepada semua orang yang menghampirinya agar jangan mendekati Muhammad karena dia adalah seorang pembohong, gila, ahli sihir, dan akan mengelabui dengan agama sesat yang dibawanya.

Meskipun setiap hari Rasulullah mendengar hinaan dan hujatan dari pengemis tua itu, namun beliau tetap bersabar dan tetap membawakan makanan setiap pagi serta menyuapinya dengan kasih sayang. Rasulullah tidak pernah berkata sepatah katapun kepada pengemis Yahudi itu dan setelah selesai menyuapinya beliau lalu pergi meninggalkannya. Inilah kisah Rasulullah yang menyentuh hati.

Setelah Rasulullah wafat, maka tidak ada seorang pun yang pergi membawakan makanan kepada pengemis buta itu. Sebagai sahabat Rasulullah, Abu Bakar bertanya kepada Aisyah apakah ada sunnah Nabi yang belum dijalankannya. Aisyah pun menjelaskan bahwa semasa hidup Rasulullah setiap pagi selalu membawakan makanan kepada seorang pengemis Yahudi tua dan buta yang berada di pasar Madinah.

Dikutip dari kumpulanmisteri.com, keesokan harinya, Abu Bakar menjalankan sunnah Nabi yaitu membawakan makanan untuk pengemis Yahudi tua dan buta yang berada di sudut pasar. Setelah Abu Bakar mendekati pengemis itu, alangkah terkejutnya beliau karena pengemis tua itu menyerukan kepada semua orang yang menghampirinya agar jangan mendekati Muhammad karena dia seorang penyihir, penipu, gila, dan pembohong dengan agama baru yang dibawanya.

Mendengar ucapan pengemis tua itu, Abu Bakar langsung menangis karena kesabaran Rasulullah menghadapi pengemis tua itu setiap pagi dan beliau tetap dengan kasih sayang memberikan makanan kepada orang yang telah menghinanya. Inilah kisah Rasullulah merawat seorang buta yang patut kita contoh.


https://dakwahmakassar.files.wordpress.com/2012/08/islam-sahabat.jpg

Abu Bakar akhirnya memberikan makanan kepada pengemis buta itu kemudian sang pengemis bertanya siapakah gerangan yang telah memberikan makanan kepadanya. Abu Bakar berkata bahwa dirinyalah yang selama ini membawakan makanan untuknya, tetapi meskipun buta sang penegmis mengetahui bahwa bukan Abu Bakar yang selama ini memberikan makanan untuknya.

Pengemis tua menjelaskan bahwa selama ini orang yang memberikan makanan kepadanya sangat lembut dan penuh kasih sayang sehingga dia tidak perlu kesulitan untuk mengunyah makanan karena makanan tersebut telah dihaluskan terlebih dahulu. Cara memberikan makanan pun juga penuh kasih sayang dan tidak kasar sama sekali.

Akhirnya Abu Bakar menceritakan bahwa selama ini yang telah memberikan makanan kepada pengemis tua itu adalah orang yang selama ini dia hina yaitu Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam dan beliau tidak akan pernah kembali untuk memberikan makanan karena telah wafat. Mendengar penjelasan dari Abu Bakar maka seketika pengemis tua itu menangis dan menyesali akan semua perbuatan yang telah dilakukannya. Pengemis Yahudi tua dan buta itu akhirnya mengakui akan kemuliaan Rasulullah dan kebenaran ajaran Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh Abu Bakar.

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Saturday, October 22, 2016

Hijrah Karena Takut Diperangi Allah Dan Rasulnya






https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibZzmp22M9XvZf07tMhYvb9WV4gZdhsvrk-tB2-A7Fz8UiZamPUR0J9bgBCjnDpFQeM3gbLoDBzfVac_N3FPgeIqAeoG1aWuL9k7u3m3HwEUOY5upgU3DLC2xvGGjjPNfToVXMkTbofaE/s1600/hijrah.JPG


KAWAN Facebook saya Bahtiar Basyuni mengupload foto ini. Sekilas orang langsung lihat dan komentar, sangaarrrr. Sadisss. Ngeerriii! Ada apakah gerangan?

 “Saya ini dulu biangnya riba mas, tahun lalu saya masih bekerja di sebuah dealer mobil. Tiap orang yang datang pasti saya anjurkan untuk kredit. Karena bonus yang saya terima lebih gede mas!” kata mas Bahtiar membuka chat dengan saya semalam.

“Kalau saya menjual mobil cash, bonus untuk saya hanya 250 ribu sampai 1 juta permobil, tapi kalau saya bisa menjual kredit bonus permobil bisa 5-6 juta mobil. Duitnya dari mana itu? Dari provisi pinjaman mas. Makin besar utangnya, makin besar provisinya, makin besar bonus untuk salesnya! Gimana gak puyeng itu konsumen mas, provisi itu diluar bunga kredit mobilnya. Udah beli mobil ngutang, bayar pokoknya, bayar bunganya, bayar provisinya.” Lanjutnya.

Wow! Sebulan bisa menjual 5 mobil kredit aja bisa dapat jatah komisi 25 juta.

“Tapi ya itu mas, karena duit riba kayak gak ada berkahnya. Saya diingatkan istri soal riba, saya cari info dari banyak sumber termasuk dari group Facebook mas Saptuari, ternyata benar. Pekerjaan saya mengajak orang berhutang dengan akad-akad riba yang diperangi Allah dan Rasulnya. Kuuaaapok aku mas! Gak mau aku diperangi ALLAH!”

Terus sekarang jualan bakso?
Gak malu?
Gak gengsi?

“Malah istri saya mendukung mas, ada beberapa kawan yang kaget dengan saya banting setir. Tapi saya hanya mau hidup tenang dalam ridho Allah, daripada saya dapat uang tapi saya menjerumuskan orang pada utang. Utangnya pakai riba lagi!” lanjut mas Bahtiar

Belajar bikin bakso darimana?

“Janji ALLAH kalo orang berhijrah pastiii ada aja jalannya, dulu awalnya saya jualan kue pagi, sampai disebelah lapak ada pakde bakso. Saya diajak kerjasama bagi hasil, dia yang buat baksonya. Setelah dua bulan saya malah diajarin bikin bakso sendiri agar saya bisa mandiri. Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa produksi dan jualan sendiri muter. Sehari saya bisa dapat untung bersih 200 ribu, tapi hati saya tenaaang. Gak lagi ngajak orang untuk ngutang!”

Masya Allah. Ini jawaban dari ALLAH untuk orang-orang yang mau hijrah.

“Barangsiapa berhijrah di jalan ALLAH, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS An Nisa:100)

Kamu yang tinggal di Cibitung Bekasi, silahkan larisi baksonya mas Bahtiar ini.

Tekun!
Fokusss!
Hajarrr terusss!

Rejeki halal itu akan mendatangkan banyak keberkahan, dia akan datang terus membawa kawan-kawannya lebih banyak, dan itu uang adem semua. Gak panas megangnya, gak gelisah menyimpannya.

Gampang bagi ALLAH membuat mas Bahtiar 5 tahun lagi memiliki beberapa outlet warung bakso di Bekasi, yang omzetnya sehari minimal 5 juta tiap warungnya. Apa sih yang gak mungkin bagi ALLAH?

‎َوَمِن النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَاللهُ رَؤوفُ بِالْعِبَادِ

Dan di antara manusia ada orang yang (menjual) mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.
(QS. Al Baqarah:207)

Selamat bergerak dan berjuang mas!
Setiap langkahmu adalah langkah penuh pahala.
Mencari rejeki halal untuk keluarga.
Allah akan mengangkat derajatmu, tinggal tunggu saja nanti waktunya.

Salam hijrah. 


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Nasib Menjadi Wanita Pengikut Syiah… Miris Banget Baca Kisahnya...


https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/8e/89/46/8e8946303a3a62f1a6e68186d632e759.jpg

Kasus wanita berjilbab dari Wisma Fatimah di Jl. Alex Kawilarang 63 Bandung Jawa Barat yang mengidap penyakit kotor gonorhe (kencing nanah) akibat nikah mut’ah. Seperti dilaporkan oleh LPPI yang berkasnya disampaikan ke Kejaksaan Agung dan seluruh gubernur, mengutip ASA (Assabiqunal Awwalun) edisi 5, 1411H, hal. 44-47 dengan judul “ Pasien Terakhir “,  seperti yang dimuat buku Mengapa Menolak Syi’ah halaman 270-273.

Berikut ini kisah selengkapnya:

Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter Hanung, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin dikota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelumnya. Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vaginal discharge).~

Sore itu suasana di rumah dokter penuh dengan pasien. Seorang anak tampak menangis kesakitan karena luka dikakinya, kayaknya dia menderita Pioderma. Disebelahnya duduk seorang ibu yang sesekali menggaruk badannya karena gatal. Diujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan acne vulgaris (jerawat) yang ia alami.

Ketika wanita itu datang ia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya  satu persatu pasien berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucapkan salam dia memasuki kamar periksa dokter Hanung. Kamar periksa itu cukup luas dan rapi. Sebuah tempat tidur pasien dengan penutup warna putih. Sebuah meja dokter yang bersih. Dipojok ruang sebuah wastafel untuk mencuci tangan setelah memeriksa pasien serta kotak yang berisi obat-obatan.

Sejenak dokter Hanung menatap pasiennya. Tidak seperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese) dokter Hanung membuka amplop hasil laboraturium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboraturium. Rasanya adalah hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin orang berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan sexsual.

Dengan wajah tenang dokter Hanung melakukan anamnese lagi secara cermat.

+  “Saudari masih kuliah?”

–   “Masih dok”



+  “Semester berapa?”

–   “Semester tujuh dok!”

+  “Fakultasnya?”

–   “Sospol”

+  “Jurusan komunikasi massa ya?”

Kali ini ganti pasien terakhir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap dokter Hanung dari balik cadarnya.

–   “Kok dokter tahu?”

+  “Aah,….tidak, hanya barangkali saja!”

Pembicaraan antara dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakit itu.

+  “Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?

Pasien terakhir itu nampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.

–  “Ada apa sih Dok…..kok tanya macam-macam?”

+  “Aah enggak,……..barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang  saudari derita!”

Pasien terakhir ini tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal dia menjawab.

–  “Saya dari Pekalongan”

+  “Kost-nya?”



–  “Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63”

+  “Di kampus sering mengikuti kajian Islam yaa”

–  “Ya,..kadang-kadang Dok!”

+  “Sering mengikuti kajian Bang Jalal?”

Sekali lagi pasien terakhir itu menatap dokter Hanung.

–  “Bang Jalal siapa?”

Tanyanya dengan nada agak tinggi.

+  “Tentu saja Jalaluddin Rachmat! Di Bandung siapa lagi Bang Jalal selain dia….kalau        di Yogya ada Bang Jalal Muksin”

–  “Yaa,…….kadang-kadang saja saya ikut”

+  “Di Pekalongan,……(sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan Ahmad Baraqba?”

Pasien terakhir itu tampak semakin jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan dokter yang semakin tidak mengarah itu. Tetapi justru dokter Hanung manggut-manggut dengan keterkejutan pasien terakhirnya. Dia menduga bahwa penelitian penyakit pasiennya itu hampir selesai. Akhirnya dengan suara yang penuh dengan tekanan dokter Hanung berkata.

–  “Begini saudari, saya minta maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya yang ngelantur tadi, sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur demi untuk therapi penyakit yang saudari derita,…………..”

Sekarang ganti pasien terakhir itu yang mengangkat muka mendengar perkataan dokter Hanung. Dia seakan terbengong dengan pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh dokter yang memeriksanya kali ini.

+  “Sebenarnya saya amat terkejut dengan penyakit yang saudari derita, rasanya tidak mungkin seorang ukhti mengidap penyakit seperti ini”

–  “Sakit apa dok?”

Pasien terakhir itu memotong kalimat dokter Hanung yang belum selesai dengan amat Penasaran.

+  “Melihat keluhan yang anda rasakan serta hasil laboraturium semuanya menyokong diagnosis gonorhe, penyakit yang disebabkan hubungan seksual”

Seperti disambar geledek perempuan berjilbab biru dan berhijab itu, pasien terakhir dokter Hanung sore itu berteriak,

–  “Tidak mungkin!!!”

Dia lantas terduduk dikursi lemah seakan tak berdaya, mendengar keterangan dokter Hanung. Pandangan matanya kosong seakan kehilangan harapan dan bahkan seperti tidak punya semangat hidup lagi. Sementara itu pembantu dokter Hanung yang biasa mendaftar pasien yang akan berobat tampak mondar-mandir seperti ingin tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya dokter Hanung memeriksa pasien begitu lama seperti sore ini. Barangkali karena dia pasien terakhir sehingga merasa tidak terlalu tergesa-gesa maka pemeriksaannya berjalan agak lama. Tetapi kemudian dia terkejut mendengar jeritan pasien terakhir itu sehingga ia merasa ingin tahu apa yang terjadi.

Dokter Hanung dengan pengalamannya selama praktek tidak terlalu kaget dengan reaksi pasien terakhirnya sore itu. Hanya yang dia tidak habis pikir itu kenapa perempuan berjilbab rapat itu mengidap penyakit yang biasa menjangkit perempuan-perempuan rusak. Sudah dua pasien dia temukan akhir-akhir ini yang mengidap penyakit yang sama dan uniknya sama-sama mengenakan busana muslimah. Hanya yang pertama dahulu tidak mengenakan hijab penutup muka seperti pasien yang terakhirnya sore itu. Dulu pasien yang pernah mengidap penyakit yang seperti itu juga menggunakan pakaian muslimah, ketika didesak akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya biasa kawin mut’ah.

Pasiennya yang dahulu itu telah terlibat jauh dengan pola pikir dan gerakan Syi’ah yang ada di Bandung ini. Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi’ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan syi’ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada didepannya sore itu.

+  “Bagaimana saudari… penyakit yang anda derita ini tidak mengenai kecuali orang-orang yang biasa berganti-ganti pasangan seks. Rasanya ini tidak mungkin terjadi pada seorang muslimah seperti anda. Kalau itu masa lalu anda baiklah saya memahami dan semoga dapat sembuh, bertaubatlah kepada Allah,….atau mungkin ada kemungkinan yang lain,…?”

Pertanyaan dokter Hanung itu telah membuat pasien terakhirnya mengangkat muka sejenak, lalu menunduk lagi seperti tidak memiliki cukup kekuatan lagi untuk berkata-kata. Dokter Hanung dengan sabar menanti jawaban pasien terakhirnya sore itu.

Beliau beranjak dari kursi memanggil pembantunya agar mengemasi peralatan untuk segera tutup setelah selesai menangani pasien terakhirnya itu.

–  “Saya tidak percaya dengan perkataan dokter tentang penyakit saya !” Katanya terbata-bata

+  “Terserah saudari,…….tetapi toh anda tidak dapat memungkiri kenyataan yang anda sandang-kan?”



–  “Tetapi bagaimana mungkin mengidap penyakit laknat tersebut sedangkan saya selalu berada didalam suasana hidup yang taat kepada hukum Allah?”

+  “Sayapun berprasangka baik demikian terhadap diri anda,….tetapi kenyataan yang anda hadapi itu tidak dapat dipungkiri?”

Sejenak dokter dan pasien itu terdiam. Ruang periksa itu sepi. Kemudian terdengar suara dari pintu yang dibuka pembantu dokter yang mengemasi barang-barang peralatan administrasi pendaftaran pasien. Pembantu dokter itu lantas keluar lagi dengan wajah penuh tanda tanya mengetahui dokter Hanung yang menunggui pasiennya itu.

+  “Cobalah introspeksi diri lagi, barangkali ada yang salah,…….. sebab secara medis tidak mungkin seseorang mengidap penyakit ini kecuali dari sebab tersebut”

–  “Tidak dokter,…….selama ini saya benar-benar hidup secara baik menurut tuntunan syari’at Islam,…..saya tetap tidak percaya dengan analisa dokter”

Dokter Hanung mengerutkan keningnya mendengar jawaban pasiennya. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisisnya. Untuk apa marah kepada orang sakit. Paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja, dan lagi analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh pasiennya. Dengan penuh kearifan dokter itu bertanya lagi,……..

+  “Barangkali anda biasa kawin mut’ah??

Pasien terakhir itu mengangkat muka,

–  “Iya dokter! Apa maksud dokter”?

+  “Itu kan berarti anda sering kali ganti pasangan seks secara bebas!



–   “Lho,… tapi itukan benar menurut syari’at Islam dok! Pasien itu membela diri.

+   “Ooo,…Jadi begitu,…kalau dari tadi anda mengatakan begitu saya tidak bersusah payah mengungkapkan penyakit anda. Tegasnya anda ini pengikut ajaran Syi’ah yang bebas berganti-ganti pasangan mut’ah semau anda. Ya itulah petualangan seks yang anda lakukan. Hentikan itu kalau anda ingin selamat”.

–  “Bagaimana dokter ini, saya kan hidup secara benar menurut syari’at Islam sesuai dengan keyakinan saya, dokter malah melarang saya dengan dalih-dalih medis”

Sampai disini dokter Hanung terdiam. Sepasang giginya terkatup rapat dan dari wajahnya terpancar kemarahan yang sangat terhadap perkataan pasiennya yang tidak mempunyai aturan itu. Kemudian keluarlah perkataan yang berat penuh tekanan.

+  “Terserah apa kata saudari membela diri,… anda lanjutkan petualangan seks anda, dengan resiko anda akan berkubang dengan penyakit kelamin yang sangat mengerikan itu, dan sangat boleh jadi pada suatu tingkat nanti anda akan mengidap penyakit AIDS yang sangat mengerikan itu,…atau anda hentikan dan bertaubat kepada Allah dari mengikuti ajaran bejat itu kalau anda menghendaki kesembuhan”.

–  “Ma..maaf, Dok, saya telah membuat dokter tersinggung!”

Dokter Hanung hanya mengangguk menjawab perkataan pasiennya yang terbata-bata itu.

+  “Begini saudari,…tidak ada gunanya resep saya berikan kepada anda kalau toh tidak berhenti dari praktek kehidupan yang selama ini anda jalani. Dan semua dokter yang anda datangi pasti akan bersikap sama,… sebab itu terserah kepada saudari. Saya tidak bersedia memberikan resep kalau toh anda tidak mau berhenti”.

–  “Ba…baik , Dok, …Insya Allah akan saya hentikan!”

Dokter Hanung segera menuliskan resep untuk pasien terakhir itu, kemudian menyodorkan kepadanya.

–  “Berapa Dok?”

+  “Tak usahlah,….saya sudah amat bersyukur kalau anda mau menghentikan cara hidup binatang itu dan kembali kepada cara hidup yang benar menurut tuntunan dari Rosulullah. Saya relakan itu untuk membeli resep saja”.

Pasien terakhir dokter Hanung itu tersipu-sipu mendengar jawaban dokter Hanung

–   “Terima kasih Dok,…….permisi”

Perempuan itu kembali melangkah satu-satu dipelataran rumah Dokter Hanung. Ia berjalan keluar teras dekat bougenvil biru yang seakan menyatu dengan warna jilbabnya. Sampai digerbang dia menoleh sekali lagi ke teras, kemudian hilang ditelan keramaian kota Bandung yang telah mulai temaran disore itu



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Friday, October 21, 2016

Ini Dia Golongan Manusia yang Lebih Buruk dari Firaun dan Iblis

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhW6iJWpNB_7hBhztd_17vcTx7w9W35CZ64OoXCSRMsz7_Wa3aaTXkdGJcNM_Q2RXC8-2cPOBzQv1slebNOuK7Rh-hlUYEuRcWofTrqRN21sqj2k26AdgWMwd9pU_YqXDpXR6DVGs2y4xk8/s1600/iblis-surat.jpg

KITA tahu  baha Firaun dan Iblis adalah makhluk-makhluk yang durhaka pada Allah allah subhanahu wa ta'ala . Tidak terbayangkan, bagaimana mengerikannya jika seorang manusia dianggap lebih buruk dibanding keduanya. Pasalnya baik Firaun maupun Iblis saja sudah demikian jahatnya, bagaimana jika lebih buruk dari mereka. Pasti hal-hal yang dilakukan oleh manusia yang lebih buruk ini akan lebih buruk pula dibanding keduanya.

Ternyata tidak demikian adanya, karena cirinya sangat sering sekali terlihat dan dialami oleh manusia. Bahkan diantara kita juga sering melakukannya. Ciri manusia yang dianggap lebih buruk dari firaun dan iblis adalah tidak mau memaafkan kesalahan orang lain.

Hal ini sangat sering terjadi dalam kehidupan. Memaafkan ternyata bukan perkara mudah. Namun bukan berarti manusia boleh tidak memberi maaf orang yang telah berbuat kesalahan.

Dikutip dari infoyunik.com, hal ini tertulis dalam kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Mishri al-Qulyubi asy-Syafi‘i. Dikisahkan, suatu kali Iblis mendatangi Fir’aun dan berkata, “Apakah kau mengenaliku?”

“Ya,” sahut Fir’aun.

“Kau telah mengalahkanku dalam satu hal.”

“Apa itu?” Tanya Fir’aun penasaran.

“Kelancanganmu mendaku sebagai tuhan. Sungguh, aku lebih tua darimu, juga lebih berpengetahuan dan lebih kuat ketimbang dirimu. Tapi aku tidak berani melakukannya.”

“Kau benar. Tapi aku akan bertobat,” kata Fira’un.

“Jangan buru-buru begitu,” bujuk Iblis la’natullah ‘alaih, “Penduduk Mesir sudah menerimamu sebagai tuhan. Jika kau bertobat, mereka akan meninggalkanmu, merangkul musuh-musuhmu, dan menghancurkan kekuasaanmu, hingga kau tesungkur dalam kehinaan.”

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyaV3ebfkI8ki1M2LrokaaBfYNbTTDsVtkjb-6kCUFGeYnKLSi_asG-4n68QjhWVQ8Dy1IMwpT_1gAGgeOEbsd1CV6xKq9cbF_buUiIzOMXpqS1Xp8ihij2sbO8Z8ol6Ct50PfsZvsVjwJ/s400/iblis.jpg

“Kau benar,” jawab Fir’aun, “Tapi, apakah kau tahu siapa penghuni muka bumi ini yang lebih buruk dari kita berdua?”

Kata Iblis, “Ya. Orang yang tidak mau menerima permintaan maaf orang lain. Ia lebih buruk dariku dan darimu.”

Memang, perkara memaafkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih jika kesalahan yang dibuat demikian menyakitkannya hingga menjadi luka yang teramat pedih. Namun hal itu bukan menjadi alasan untuk seseorang tidak memaafkan kesalahan orang lain. Karena ternyata Allah SWT akan membalas pemberi maaf dengan hal yang begitu istimewa.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang didatangi saudaranya yang hendak meminta maaf, hendaklah memaafkannya. Apakah ia berada dipihak yang benar ataukah yang salah, apabila tidak melakukan hal tersebut (memaafkan), niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat),” (HR Al-Hakim).

“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan,” (HR Ath-Thabrani).

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Sebelum Akhirnya Memutuskan Bertaubat, Mantan Gengster Ini Mimpi Alami Kiamat

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQaOayEUKHekrWZ42OJnnVADgNtiLtE7UY02RIvG51dP4Z3Fg5GCsbkLLq5wKQNPxqMBsB2Xv512YscFqNrq3_-loqqXh7u0CdI0_hPCTbFqdDlFkdv-O7Jv2sScHBXGG9eVlAQROp11c5/s1600/TTTTT.jpg

JANGAN melihat seseorang dari tampang luarnya saja. Mungkin itu yang tergambarkan kala melihat Muhamad Fadhil Husin. Meski di wajahnya terlihat tato, namun siapa sangka, pria ini kerap berdakwah.

Perjuangan Muhamad Fadhil Husin mempelajari Islam tidaklah mudah. Pasalnya dia menghabiskan waktu 8 bulan untuk belajar Al Fatihah.

“Bayangkan untuk belajar membaca surah Al Fatihah saja, saya butuh waktu hingga delapan bulan dan ketika menunaikan shalat, saya hanya bisa membaca Al Fatihah,” kata Fadhil, dikutip dari Kabarmakkah.com.

Pria berusia 29 tahun ini mengaku proses taubatnya berkat doa ibunda. Dengan doa ibunya, Fadhil merasa mendapatkan energi untuk meninggalkan dunia kelam selama menjadi bos gengster.

“Ternyata kata-kata ibu doa buat saya. Ketika itu dia memberitahu saya keluarlah kalau perkara itu baik dan jangan kembali,” ungkapnya.

Sebelum bertobat, Fadil memang dikenal sangat dekat dengan dunia hitam dan kekerasan. Di usia 12 tahun, kelakuannya sudah kejam dan ganas. Kala itu, dia menggunakan sebatang kayu untuk menganiaya lelaki yang sudah beruisa dewasa hingga terluka parah.

Akibat perbuatan tersebut dia sudah merasakan dinginnya jeruji besi. Dan saat itu pula, dia langsung menggambar seluruh tubuhnya dengan beragam gambar.

Di usia 22 tahun, Fadhil hampir saja mati, ketika itu ia dihajar  oleh massa bersenjata kayu dan senjata tajam. Fadhil memang dibesarkan dalam lingkungan yang keras.

Menjadi bos gengster merupakan satu-satunya pilihan karena dia diasuh oleh keluarga yang percaya kejahatan merupakan satu-satunya cara untuk bertahan dalam hidup.

“Saya tak peduli apa nasihat emak. Malah saya tak pedulikan Allah,” kenang Fadhil.

Mimpi Kiamat

Keluar dari jeruji besi, Fadhil langsung bergabung dengan gengster China Singapura, yang bergelimang uang, alkohol, dan narkoba. Di samping bergelimang kejahatan tentunya.

“Selain maksiat dan narkoba, saya kerap makan babi,” katanya.

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Meski Fadhil keluar masuk penjara, serta kerap berhadapan dengan maut, akhirnya lelaki ini disadarkan oleh Allah melalui sebuah mimpi.

“Saya mimpi seperti kiamat, dilanda ombak besar, dan hanyut lalu terdampar bersendirian.”

“Sebulan setelah mimpi itu, saya tak keluar rumah kerana takut datangnya kiamat.



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Ketika Syekh Memerintahkan Rumi Untuk Membeli Khamr

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwt-rWnqBKbO6P9X4m7zYKc5LRjDAC-BhnaZtqblwl0paDHjOEOiocUPXMqmwzdeU3vWlHp_tTxwbIftYckOdJLTtoB63eTQNNPAt3Q-x7fNxjHd8a9CWF-m-zXfGpSERzOTIb_7zNMl0F/w1200-h630-p-nu/Kisah+Syekh+Barshisho%252C+Mati+Tanpa+Iman+Akibat+Minum+Khamr.jpg

SUATU malam, Maulana Jalaluddin Rumi mengundang Syams Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Maulana.

Setelah semua hidangan makan malam siap, Syams berkata pada Rumi, “Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?” (yang dimaksud adalah khamr).

Maulana kaget mendengarnya, “Memangnya Anda juga minum?”

“Iya,” jawab Syams.

Maulana masih terkejut, “Maaf, saya tidak mengetahui hal ini.”

“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah,” jawab Syekh.

“Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak?”

“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya.”

“Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang.”

“Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman.”

“Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”

“Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur.”

Karena kecintaan pada Syams, akhirnya Maulana memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani.1

Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar.

Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak. Hingga sampailah Maulana di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak, “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin yang setiap hari jadi imam shalat kalian baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman.”

Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Maulana. Khalayak melihat botol yang dipegang Maulana.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6tGnbYt3mEhnP19_1h_iUz9DuiNkHAaoBUIhJSqhCmgD7j5hhnxayQLi-GXejul5XfUmhoPG2DUuQDgci6n0KZqXLE4IO1u6elOUy7UO4zfsd7AJieP_A8eySmUIulnm5nhjJdeWc4YUj/s320/wine.png

“Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli arak dan akan dibawa pulang,” orang itu menambahi siarannya.

Orang-orang bergantian meludahi muka Maulana dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya. Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Syams Tabrizi, “Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan.”

Seseorang dari mereka masih mengelak.

“Ini bukan cuka, ini arak,” Syams mengambil botol dan membuka tutupnya. Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka.

Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Maulana. Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Maulana hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Rumi berkata pada Syams, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini?”

“Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi? Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat.”

Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman.


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Saat Anjing pun Murka pada Penghina Rasulullah


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhN9NJxQZHlVhEINvPxk-Lo79QezY3NtEb8wYzcPzFpRPYQzNWl3MxItq5RUdFAo6wUKyuEdwWwbTre-HaoIqm9X-G6hSegMSlVnnhFoehxwa-hEkUabml2TcPdyqlodmcBh85Mdn6_/s1600/10.jpg

AL-IMAM Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah bercerita dalam kitabnya:

Pernah suatu hari ada sekelompok orang dari kalangan pembesar Nashrani menghadiri sebuah perayaan seorang pemimpin Mongol yang telah murtad (menjadi Nashrani).

Dan pada perayaan itu ada seorang pendeta yang menghina Nabi shalallahu alaihi wassalam, sedangkan di sana ada seekor anjing pemburu yang terikat.

Maka saat si penyembah salib yang dengki ini mulai mencela Nabi shalallahu alaihi wassalam, anjing tersebut menggonggong dengan keras lalu kemudian menerkam si Nashrani itu dan mencakar wajahnya.

Maka orang-orang yang melihatnya terkejut dan segera berusaha menyelamatkannya. Lantas sebagian orang yang hadir berkata: “Itu diakibatkan hinaanmu kepada Muhammad shalallahu alaihi wassalam.”

Lantas si Nashrani berkata: “Tidak, anjing ini hanya spontanitas karena melihat isyarat tanganku dan disangkanya aku ingin memukulnya.”

Namun kemudian Si Nashrani ini mengulang kembali celaannya terhadap Nabi shalallahu alaihi wassalam dengan perkataannya yang sangat keji. Maka si anjing pun berhasil lepas dari ikatannya dan langsung saja menyambar leher si Nashrani itu dan merobek hingga bagian dadanya yang paling atas.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXWlVevwhxj8OLa5SHUHERk6XQ-zLlx1CNYzbcPBPUcIZ1alNqPYiFXoFtufbTrl1ThgCHpRYbbTRxcTMo-bO9qHlsoSEHZGV-CDaWQQd-DGafdZle6oE2B-oMiepgpQpYvuuKZlnqjWg/s1600/Gunung+Salju+dan+Gurun+Pasir.jpg

Orang itu pun mati seketika.

Karena kejadian ini, ada sekitar 40.000 orang Mongol masuk Islam.

Di zaman kita, apakah anjing lebih mulia dan lebih pemberani daripada manusia?

(Al Haafidz Imam Ibnu Hajar Al Asqolany di dalam kitab “AdDurarurl Kaaminah Fi A’ayaanil Miati Tsaaminah” Jilid 4 Halaman 153).

قصة الكلاب الذى انقض على النصراني الذى شتم النبي
ابن حجر العسقلاني
أَن بعض أُمَرَاء الْمغل تنصر فَحَضَرَ عِنْده جمَاعَة من كبار النَّصَارَى والمغل فَجعل وَاحِد مِنْهُم ينتقص النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَهُنَاكَ كلب صيد مربوط فَلَمَّا أَكثر من ذَلِك وثب عَلَيْهِ الْكَلْب فخمشه فخلصوه مِنْهُ وَقَالَ بعض من حضر هَذَا بكلامك فِي مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَقَالَ كلا بل هَذَا الْكَلْب عَزِيز النَّفس وَآل أُشير بيَدي فَظن أَنِّي أُرِيد أَن أضربه ثمَّ عَاد إِلَى مَا كَانَ فِيهِ فَأطَال فَوَثَبَ الْكَلْب مرّة أُخْرَى فَقبض على زردمته فقلعها فَمَاتَ من حِينه فَأسلم بِسَبَب ذَلِك نَحْو أَرْبَعِينَ ألفا من الْمغل
ابن حجر العسقلاني، الدرر الكامنة في أعيان المائة الثامنة، ت محمد عبد المعيد ضان، مجلس دائرة المعارف العثمانية، صيدر اباد – الهند، الطبعة الثانية 1392هـ/ 1972م ج 4 ص 153.

“Jangan sampai seekor anjing masih lebih mulia karena membela kehormatan Nabi shalallahu alaihi wassalam, dibanding yang mengaku muslim tapi membela penghina Al-Qur’an.”

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !