Showing posts with label Foto. Show all posts
Showing posts with label Foto. Show all posts

Friday, November 4, 2016

Masya Allah, Perhatikan ! ini tanda Allah Ridha dan Melindungi AKSI bela Islam Hari ini





ALLAHUAKBAR !

Foto 360, gerakkan HP Anda atau geser dengan jari. Sungguh sangat aneh di siang hari bolong jam 13.30, tidak banyak awan, tapi tidak ada matahari sehingga cuaca sejuk.

Semoga merupakan tanda Allah meridhoi umat Islam yang melakukan aksi. Matahari baru muncul setelah habis ashar, sehingga suasana tetap sejuk.


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Subhanallah! Sang Merah Putih Raksasa Simbol Keadilan Dibentangkan ditengah Pedemo 4 November


Dari berbagai penjuru, pendemo berdatangan ke Istana guna menyampaikan orasi. 
Ditengah pendemo Bendera Merah Putih raksasa dipajang sebagai simbol keadilan.(dtk)








Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Allahu Akbar ! Massa Demo 4 November Padati Bundaran Patung Kuda

Massa pendemo 4 November memadati Bundaran Patung Arjuna Wijaya alias Patung Kuda Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (4/11/2016).










Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Wednesday, November 2, 2016

Allahuakbar, di Masjid Ini Sudah 1.500 Warga Tionghoa Masuk Islam

Melewati Jalan Lautze, Sawah Besar, Pasar Baru, Jakarta, mata akan tertuju pada salah satu bangunan. Bangunannya mirip kelenteng.
Itulah Masjid Lautze yang sangat terkenal. Letaknya di Jalan Lautze 87. Bangunannya berada kawasan pecinan. Lautze artinya guru atau orang bijak.
Masjid tersebut didirikan oleh lelaki keturunan bernama Junus Jahja. Junus merupakan mantan anggota Dewan Pertimbangan Agung era Presiden B. J. Habibie.



Masjid yang namanya sama sekali tak berbau Arab tersebut dikelola oleh Yayasan Haji Karim Oei.

Memasuki masjid yang terdiri dari empat lantai, pengunjung akan merasakan nuansa Tionghoa. Hiasan lampion ada di masuk, warna bangunannya merah, hijau, dan kuning.
Ada satu hal yang paling terkenal di masjid ini. Di masjid inilah banyak keturunan yang masuk Islam. Mereka mengucapkan dua kalimat syahadat di sana.
Salah satu mualaf yang juga jamaah Masjid Lautze bernama Ahmad Naga Kunadi.


naga mengatakan tujuan pembangunan Masjid Lautze ialah untuk mendorong asimilasi suku Tionghoa ke masyarakat Indonesia. Melalui agama Islam, kata dia, tidak ada sekat perbedaan Tionghoa dan masyarakat Indonesia yang secara umum muslim
"Dulu pendiri Pak Junus Jahja sebagai tokoh pembauran. Gerakan pembauran makanya etnis Tionghoa bisa bersatu, itu tujuan awal pendirian masjid. Jadi seiring dengan berkembanganya zaman, Masjid Lautze lebih sering dikenal kepada proses pengislaman sendiri," ujar Naga kepada Suara.com, Jumat (1/7/2016) petang.
Masjid Lautze menjadi tempat syiar Islam di komunitas Tionghoa Indonesia.
"Karena ternyata dengan mensyiarkan Islam secara murni, secara otomatis target pembauran terjadi, nggak usah harus didoktrin atau diarahkan untuk berbaur. Ternyata begitu masuk Islam otomatis berbaur, sehingga nggak ada lagi sekat-sekat," kata dia.



Naga bercerita. Sebagian orang Tionghoa ketika itu memutuskan masuk Islam karena ingin menikah dengan pribumi muslim. Namun seiring berjalannya waktu, semakin banyak warga Tionghoa yang jadi mualaf karena memang panggilan jiwa.
"Seiring berjalannya waktu yang kita rasakan, ada perubahan arah mata anginlah, nggak semua orang (Tionghoa) yang pindah agama semuanya ingin menikah dengan pasangan yang pribumi. Banyak teman kita karena mereka masuk Islam pangggilan iman, karena mereka melihat agama Islam adalah agama yang paling cocok lah," Naga yang jadi mualaf tahun 2002.



Naga mengungkapkan sampai hari ini sudah ada sekitar 1.500 warga Tionghoa yang masuk Islam di Masjid Lautze.
Pada tahun 2015 saja, ada 88 orang yang masuk Islam. Dan tahun ini, sejak Januari hingga Juni sudah ada 37 orang.
"Alhamdulillah setiap minggu ada yang menjadi mualaf di masjid ini. Target kita ingin mengislamkan orang Tionghoa," kata dia.




Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Tuesday, November 1, 2016

10 Foto Transformasi Kota-Kota Besar Dulu Dan Sekarang

Seiring perkembangan zaman, daerah perkotaan pun mengalami perubahan yang besar. Hal itu juga didorong oleh faktor bertambahnya penduduk suatu kota dan banyaknya didirikan lapangan pekerjaan.

Dalam 100 tahun terakhir, beberapa kota besar di dunia mengalami perkembangan yang sangat pesat, seperti Kuala Lumpur di Malaysia, Dubai di Uni Emirat Arab, dan Seoul di Korea Selatan. Pemandangan kota-kota tersebut antara dulu dan sekarang tentu sangat jauh berbeda.

Berikut ini ada beberapa foto transformasi kota-kota besar antara dulu dan sekarang, yang menunjukkan bahwa dunia ini semakin lama semakin maju tapi semakin padat saja.

1. Dubai - Uni Emirat Arab


2. Seoul - Korea Selatan


3. Abu Dhabi - Uni Emirat Arab


4. Singapura - Republik Singapura


5. Tokyo - Jepang


6. Rio de Janeiro - Brazil


7. Sydney, Australia


8. Berlin - Jerman


9. Jakarta - Indonesia


10. Kuala Lumpur, Malaysia


Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Monday, October 31, 2016

Masjid Syiah di Iran Ini Buat Anda Terkagum Saat Memasukinya,



Masjid adalah tempat ibadah bagi umat Islam. Maka tidak heran, jika banyak bangunan masjid dibuat dengan sangat indah, megah, dan unik. Dan di berbagai belahan dunia, bangunan masjid akan menyesuaikan dengan kebudayaan setempat.

Bahkan ada juga masjid yang terbuat dari tanah liat, menyerupai klenteng, hingga dilapisi oleh emas. Hal tersebut utamanya untuk membuat setiap muslim betah untuk datang dan beribadah di masjid.

Tetapi masjid yang satu ini sungguh unik, meskipun dari tampilan luarnya tampak biasa dan tidak ada yang unik. Tetapi saat Anda memasukinya, akan dibuat berdecak kagum dan mengetakan "Subhanallah." Penasaran?

Adalah masjid Shah Cheragh yang berada dalam komplek pemakaman di Shiraz, Iran. Jika diterjemahkan, Shah Cheragh adalah "King of the Light," dan sangat mudah untuk mengetahui jika Anda masuk ke dalamnya.

Interior masjid indah ini terdiri dari jutaan pecahan kaca cermin kecil yang akan memantulkan cahaya ke segala arah.

Masjid ini memiliki masa lalu yang agak misterius. Menurut salah satu cerita, sekitar tahun 900 Masehi, traveler melihat sesuatu yang bersinar dari kejauhan. Dia mendekati area untuk menyelidiki dan menemukan sebuah kuburan yang diterangi.

Satu mayat ditemukan yang dilapisi baju baja, dan diperkirakan tokoh Muslim yang snagat penting. Dan kini, masjid ini menjadi tujuan ziarah bagi umat Islam, terutama Syiah yang memang banyak di Iran.

Meskipun Shah Cheragh telah rusak oleh orang-orang usil, alam, dan waktu, banyak perbaikan terus dilakukan sampai hari ini. Dan masjid ini menjadi salah satu menarik peziarah dan wisatawan dari seluruh dunia.


foto: boredpanda.com/



Kubah yang terlihat dari dalam masjid, begitu indah dengan gemerlapnya cahaya dari pantulan kaca.






Salah satu dekorasi, berupa lampu gantung yang indah dan juga besar terbuat dari kaca kristal yang membuat pengunjung betah berlama-lama.



 

 







Menghias Masjid, Haramkah?


Menghias Masjid, Haramkah?” ketegori Muslim. Ust. ketika saya berceramah di suatu masjid, seorang ibu bertanya kepada saya, apakah memang tidak dibolehkan untuk memasang kaligrafi di masjid? Ibu ini bilang ia mendengar dari khutbah Jumat, mubalighnya bilang memasang kaligrafi di masjid tidak dibolehkan. Sehingga di masjid tempat saya menjadi pembicara itu pun tidak ada kaligrafinya. Apa emang ada nash yang melarang, ustadz? Terima kasih.
Nurlinawati


Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Masalah menghias masjid memang diperselisihkan para ulama di masa lalu. Namun perselisihan mereka berangkat dari kenyataan bahwa hiasan itu sangat mahal, karena terbuat dari ukiran kaligrasi dan aksesorisnya yang terbuat dari emas dan perak. Hiasan seperti itu tentu sangat mahal harganya, bahkan untuk ukuran seorang penguasa sekalipun.

Adapun hiasan yang biasa kita lihat di masjid-masjid di sekeliling kita ini, tidak lain hanya terbuat dari cat tembok. Indah memang, tetapi hanya imitasi belaka. Bukan emas dan perak seperti di masa lalu. Kalau hanya berupa kaligrafi dengan cat tembok, rasanya tidak ada nash yang secara langsung melarangnya. Sebaliknya, bila hiasan itu sampai menghabiskan dana yang teramat mahal, karena harus menghabiskan emas berton-ton, banyak para ulama di masa lalu yang memakruhkannya, bahkan sampai mengharamkannya.

Apalagi mengingat bahwa masjid nabawi di masa Rasulullah SAW itu sangat sederhana. Hanya sebagiannya yang beratap, itupun hanya berupa daun kurma. Alasnyabukan marmer, tetapi tanah atau pasir. Tiangnya bukan beton tetapi hanya batang-batang kurma. Dan hal itu terjadi hingga masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun. Barulah pada masa khilafah Al-Walid bin Abdil Malik, masjid-masijd dihias dengan berlebihan, yaitu dengan ukiran kaligrafi dari emas dan perak.


Realitas ini kemudian disimpulkan oleh sebagian ulama sebagai isyarat tidak bolehnya kita menghias masjid dengan hiasan yang mewah. Bahkan oleh sebagiannya dianggap bid’ah, buang harta dan haram. Namun masalah ini memang sejak awal termasuk masalah khilaf pada fuqaha. Bahkan ke-empat imam mazhab utama pun tidak seragam pendapatnya.


1. Al-Hanafiyah

Al-Hanafiyah beranggapan bahwa tidak mengapa untuk menghias masjid dengan beragam ukiran dan kaligrafi. Asalkan bukan pada bagian mihrabnya. Alasannya, agar orang yang shalat tidak terganggu konsentrasinya. Yang dimaksud ukiran di masjid adalah membuat hiasan dengan tatahan emas atau perak.

Namun bila dana yang digunakan untuk hiasan itu berasal dari harta waqaf secara umum yang niatnya untuk masjid, menurut beliau hukumnya haram. Jadi yang boleh adalah harta dari seseorang yang niatnya memang untuk keperluan perhiasan itu.


2. Al-Malikiyah

Al-Malikiyah memakruhkan penghiasan dinding masjid, termasuk atapnya, kayunya dan hijabnya, bila hiasan itu terbuat dari emas atau perak dan bila sampai mengganngu konsentrasi para jamah yang shalat. Namun bila hiasan itu di luar apa yang disebutkan, tidak ada kemakruhannya.

3. As-Syafi’iyah

Mazhab As-Syafi’iyah sebagaimana yang disebutkan oleh Az-Zarkasyi mengemukakan bahwa mengukir masjid itu hukumnya makruh, terutama bila menggunakan harta waqaf yang diperuntukkan buat masjid secara umum. Sebab harta waqaf buat mereka tidak boleh diubah pemanfaatannya begitu saja.


4. Al-HanabilahAl-Hanabilah adalah satu-satunya mazhab yang tegas mengharamkan penghiasan masjid. Buat mereka, bila masjid sudah terlanjur dihias dengan emas dan perak, wajib untuk dicopot.
Pendapat mereka ini dikuatkan juga dengan hadits berikut:


لا تقوم الساعة حتى يَتَباهَى الناس في المساجد
Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali orang-orang berbangga-bangga dengan masjid.

Para ulama banyak yang memaknai sabda Rasulullah SAW tentang berbangga-bangga dengan masjid ini sebagai bentuk penghiasan masjid dengan ukiran/kaligrafi emas dan perak pada dindingnya. Dan oleh sebagian ulama dijadikan sebagai isyarat tidak bolehnya kita menghias masjid dengan hiasan yang mewah.

Jadi barangkali para takmir di masjid tempat Anda ceramah itu cenderung kepada pendapat mazhab Hanabilah yang secara tegas mengharamkan penghiasan masjid. Meskipun sesungguhnya konteks di masa lalu adalah hiasan yang terbuat dari emas dan perak.

Sedangkan yang bukan terbuat dari emas dan perak, kelihatannya tidak terlalu menjadi masalah, apalagi bila kita perhatikan masjid Al-Haram Makkah dan Madinah, di mana keduanya dihias dengan marmer yang pasti harganya sangat mahal. Demikian juga Ka’bah al-Musyarrafah yang dihias dengan kalirafi indah terbuat dari benang emas dan kain sutera. Sementara umumnya mufti dan penduduk Saudi Arabia adalah pemeluk mazhab Al-Hanabilah. Belum pasti, apakah mereka diam saja karena takut atau setuju.

Tapi sekali lagi, masalah ini memang merupakan perbedaan pendapat di kalangan para ulama, baik di masa lalu maupun masa sekarang ini. Kita tidak perlu terperosok pada perdebatan panjang masalah ini, karena masing-masing punya dalil yang mereka yakini kebenarannya.

Wallahu a’lam bish-shawabAssalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,


Ahmad Sarwat, Lc.
Sumber Menghias Masjid, Haramkah? : http://www.salaf.web.id



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

Sunday, October 30, 2016

Hormati Sapi, Warga Hindu Nepal Gelar Festival Tihar



Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !